- Warga Lorong 103 Timur, Koja, Jakarta Utara mengubah selokan yang kotor menjadi kolam ikan nila, mujair, dan mas koki.
- Inisiatif pembersihan dimulai sekitar tahun 2019 di bawah kepemimpinan Ketua RT Ismet dan sekretaris Arif Budiman.
- Kolam ikan kini berfungsi menjaga lingkungan serta menjadi tempat bermain dan pengawasan bagi anak-anak setempat.
Suara.com - Cerah. Satu kata yang menggambarkan saat aku melangkah di Lorong 103 Timur, Koja, Jakarta Utara.
RASA penasaran membawaku ke sana—tentang sebuah cerita kecil namun penuh daya hidup, bagaimana warga setempat menyulap selokan air menjadi kolam ikan yang bernyawa.
Begitu kakiku menjejak lorong sempit itu, hiruk-pikuk langsung menyergap. Deru kendaraan bercampur dengan teriakan riang anak-anak yang berlarian di sepanjang sisi gedung bekas Ramayana yang kini membisu. Tepat di samping bangunan tua itu, sebuah selokan memanjang tampak tak lagi sekadar saluran air. Di dalamnya, ikan nila, mujair, hingga mas koki meliuk gemulai, seolah acuh pada kerasnya kehidupan di atas permukaan air.
Di sanalah aku bertemu Muhammad Arif Budiman, Ketua RT 009, sosok yang menjadi penggerak utama perubahan ini. Dengan tutur yang tenang namun sarat semangat, ia mengajakku menengok kembali ke tahun 2019—masa ketika selokan itu masih identik dengan masalah klasik ibu kota.
Sebelum ikan-ikan berwarna itu berenang tenang, selokan di Lorong 103 Timur adalah ruang yang nyaris tak pernah dibayangkan sebagai tempat hidup. Tempat semua aliran air bermuara setiap kali hujan turun.
Saat itu, Ketua RT masih dijabat seorang lelaki yang akrab dipanggil Ismet. Arif belum menjadi RT seperti sekarang. Ia adalah sekretaris RT, yang ikut mendampingi dan terlibat langsung dalam setiap upaya pembenahan yang dilakukan. Bersama Ismet, ia menyaksikan bagaimana selokan itu menjadi sumber keluhan warga.
Airnya gelap. Di dasarnya, lumpur mengendap tebal, bercampur dengan akar-akar pohon besar yang menjulur ke bawah dan menghambat aliran. Ketika hujan datang, air meluap dan menggenang. Bau menyebar perlahan, menandai selokan yang tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Di ujung gang, deretan pedagang kaki lima ikut memperparah keadaan. Sampah dari aktivitas mereka menumpuk dan menyumbat aliran. Protes warga pun mengarah ke pengurus RT. Tekanan itu menjadi alasan mengapa Ismet, bersama Arif dan pengurus lainnya, mulai bergerak.
Pada masa tertentu, air selokan membawa cairan sisa aktivitas usaha. Setiap pagi, aliran berwarna putih mengalir pelan. Ketika matahari meninggi, warnanya berubah—memerah, seperti hasil fermentasi. Bagi Arif, itu menjadi tanda bahwa selokan menyimpan persoalan yang lebih dalam.
Baca Juga: Aksi Bersih-bersih Sampah di Pesisir Muara Baru
Belakangan diketahui, masih ada saluran pembuangan yang belum memiliki septic tank. Limbah mengalir langsung ke selokan, memperkeruh air dan menambah beban. Selokan itu menjadi tempat bertemunya berbagai masalah lingkungan yang lama dibiarkan.
Melalui kerja bakti bersama warga, pohon-pohon dirapikan, sampah diangkat, dan pedagang ditertibkan.
Pengurus RT bekerja sama dengan pihak kelurahan dan instansi terkait untuk membersihkan selokan hingga benar-benar bersih. Perlahan, air kembali mengalir. Genangan berkurang. Selokan yang semula mati mulai bernapas.
Setelah dirapikan bersama warga dan instansi terkait, selokan yang tadinya kumuh mulai bersinar. Dari situ denyut kehidupan baru bermula.
Setelah proses itulah, pada masa kepemimpinan Ismet—dengan Arif yang mendampingi sebagai sekretaris—muncul gagasan awal menjadikan selokan ini lebih dari sekadar saluran air. Gagasan yang kelak berkembang menjadi kolam ikan, dan bertahan hingga hari ini.
“Nah setelah bersih, ternyata ini di 17 Agustus itu kita pakai buat lomba. Ya lomba mancing ikan. Waktu itu RT, pihak RT menyediakan 4 sampai 5 kilo ekor ikan lele,” kenang Arif, Selasa (19/1/2026).
Berita Terkait
-
Imbas Cuaca Ekstrem, Pantai Kuta Bali Dibanjiri Sampah
-
137 Ton Sampah Diangkut dari Tanggul Muara Baru, DLH DKI Targetkan 5 Hari Selesai
-
Pakar Ingatkan Bahaya Konsumsi Ikan dari Perairan Tercemar Sampah Muara Baru
-
Pakar Kesehatan Soroti Bahaya Lautan Sampah Muara Baru bagi Warga Pesisir
-
Wali Kota Ungkap Penyebab Daratan Sampah di Tanggul NCICD Muara Baru
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim