- Penutupan Kebun Binatang Bandung berpotensi rugikan keuangan daerah serta memicu aktivitas tidak resmi di kawasan tersebut.
- YMT mendesak keputusan cepat dan jelas untuk normalisasi operasional kebun binatang sebagai aset strategis kota.
- Tingginya minat masyarakat saat penutupan berisiko menimbulkan pungutan liar tanpa perlindungan asuransi jelas.
Suara.com - Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) menilai penutupan Kebun Binatang Bandung yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi menimbulkan kerugian serius bagi keuangan daerah. Selain menghambat pemasukan asli daerah (PAD), kondisi tersebut juga dinilai membuka celah aktivitas tidak resmi di kawasan wisata tersebut.
Ketua Pengurus YMT John Sumampauw menegaskan, diperlukan keputusan yang jelas dan cepat agar operasional Bandung Zoo dapat dinormalisasi kembali. Menurut dia, kebun binatang merupakan aset strategis milik pemerintah daerah yang semestinya berfungsi optimal bagi kepentingan publik.
“Perlu adanya kejelasan, dan itu harus segera. Kejelasan bagaimana kita bisa melakukan normalisasi sehingga PAD Kota Bandung dan masyarakat Bandung bisa segera menikmati kembali berkunjung ke Kebun Binatang,” kata John di Bandung, seperti dikutip dari Antara, Rabu.
Ia menyebut kebun binatang memiliki peran penting dalam mendukung sektor pariwisata dan perekonomian daerah. Jika dibiarkan tertutup tanpa kepastian, potensi kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara akan terus terhambat.
John juga menilai polemik yang tak kunjung selesai hanya akan memperpanjang ketidakpastian tanpa memberi manfaat bagi pihak mana pun, terlebih ketika proses hukum dinilainya sudah berada pada tahap yang jelas.
“Kalau kita terus ribut seperti ini, tidak ada yang diuntungkan. Justru ini semakin berlarut-larut, padahal semua organ penegak hukum sudah sangat kuat,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menyoroti tingginya animo masyarakat untuk tetap datang ke Bandung Zoo meskipun statusnya resmi ditutup. Situasi tersebut, menurut John, berpotensi memunculkan pungutan liar karena aktivitas berlangsung di luar mekanisme resmi pemerintah.
“Animonya sangat tinggi, apalagi di akhir tahun. Tapi pemerintah dapat apa? Kalau hanya ditonton dan dinikmati oleh segelintir orang, bahkan dengan pungutan-pungutan yang tidak jelas,” katanya.
Ia mempertanyakan siapa yang akan bertanggung jawab apabila terjadi insiden di area kebun binatang dalam kondisi operasional yang tidak jelas, termasuk aspek perlindungan asuransi serta kewajiban pajak dari pungutan yang beredar.
Baca Juga: Gol Cepat Beckham Putra ke Gawang Persija Jadi Ajang Pembuktian Khusus bagi John Herdman
Menurut John, secara ekologis dan geografis, Bandung masih sangat layak memiliki kebun binatang. Lingkungan yang hijau dan keberadaan pepohonan besar dinilai mendukung fungsi konservasi sekaligus rekreasi.
“Perpaduan antara alam yang luar biasa dan satwa sangat cocok untuk kebun binatang. Kalau diubah menjadi fungsi lain, saya belum melihat contoh yang benar-benar sukses dan berkelanjutan secara ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, Bandung Zoo bukan sekadar tempat wisata, melainkan bagian dari sejarah kota yang telah bertahan puluhan tahun dan seharusnya dikelola secara profesional demi kepentingan jangka panjang Kota Bandung dan warganya.
Berita Terkait
-
Gol Cepat Beckham Putra ke Gawang Persija Jadi Ajang Pembuktian Khusus bagi John Herdman
-
Umuh Muchtar Pastikan Persib Rekrut Pemain Asing Baru, Besok Sudah Ikut Latihan?
-
Proliga 2026 Seri Bandung: Jakarta Livin Mandiri Tanpa Kepastian Naisya Pratama
-
Berguinho Siap Kerja Keras Jaga Posisi Persib Bandung
-
Media Eropa: Kemungkinan Layvin Kurzawa Teken Kontrak Persib Bandung Akhir Pekan
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian