-
Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke wilayah Israel sebagai balasan atas agresi militer.
-
Menteri Luar Negeri Iran menolak gencatan senjata dan memilih untuk terus melanjutkan perjuangan fisik.
-
Konflik meluas ke Oman dan Uni Emirat Arab sehingga memicu evakuasi besar-besaran warga Amerika.
Suara.com - Langit Israel kembali membara setelah gelombang proyektil yang diluncurkan oleh militer Iran menerjang tanpa henti pada Minggu, 15 Maret 2026.
Radio Angkatan Darat Israel mengonfirmasi bahwa unit pertahanan udara mereka bekerja keras mengantisipasi serangan masif tersebut di wilayah udara.
Meskipun sistem pertahanan berhasil merontokkan mayoritas rudal, beberapa ledakan masih terdengar akibat proyektil yang mendarat di kawasan terbuka.
Insiden ini memicu situasi darurat di kota Ramla setelah serpihan logam dari rudal yang dicegat jatuh dan menyulut kobaran api.
Pihak berwenang setempat hingga kini masih melakukan penyisiran dan melaporkan belum ada korban jiwa yang jatuh dalam peristiwa kebakaran tersebut.
Konfrontasi bersenjata di kawasan strategis ini terus menunjukkan tren peningkatan intensitas yang sangat mengkhawatirkan bagi stabilitas global.
Titik balik ketegangan bermula saat operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel menyasar wilayah Iran pada akhir Februari lalu.
Sejak dimulainya invasi pada 28 Februari 2026 tersebut, catatan kelam menunjukkan angka kematian telah menembus lebih dari 1.300 jiwa.
Publik masih mengingat jelas bagaimana serangan provokatif Washington dan Tel Aviv menghantam fasilitas militer vital hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran.
Baca Juga: Update Korban Perang AS-Iran 15 Maret 2026, Hampir 1000 Orang dan Ratusan Anak Tewas
Kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tersebut menjadi sumbu ledak yang menyeret banyak negara ke dalam pusaran konflik regional.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan pernyataan menohok mengenai peluang penghentian kontak senjata dengan pihak lawan.
Beliau secara terbuka menunjukkan sikap skeptis terhadap niat baik Amerika Serikat maupun Israel dalam menjalin kesepakatan damai terbaru.
Araghchi menyinggung pengalaman pahit setahun lalu di mana perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati justru dikhianati oleh pihak lawan.
"Dan sekarang Anda ingin meminta gencatan senjata lagi? Ini tidak akan berhasil seperti itu," kata dia dikutip dari Meet the Press.
Pernyataan diplomat senior Iran tersebut menegaskan bahwa perjuangan fisik masih akan menjadi pilihan utama mereka di medan tempur.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Kapan Laga Lawan Timor Leste Dimulai?
-
Wujud Kasih Sayang yang Berbeda dari Dua Ayah di Agent Kim Reactivated
-
Jadwal Puasa Sunah Agustus 2026, Lengkap dengan Tanggal dan Bacaan Niatnya
-
Jateng Jadi Basis Pelanggan Terbesar Indosat, Trafik Data Naik 10,4 Persen
-
DFSK E5 Plus Resmi Meluncur di GIIAS 2026 dengan Harga Spesial Mulai Rp479 Juta
-
Karhutla Hanguskan 40 Hektare Lahan di Palangka Raya
-
50 Persen Pengaduan di Jateng Isinya Sama: Perusahaan Nekat Tahan Ijazah Mantan Karyawan
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional