- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan sidak di Pasar Tanah Abang pada Senin (9/3/2026).
- Sidak tersebut bertujuan menguji prediksi ekonom mengenai resesi akibat kenaikan harga minyak global.
- Purbaya menyimpulkan daya beli masyarakat baik dan Indonesia tidak mengalami resesi ekonomi berdasarkan observasi di pasar.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin (9/3/2026).
Sidak itu dilakukan Menkeu Purbaya untuk membuktikan soal prediksi ekonom yang menyebut Indonesia masuk masa resesi karena kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah.
"Jadi kan banyak ekonom-ekonom yang bilang kita sudah resesi, daya beli sudah hancur, pasar sepi hancur, enggak ada yang datang," kata Purbaya di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2025).
Purbaya mengklaim kalau berdasarkan data yang dimiliki Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu), kondisi ekonomi Indonesia justru sedang membaik. Saat mendatangi Tanah Abang, ia mengklaim kalau prediksi ekonom salah.
"Saya pengin cek, karena kalau dari data-data kita, ekonomi lagi bagus. Harusnya kan di Tanah Abang segala macam ada pembelinya. Saya mau cek itu saja, betul atau enggak, ternyata betul. Daya beli masih ada, orang masih belanja, pasar juga masih ramai," beber Purbaya.
Bendahara Negara lalu menegaskan kalau Indonesia tidak memasuki masa resesi maupun krisis ekonomi karena kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik. Ia juga memastikan publik tidak pantik karena Pemerintah bakal melakukan upaya semaksimal mungkin.
"Kalau saya datang, tiba-tiba banyak orang ngumpul, artinya sekiranya kita kan banyak orang yang lagi belanja. Artinya daya beli masyarakat sepertinya sedang baik, dan kita tidak resesi. Apalagi dari krisis, kita jauh dari krisis. Jadi, ekonomi kan sedang bagus, teman-teman enggak usah takut. Nanti kalau harga minyak dunia naik pun, kita akan coba absorb lewat APBN, dan kita akan mengendalikan semaksimal mungkin," jelasnya.
Berita Terkait
-
1 Tahun Ekosistem Bullion Indonesia, PT Pegadaian Perkokoh Posisi Motor Penggerak Ekonomi Nasional
-
Krisis Kepercayaan Publik di Tengah Marak Video Perang Hasil Manipulasi AI
-
Raffi Ahmad Dorong Generasi Muda Ubah Kreativitas Jadi Bisnis di Era Ekonomi Kreatif
-
Purbaya Blak-blakan Insentif Mobil Listrik Bikin Defisit APBN Melebar
-
Purbaya Pastikan BI Independen, Tak Lagi Pakai Skema Burden Sharing
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara
-
7 Hari Menuju Ambang Batas: Trump di Ujung Tanduk, Kongres Beri 'Cek Kosong' Perang?
-
Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital
-
Babak Akhir Utang 'Whoosh', RI Siap Sodorkan Skema Restrukturisasi ke China
-
Pemerintah Gunakan Cara Baru Pantau BBM Subsidi Agar Tak Bocor
-
Pengguna Aktif GoPay Tembus 26 Juta
-
Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret
-
Pegang 42 Persen Cadangan Dunia, Nikel Masih Jadi 'Raja' Investasi Hilirisasi RI
-
Jumlah BUMN Dipangkas Jadi Hanya 300, Begini Klaster-klasternya
-
Pemerintah Diminta Tak Wajibkan Penggunaan Dolar AS untuk Transaksi Batu Bara DMO