- Patroli gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP memperketat pengamanan Jakarta untuk memastikan SOTR kondusif dan tidak mengganggu ketertiban umum.
- SOTR yang semula tradisi kepedulian sosial kini sering menjadi ajang hiburan malam, berpotensi melanggar ketertiban dan nilai agama.
- Video SOTR viral di Jombang menampilkan sound horeg dan penari seksi, memicu kritik keras karena dianggap menodai kesucian Ramadan.
Suara.com - Di tengah kekhidmatan bulan suci, patroli gabungan TNI, Polri dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) memperketat pengamanan ibu kota dengan rutin menyisir jalanan setiap malam. Langkah ini dilakukan secara intensif demi memastikan kegiatan Sahur On The Road (SOTR) tetap kondusif dan tidak mengganggu ketertiban umum di Jakarta.
Sementara itu, publik justru dihebohkan oleh sebuah video viral dari Jombang yang menampilkan arak-arakan sahur dengan dentuman sound horeg dan kehadiran penari seksi. Aksi tersebut menuai kritik tajam karena dinilai telah melenceng jauh dari nilai-nilai religius serta mencederai kesucian bulan Ramadan.
SOTR: Tradisi Lama yang Berubah Wajah
Sahur On The Road atau SOTR pada mulanya berakar dari tradisi hangat masyarakat pedesaan yang berkeliling kampung untuk membangunkan warga agar tidak melewatkan waktu makan sahur. Kegiatan yang mulanya bersifat komunal dan sederhana ini merupakan bentuk kepedulian sosial guna memastikan setiap tetangga dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini bermigrasi ke wilayah perkotaan dan bertransformasi menjadi konvoi kendaraan bermotor yang melibatkan berbagai komunitas dalam skala besar. Ruang-ruang publik dan jalanan protokol kini menjadi saksi bisu berkumpulnya massa dalam acara-acara nonformal yang dikemas dengan nuansa keramaian kota.
Transformasi tersebut akhirnya membawa pergeseran fungsi yang cukup signifikan, di mana nilai syiar agama yang kental perlahan mulai memudar. SOTR kini lebih sering dipandang sebagai ajang hiburan malam bagi kalangan muda dan gaya hidup Ramadan di kota besar yang terkadang menjauh dari esensi spiritualitas bulan suci.
Kenapa Jakarta Memperketat SOTR Tahun Ini?
Pengetatan SOTR di Jakarta tahun ini terutama didorong instruksi sang Gubernur, Pramono Anung, untuk menekan potensi tawuran dan gesekan antarkelompok yang kerap terjadi di jalanan pada dini hari. Lewat patroli gabungan, pihak berwenang ingin memastikan tidak ada ruang bagi tindakan kriminalitas jalanan atau provokasi massa yang dapat merusak stabilitas keamanan ibu kota selama bulan suci.
Selain aspek keamanan, pengawasan ketat juga dilakukan untuk meminimalisir pelanggaran lalu lintas, seperti penggunaan knalpot bising dan aksi balap liar yang membahayakan keselamatan. Pemerintah berupaya menjaga ketenangan malam Ramadan agar masyarakat dapat beristirahat serta beribadah dengan khusyuk tanpa terganggu oleh kebisingan konvoi kendaraan yang tidak tertib di jalanan protokol.
Baca Juga: Biaya Hidup Naik Saat Ramadan, Siasat Atur Keuangan Biar Nggak Boncos
Langkah ini juga diambil untuk mencegah penyimpangan fungsi SOTR yang kini lebih sering menjadi ajang kumpul-kumpul tanpa tujuan sosial yang jelas. Melalui kebijakan ini, masyarakat didorong untuk merayakan momen sahur dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan religius di lingkungan masing-masing, daripada berkerumun di ruang publik yang memiliki risiko gangguan ketertiban yang tinggi.
"Pokoknya, hal yang menimbulkan kerawanan, keributan saya nggak izinkan," tegas Pramono Anung.
Viral di Jombang, SOTR yang Dianggap Melenceng dari Esensi Ramadan
Peristiwa SOTR di Jombang menjadi viral setelah ribuan peserta konvoi dengan belasan truk sound horeg (pengeras suara raksasa) memadati jalanan di kawasan Ploso dan Kabuh pada Minggu (22/2/2026) dini hari. Kegiatan yang tidak mengantongi izin resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah desa ini awalnya dimaksudkan untuk membangunkan sahur, namun justru memicu kemacetan parah dan kebisingan yang luar biasa. Aksi ini mendadak meledak di media sosial setelah rekaman videonya tersebar luas dan memicu keresahan warga sekitar.
Kontroversi semakin memuncak karena kegiatan tersebut dinilai telah melenceng jauh dari nilai-nilai agama. Alih-alih diisi dengan salawat atau pesan religi, acara ini justru menampilkan penari berpakaian ketat yang berjoget erotis di atas truk diiringi musik disko yang menggelegar. Adanya aksi saweran kepada penari di tengah jalanan umum di waktu sahur dianggap sebagai tontonan yang tidak pantas dan sangat kontras dengan identitas Jombang sebagai "Kota Santri".
Reaksi publik di media sosial didominasi oleh kecaman keras netizen yang merasa kesucian bulan Ramadan telah dinodai oleh hiburan yang tidak beretika. Hal ini memicu perdebatan hangat mengenai pergeseran budaya, di mana batas antara tradisi membangunkan sahur dan hiburan liar kini dianggap semakin bias. Kejadian ini menjadi momentum bagi aparat keamanan untuk memperketat patroli dan melarang penggunaan sound horeg demi menjaga kekhusyukan ibadah serta ketertiban umum selama bulan puasa.
Kritik DPR: SOTR Harusnya Syiar, Bukan Ganggu Ketertiban
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), memberikan kritik tajam terhadap kegiatan SOTR di Jombang yang dinilai telah melenceng jauh dari tujuan mulianya. Menurutnya, penggunaan sound horeg dengan suara yang sangat keras bukan lagi bentuk syiar atau upaya membangunkan sahur yang santun, melainkan tindakan egois yang mengganggu ketertiban umum.
"Penggunaan sound system dengan suara menggelegar (horeg) di waktu sahur itu mengganggu ketertiban umum," kecam Hidayat Nur Wahid.
Lebih lanjut, Hidayat Nur Wahid menyoroti pelanggaran nilai kesopanan yang terjadi melalui aksi penari berpakaian ketat dan joget erotis di tengah kerumunan sahur. Hal ini dinilai sangat ironis dan memprihatinkan, mengingat kejadian tersebut berlangsung di Kabupaten Jombang yang selama ini dikenal luas sebagai "Kota Santri".
"Sangat ironis dan memprihatinkan. Ini jelas kontradiktif dengan nilai-nilai luhur dan kesucian bulan puasa," tutur Hidayat Nur Wahid.
Hidayat Nur Wahid juga menekankan bahwa Ramadan adalah bulan untuk meningkatkan kekhusyukan dan ketaatan, sehingga segala bentuk hura-hura yang menjurus pada kemaksiatan tidak boleh dibiarkan atas nama tradisi. Beliau mendesak aparat kepolisian dan pemerintah daerah untuk bertindak tegas dalam menertibkan kegiatan yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
"Kegiatan yang anarkis di jalanan, apalagi yang menjurus pada kemaksiatan, tidak boleh dibiarkan atas nama tradisi, karena itu merusak esensi ibadah puasa itu sendiri," tegas Hidayat Nur Wahid.
Jombang memang bukan sekadar kabupaten biasa di Jawa Timur, melainkan jantung spiritual Nusantara yang menyandang gelar terhormat sebagai "Kota Santri". Wilayah ini merupakan rumah bagi pesantren-pesantren legendaris berskala nasional seperti Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari, serta Pesantren Tambakberas, Denanyar, dan Rejoso. Sebagai tanah kelahiran organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU), Jombang dipandang sebagai rahim yang melahirkan ulama-ulama besar dan pemikiran Islam moderat yang telah menjaga harmoni bangsa selama lebih dari satu abad.
Munculnya kegiatan SOTR yang membawa sound horeg dan penari seksi menciptakan kontradiksi yang sangat tajam dengan identitas religius tersebut. Di saat ribuan santri di berbagai pelosok Jombang sedang khusyuk menjalankan tadarus Al-Qur'an dan iktikaf, dentuman musik disko yang menggelegar di jalanan dianggap merusak atmosfer spiritual bulan suci secara paksa. Aksi joget erotis dan saweran di ruang publik tepat pada waktu sahur dinilai sebagai tindakan yang tidak beradab serta sangat jauh dari nilai-nilai kesantunan yang selama ini diajarkan di lingkungan pesantren.
Secara budaya dan religius, insiden ini dirasakan sebagai "tamparan keras" terhadap marwah "Tanah Para Wali" dan perjuangan para pendiri NU. Publik secara otomatis menerapkan standar etika yang lebih tinggi terhadap Jombang dibandingkan daerah lain karena statusnya sebagai benteng moral. Apa yang mungkin dianggap sebagai hiburan jalanan biasa di tempat lain, di Jombang dipandang sebagai penodaan terhadap simbol budaya yang dijaga turun-temurun, sehingga memicu sensitivitas yang sangat dalam bagi warga dan komunitas santri yang merasa martabat daerahnya dicoreng.
Mengapa SOTR Sering Jadi Polemik Setiap Ramadan?
SOTR hampir setiap tahun menjadi polemik karena telah mengalami pergeseran makna yang drastis, dari kegiatan amal menjadi ajang hura-hura. Awalnya, tradisi ini dilakukan secara santun untuk membagikan makanan sahur kepada kaum duafa dan petugas kebersihan. Namun dalam praktiknya kini, seperti yang beberapa tahun belakangan terjadi di Jakarta, SOTR lebih didominasi oleh konvoi ratusan kendaraan bermotor yang memadati jalan-jalan protokol seperti Sudirman-Thamrin hanya untuk unjuk eksistensi komunitas.
Aspek keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) juga menjadi alasan utama mengapa SOTR di Jakarta selalu menuai kecaman. Kegiatan ini sering kali menjadi pemicu tawuran antarkelompok pemuda, di mana polisi berulang kali menemukan peserta konvoi membawa senjata tajam dan petasan. Selain risiko bentrokan, SOTR di ibu kota identik dengan pelanggaran lalu lintas masif, penggunaan knalpot bising yang mengganggu istirahat warga, hingga aksi vandalisme serta penumpukan sampah sisa makanan yang mengotori fasilitas publik di pagi hari.
Karena dampak negatifnya dianggap jauh lebih besar daripada manfaatnya, Polda Metro Jaya secara rutin mengeluarkan larangan tegas terhadap SOTR setiap tahunnya. Pihak berwenang menilai bahwa pembagian makanan di jalanan justru menciptakan kerumunan yang tidak terkendali dan membahayakan keselamatan jiwa. Sebagai solusinya, masyarakat diimbau untuk menyalurkan sedekah melalui lembaga resmi, masjid, atau panti asuhan agar semangat berbagi di bulan suci tetap terjaga tanpa harus mengorbankan ketertiban dan kekhusyukan warga Jakarta.
Kini, larangan SOTR diperkuat instruksi langsung dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Patroli gabungan yang melibatkan Satpol PP selaku elemen Pemerintah Provinsi (Pemprov) sejauh ini masih terbilang ampuh dalam menekan pelaksanaan kegiatan tersebut.
"Di minggu pertama Ramadan ini, belum ada laporan," kata Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi Gunawan kepada Suara.com lewat keterangan tertulis.
SOTR yang Etis dan Sesuai Nilai Ramadan
Pada hakikatnya, SOTR tetap memiliki ruang sebagai tradisi yang mulia asalkan niat utamanya benar-benar tulus untuk membantu sesama terjaga demi menyantap hidangan berkah di dini hari. Dalam balutan semangat Ramadan, kegiatan ini seharusnya menjadi syiar yang menyejukkan, di mana sekelompok warga bergerak menyusuri jalanan bukan untuk mencari panggung atau eksistensi, melainkan untuk memastikan tetangga dan musafir tidak terlewatkan waktu sahurnya. SOTR yang ideal adalah wujud kepedulian sosial yang santun, sebuah jembatan kasih sayang yang menghubungkan keheningan malam dengan keriuhan hangat di meja makan setiap keluarga.
Namun, keindahan tradisi ini sangat bergantung pada cara pelaksanaannya yang harus tetap berpijak pada nilai-nilai kesantunan dan ketenangan masyarakat luas. Membangunkan sahur tidak berarti harus menggetarkan kaca rumah warga dengan dentuman musik yang memekakkan telinga atau mengganggu pengguna jalan dengan konvoi yang tidak beraturan. Tanpa kebisingan yang berlebih dan tanpa melanggar norma kesopanan, SOTR akan terasa lebih khusyuk serta dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk para lansia, balita, dan warga yang sedang sakit. Di sinilah kedewasaan peserta diuji, yakni bagaimana mereka mampu menghidupkan suasana sahur tanpa sedikit pun mencederai hak orang lain untuk mendapatkan kedamaian di bulan suci.
Terakhir, tanggung jawab moral dalam menjalankan SOTR harus dibarengi dengan kepatuhan terhadap aturan hukum yang berlaku melalui koordinasi dengan pihak berwenang. Mengantongi izin resmi dari kepolisian atau perangkat desa setempat bukan sekadar urusan formalitas, melainkan bentuk penghormatan terhadap ketertiban ruang publik dan jaminan keamanan bagi semua pihak. Dengan izin yang jelas dan pengawasan yang baik, potensi gesekan antarkelompok dapat diredam dan keselamatan peserta di jalan raya lebih terjamin. Jika seluruh batasan ini dijaga dengan penuh integritas, maka tradisi membangunkan sahur akan tetap lestari sebagai bagian indah dari wajah Ramadan yang damai, tertib, dan penuh keberkahan.
"Itu harus penuh kedamaian dan kerukunan," ucap Pramono Anung penuh penekanan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Terima Hotman Paris dan Keluarga ABK Sea Dragon, Ketua Komisi III Singgung Rasa Keadilan Masyarakat
-
KPK akan Periksa Eks Menhub Budi Karya Pekan Depan Terkait Kasus DJKA
-
Presiden RI Prabowo Subianto Tiba di Yordania, Disambut Jet Tempur F-16 dan Putra Mahkota Kerajaan
-
Pemerintah AS Investigasi Kesepakatan Indonesia Terkait Tarif Baru 15 Persen
-
Geger di Haji Nawi! Jasad Bayi Usia Sehari Dibuang di Tong Sampah, Dibungkus Tas Kertas
-
Marak Kasus Kekerasan, Aparat Akan Diberi Pelatihan Hak Asasi Manusia Agar Lebih Humanis
-
Anggota DPRD DKI Lukmanul Hakim Sepakat Minimarket Modern Ditutup dan Kopdes Dikuatkan
-
Ngeri! Bahas Fungsi Helm, 6 Fakta Petugas Damkar Khairul Umam Diancam Tak Selamat Sampai Lebaran
-
PDIP Kritik RI Gabung Board of Peace Tanpa Persetujuan DPR, Singgung Biaya 8.000 Pasukan
-
Bertaruh Nyawa di Arus Lahar Semeru, Aksi Heroik Polisi Lumajang Gendong Siswa SD Demi Bisa Sekolah