-
Donald Trump menentukan akhir perang Amerika-Israel melawan Iran hanya berdasarkan firasat personal yang kuat.
-
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas bersama 1.300 orang akibat serangan udara AS.
-
Amerika mengancam hancurkan kilang minyak Iran jika blokade di Selat Hormuz terus berlanjut.
Suara.com - Ketegangan bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya Israel di tanah Iran kini memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan indikasi mengenai masa depan operasi militer yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah tersebut.
Dalam sebuah dialog eksklusif bersama Fox News Radio, sang presiden mengungkapkan pandangannya terkait durasi pertempuran yang sedang berkecamuk.
Publik menanti kepastian mengenai kapan agresi militer ini akan menemui titik terang atau gencatan senjata secara resmi.
Trump memberikan jawaban yang cukup mengejutkan saat ditanya mengenai indikator berakhirnya baku tembak massal di wilayah kedaulatan Iran.
Muncul pertanyaan krusial mengenai kapan Amerika Serikat akan menarik diri dari palagan perang yang telah memakan banyak korban.
"Setelah ini berakhir, dan saya rasa tidak akan lama lagi ini, situasinya akan kembali memburuk dengan cepat," kata Trump.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa eskalasi konflik saat ini masih sangat dinamis dan sulit diprediksi secara matematis.
Saat didesak mengenai tolok ukur yang digunakan untuk menghentikan serangan, Trump memberikan jawaban yang bersifat personal.
Baca Juga: Jurgen Habermas, Filsuf Ternama dan Tokoh Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
"Saat saya merasakannya. Firasat yang sangat kuat."
Kekuatan militer gabungan Washington dan Tel Aviv telah melancarkan operasi udara besar-besaran sejak akhir Februari lalu.
Agresi yang dimulai pada tanggal 28 Februari tersebut menyasar titik-titik vital di jantung pertahanan serta pusat pemerintahan Iran.
Dampak dari serangan udara tersebut sangat signifikan karena menyasar figur-figur paling berpengaruh di negara Republik Islam tersebut.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan menjadi salah satu korban jiwa dalam serangan udara yang sangat destruktif itu.
Tragedi ini juga merenggut nyawa anggota keluarga dekat Khamenei, termasuk menantu, cucu, serta sejumlah petinggi keamanan negara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Sebut Bukan Insiden Kebetulan, Nandang Sutisna Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
-
Tiyo Ardianto Respons Viral Aksi Penolakan di UGM, Singgung Kondisi Mahasiswa 'Terpaksa' Demo
-
Aksi Bersih & Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
-
Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda Berbasis Nilai Budaya
-
Bukan Ancaman, Anis Matta Sebut Demo Justru 'Picu' Pemerintah Kerja Lebih Baik
-
Massa Bertahan di Gejayan Meski Aksi Selesai, Bunyi Klakson - Seruan Turunkan Prabowo Terus Menggema
-
Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
-
Turun Aksi di Jogja, Cholil ERK Tegaskan Gerakan Masyarakat Jangan Mengempis
-
Benarkah Jokowi Segera Jadi Ketua Dewan Pembina? PSI Kasih 'Kode Keras' Begini
-
Jawab Tuntutan Mahasiswa, Bakom RI Sebut Kebijakan Presiden Prabowo Hemat Anggaran Rp300 Triliun!