- Dosen UGM menyarankan Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP) sebab konflik AS-Israel dan Iran menunjukkan kontradiksi.
- BoP dinilai membahayakan perdamaian global dan mempolarisasi negara, bertentangan dengan kebijakan luar negeri bebas aktif Indonesia.
- Bertahan di BoP berisiko merusak reputasi Indonesia yang menganut prinsip antikolonialisme, disarankan beralih ke The Hague Group.
Suara.com - Indonesia dinilai sedang berada pada momentum yang tepat untuk mengoreksi kebijakan luar negerinya. Terutama untuk segera keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP).
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Diah Kusumaningrum, menegaskan bahwa realitas yang ada saat ini dengan pecahnya konflik antara US-Israel dengan Iran sudah cukup menjadi bukti konkret bagi pemerintah untuk mengambil jarak.
Jika pada awal lalu keputusan untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian itu mungkin didasari informasi yang belum lengkap. Namun situasi terkini telah menunjukkan kontradiksi tajam.
"Sekarang sudah ada bukti-bukti yang lebih konkret, ada dasar untuk mengoreksi keputusan Indonesia dan Indonesia perlu keluar dari Board of Peace," tegas Diah dalam Strategic Talk Institute of International Studies (IIS), Departemen Ilmu Hubungan Internasional, UGM, dikutip, Rabu (4/3/2026).
Alih-alih mengedepankan pendekatan damai, Diah memaparkan bahwa BoP justru mempertontonkan serangan militer yang tergolong sebagai crime of aggression (kejahatan agresi).
Serangan ilegal dari dua anggota BoP, US dan Israel ke Iran, dinilai sangat membahayakan stabilitas dan keamanan regional di Timur Tengah maupun skala global.
"Bertolak belakang dengan namanya Dewan Perdamaian, ini justru membahayakan perdamaian, perdamaian sejati serta perdamaian berkelanjutan baik dalam konteks Palestina, konteks Regional Timur Tengah maupun Global," tuturnya.
Belum lagi, keterlibatan Palestina dalam proses-proses di dalam BoP pun dinilai nihil. Klaim dukungan terhadap perjuangan Palestina yang sering digaungkan oleh pendukung dewan ini dianggap hanya sebatas retorika.
"Jangankan mengedepankan kepentingan Palestina, melibatkannya pun tidak gitu ya dan sampai hari ini serangan-serangan terhadap Palestina, Gaza, itu masih terus berlangsung," ucapnya.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Kabur ke Madrid Gunakan Jet Pribadi Usai Serangan Iran? Begini Faktanya
Selain masalah kemanusiaan, Diah menyatakan bahwa BoP tengah melakukan polarisasi tajam terhadap negara-negara di dunia. Struktur dewan ini memaksa negara-negara untuk memilih pihak antara blok Amerika Serikat dan Israel atau posisi sebaliknya.
Kondisi ini dinilai sangat merugikan posisi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
"Kita ingat dulu Amerika sering bilang 'either you are with us or against us'. Nah, Board of Peace ini jelas merupakan proses polarisasi negara-negara yang ada di dunia dan saya kira Indonesia jangan mau ikut menjadi bagian polar yang agresif," tuturnya.
Masalah distribusi sumber daya yang tak adil di dalam organisasi itu pun menjadi sorotan.
"Ini justru malah menarik iuran dari banyak negara termasuk negara selatan, negara kecil gitu. Israel-nya malah boleh bayarnya nanti-nanti aja gitu. Jadi ada banyak kontradiksi gitu ya," ujarnya.
Risiko terbesar bagi Indonesia jika tetap bertahan di dalam BoP adalah ancaman terhadap reputasi internasional dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Berita Terkait
-
Secara Matematis Timnas Indonesia Bisa Gantikan Iran di Piala Dunia 2026, tapi...
-
Cristiano Ronaldo Kabur ke Madrid Gunakan Jet Pribadi Usai Serangan Iran? Begini Faktanya
-
Perang AS-Iran Terus Bergulir, Harga Minyak Mentah Dunia Makin Mahal
-
Kabar Menyayat Hati, Masjid Al Aqsa Tak Gelar Salat Tarawih untuk Pertama Kali
-
Serangan Drone Iran Hantam Area Konsulat AS di Dubai
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
Terkini
-
Festival Budaya di TMII Ini Bakal Jadi Ruang Kolaborasi untuk Merayakan Keragaman Indonesia
-
Keunggulan Fitur V2L di Mobil PHEV
-
5 Cara agar Kaki Tidak Sakit setelah Lari, Mudah Dilakukan
-
Prabowo: MBG Dikritik Disebut Boros, Duit Ribuan Triliun Menguap Tak Ada yang Protes
-
Ditangani Tim 9 Eks KPK, Pakar Hukum Optimis Febrie Adriansyah Bakal Dituntut Berat
-
Tangan Kanan atau Kiri, Sebenarnya di Mana Letak Memakai Jam yang Benar?
-
Sebut Nama Allah dan Rasul, Dody Hanggodo Bersumpah Tak Tahu Soal Doxing Dosen UGM
-
'Ampun Bos', Menteri PU Dody Hanggodo Tertawa Dengar Kabar Mau Dicopot
-
Polemik Perjalanan Menteri PU Memanas, KPK: Sudah Tak Sesuai Peruntukan!
-
Purbaya Sebut Kegiatan PFII Pakai Valuta Asing, Komunikasi Bahasa Inggris