- Pedagang di lantai dasar Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, mengalami kesulitan akibat seringnya banjir selama bulan puasa.
- Banjir menyebabkan kerugian materiil signifikan dan memaksa pedagang mengurangi harga jual barang dagangan mereka.
- Pedagang juga menghadapi tantangan ekonomi akibat persaingan belanja online dan kendala memasuki era digital.
Suara.com - Jalan Ciledug Raya di depan Pasar Cipulir terpantau ramai seperti biasanya. Deru mesin kendaraan dan klakson bersahutan, kontras dengan suasana di dalam gedung pasar yang menyimpan cerita perjuangan para pedagang bertahan hidup di tengah kepungan air dan ketidakpastian ekonomi.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, hiruk-pikuk Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, biasanya identik dengan lonjakan omzet.
Namun, bagi para pedagang di lantai dasar, cerita tahun ini terasa lebih menyesakkan. Bukan hanya soal sepinya pembeli akibat tren belanja online, mereka juga harus berjibaku dengan banjir yang datang bertubi-tubi di tengah musim penghujan.
Baru Puasa Sudah Tiga Kali Banjir
Ibu Erni, pemilik Toko Prima yang menjajakan baju tidur dan daster, mengisahkan betapa melelahkannya menjadi pedagang di 'zona rendah'. Di saat pasar lain sedang sibuk melayani pembeli baju Lebaran, ia justru sudah tiga kali harus berjibaku menyelamatkan barang dagangan dari genangan air selama bulan puasa ini.
"Benar-benar parah. Saya sudah tiga kali ngalamin banjir selama puasa ini. Air masuk sampai sedengkul, sekitar 50 senti," ujar Erni saat ditemui di kiosnya pada Jumat (9/3/2026).
Lantai dasar Pasar Cipulir memang sudah lama menjadi langganan banjir. Meski lantainya telah ditinggikan dua kali, posisinya yang lebih rendah dari jalan raya membuat kawasan ini tetap rentan. Jika hujan deras mulai turun, para pedagang harus bergerak cepat.
Banjir bukan sekadar air yang masuk ke toko, tetapi juga tentang tenaga ekstra yang terkuras. Ibu Erni sudah kenyang pengalaman mencuci baju-baju dagangan yang kotor terkena lumpur, lalu menjualnya dengan harga rugi demi memutar modal.
"Entar jual misalnya harga 30 jadi 20, 50 jadi 20 gitu… Padahal kita sudah kerja ekstra banget itu, belum jemurnya, belum aduh ya gitu deh," ungkapnya dengan getir.
Kondisi serupa dialami Ibu Talenta. Baginya, hujan deras adalah sinyal untuk segera mengemasi barang dagangan dan pulang lebih awal. Hujan berarti “tutup paksa” demi keamanan barang.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Baju Koko Kucing Terlaris untuk Lebaran 2026, Mulai Rp17 Ribuan!
"Ya jelas ada penurunan pendapatan, orang nggak bisa dagang! Kalau tiba-tiba hujan, langsung diberesin, masuk-masukin barang, terus pulang naik angkot," keluhnya.
Bertahan di Tengah Kepungan Air
Meski menjadi 'langganan' bencana, pindah lokasi bukanlah perkara mudah. Pak Ardi, seorang pedagang asal Padang, memilih tetap bertahan di kiosnya meskipun harus berulang kali melihat air merayap masuk. Baginya, kenyamanan dan harapan adalah satu-satunya modal yang tersisa.
"Kalau kapok sih nggak, ya karena sudah nyaman di sini. Kita cuma berharap proyek gorong-gorong di depan itu cepat selesai. Selama itu belum beres, air dari depan pasti turunnya ke sini," ujar Ardi dengan nada pasrah.
Hal serupa juga dirasakan oleh Ibu Erni. Menurutnya, lantai atas pasar sudah terlalu penuh untuk mereka tempati. Ia justru menyoroti sistem drainase kota yang dianggapnya gagal mengantisipasi air kiriman dari wilayah sekitarnya.
"Setiap hujan deras saja, air kali mah aman… Entah drainasenya enggak benar apa bagaimana ya? Jadi itu kan kita karena posisinya di kawasan rendah, air itu berbalik ke dalam sini," jelasnya.
Asa yang Tersisa: Pendampingan di Era Digital
Selain persoalan infrastruktur, para pedagang luring (offline) ini juga merasa kian terjepit oleh gempuran pasar digital. Erni berharap pemerintah tidak hanya memperbaiki saluran air, tetapi juga memberikan pendampingan agar pedagang kecil seperti mereka bisa merambah dunia online tanpa rasa takut.
Berita Terkait
-
7 Rekomendasi Baju Koko Kucing Terlaris untuk Lebaran 2026, Mulai Rp17 Ribuan!
-
5 Rekomendasi Body Lotion Terbaik Mencerahkan Kulit di Indomaret
-
Purbaya Sidak Tanah Abang, Bantah Klaim Ekonom soal Indonesia Masuk Resesi-Krisis
-
Jamin Stok BBM Saat Lebaran 2026, Pertamina Kawal Ketat Produksi Gasoline dan Avtur di 6 Kilang
-
1 Tahun Ekosistem Bullion Indonesia, PT Pegadaian Perkokoh Posisi Motor Penggerak Ekonomi Nasional
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Juminten Edan: Suguhkan Kisah Duka dan Trauma dalam Balutan Misteri Gaib!
-
Diancam Pecat! Satpam Fiktor Dipaksa Sujud dan Kayuh Sepeda Terbalik oleh Penumpang Alphard
-
Sinopsis Welcome to the Jungle, Film Terbaru Akshay Kumar dan Disha Patani
-
Bukan Sekadar Tipis, Ini 3 Inovasi Kunci Galaxy Z Fold8 Ultra yang Menetapkan Standar Baru HP Lipat
-
Iran Ogah Gencatan Senjata dengan Amerika Kalau yang Ngomong 'Orang Ketiga' Ini
-
Universitas Republik Indonesia dan Ironi Kesejahteraan Tenaga Pendidik
-
Menggantung Nyawa di Wadah Ikan: Kisah Nelayan Situbondo Terombang-ambing 48 Jam di Laut Lepas
-
Seperti Biasa Investor Ambil Cuan di Akhir Pekan, IHSG Berakhir Ambruk ke 6.100
-
Kajati Sumsel Berganti, Siapa yang Kini Memimpin Kejati Usai Ketut Sumedana ke BGN?
-
Jangan Bandel! SPPG Makan Bergizi Gratis yang Tak Sesuai Standar Siap-siap Ditutup