- Kediaman Presiden Prabowo di Hambalang menjadi pusat konsolidasi tokoh, di mana Said Didu melihat sinyal dialog dengan pihak kritis.
- Said Didu menyoroti perbedaan pertemuan Prabowo dengan Apindo industri dan lima konglomerat pengeruk sumber daya alam.
- Emil Salim khawatir pemerintahan Prabowo berjalan one man show tanpa pemikir ekonomi sentral sekuat era Soeharto.
Suara.com - Kediaman Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat, belakangan menjadi pusat konsolidasi berbagai tokoh bangsa. Mantan Staf Khusus Menteri ESDM periode 2014–2016, Said Didu, membeberkan sejumlah dinamika menarik dari rangkaian pertemuan yang berlangsung di lokasi tersebut, mulai dari kedatangan tokoh agama hingga dua kelompok pengusaha dengan karakter yang berbeda.
Menurut Said Didu, terdapat sinyal positif dari Presiden Prabowo yang dinilai mulai membuka ruang dialog dengan pihak-pihak yang selama ini kerap dianggap berseberangan atau kritis terhadap pemerintah.
“Saya melihat ada tanda baru dari Presiden Prabowo adalah membuka pintu untuk berdiskusi dengan orang-orang yang selama ini dianggap berseberangan,” ujar Said Didu dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (25/2/2026).
Sorotan utama Said Didu tertuju pada pertemuan Presiden dengan kalangan pengusaha. Ia menilai ada perbedaan mencolok antara pertemuan Prabowo dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang dipimpin Sofjan Wanandi dan pertemuan dengan lima konglomerat besar.
Berdasarkan informasi yang ia ketahui, Sofjan Wanandi dan jajaran Apindo hadir ke Hambalang karena diundang langsung oleh Presiden. Sementara itu, kelompok lima konglomerat tersebut disebut hadir setelah meminta waktu untuk bertemu.
Said Didu juga menyoroti perbedaan fundamental antara dua kelompok pengusaha tersebut. Menurutnya, publik perlu memahami perbedaan antara pengusaha yang membangun industri dan pengusaha yang dinilai hanya mengeruk kekayaan alam.
“Apindo itu sebenarnya organisasi pengusaha-pengusaha yang punya industri, bukan pengusaha-pengusaha yang mengambil dari negara dan rakyat, itu berbeda. Nah, kalau yang mengambil dari negara dan rakyat itu adalah tambang, perkebunan, real estate, laut, pagar laut, dan lain-lain, itu pengusaha-pengusaha yang mengambil dari negara dan rakyat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kelompok pengusaha ekstraktif atau yang bergerak pada sektor pengerukan sumber daya umumnya memiliki manuver tersendiri dan tidak selalu berafiliasi secara murni dengan organisasi seperti Apindo.
Selain itu, Said Didu turut menceritakan hasil pertemuannya dengan ekonom senior sekaligus mantan menteri era Orde Baru, Emil Salim. Dari pertemuan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa pemerintahan saat ini cenderung berjalan secara “one man show” atau bertumpu pada kendali tunggal Presiden, tanpa kehadiran sosok pemikir ekonomi sentral yang kuat dan berani menyampaikan argumen.
Baca Juga: Alfamart-Indomaret Tak Boleh Ekspansi, Kopdes Merah Putih Prabowo Takut Tersaingi?
Emil Salim, kata Said Didu, mengingatkan bahwa pada era Presiden Soeharto, pemerintahan ditopang oleh para teknokrat berkaliber besar yang memiliki pengaruh kuat dan dihormati oleh Presiden.
“Emil Salim betul-betul mengingatkan bahwa dulu Pak Harto itu ada sosok seperti Wijoyo (Prof. Widjojo Nitisastro) dengan konsep Widjojonomics, kemudian sekarang itu sama sekali tidak ada dan di Presiden adalah one man show,” ungkapnya.
Karena itu, Said Didu menyimpulkan bahwa harapan besar publik terhadap kepemimpinan Prabowo Subianto dapat terwujud apabila Presiden didukung oleh para pembantu yang kapabel, berintegritas, serta sejalan dengan visi dan misinya.
“Prabowo ini ada harapan asal sebenarnya memang dibantu oleh orang-orang yang kapabel yang tentunya sesuai dengan visi dan misi dia. Beliau punya integritas, punya nasionalisme, punya patriotisme,” pungkasnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- 5 Rekomendasi Lipstik Anti Luntur Saat Dipakai Makan Gorengan
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Alarm Bahaya! Ratusan Siswa di 26 Provinsi Terpapar Radikalisme Lewat Medsos dan Game Online
-
Ketua MUI Soal Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN: Sah Secara Syar'i
-
DPR Murka! Skandal Riset Palsu WNI di Denmark Hancurkan Marwah Akademisi RI
-
Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan
-
Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku
-
Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi
-
Militer AS Bom Kapal Diduga Bermuatan Narkotika di Samudera Pasifik: 1 Tewas 2 Selamat
-
Si Loreng dan Wirabumi: Sapi Kurban Jumbo Prabowo-Gibran yang Curi Perhatian di Istiqlal
-
Harga Domba Capai Rp76 Juta! Cerita Miris Idul Adha 2026 Umat Muslim Gaza
-
Intip Momen Iduladha Prabowo di Paris: Salat Bareng Diaspora hingga Santap Bersama