- Joe Kent mengundurkan diri dari Direktur Kontraterorisme AS setelah meniti karier panjang di militer dan CIA.
- Kent memiliki rekam jejak operasi khusus di Angkatan Darat dan Special Activities Center CIA yang berpengalaman.
- Kematian istrinya dalam misi tempur memengaruhi pandangan politik Kent yang kemudian terjun ke politik Republik.
Suara.com - Nama Joe Kent tengah jadi sorotan setelah ia memutuskan mundur dari jabatan Direktur Kontraterorisme AS di tengah memanasnya perang melawan Iran.
Sosok Kent menarik perhatian bukan hanya karena pengunduran dirinya, tetapi juga karena latar belakangnya yang panjang di operasi khusus militer AS dan penugasan rahasia di CIA.
Kent dikenal sebagai veteran tempur dengan pengalaman lebih dari dua dekade di medan perang.
Sebelum masuk ke lingkaran kebijakan keamanan nasional di Washington, ia menghabiskan hampir 20 tahun di Angkatan Darat Amerika Serikat, termasuk di unit elit operasi khusus.
Menurut data resmi pemerintah AS, Kent pernah bertugas di 75th Ranger Regiment dan kemudian menjadi anggota Green Berets, pasukan khusus Angkatan Darat yang sering dikerahkan dalam operasi berisiko tinggi di Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika.
Selama karier militernya, ia menjalani lebih dari 10 kali penugasan tempur, termasuk dalam operasi perang melawan terorisme setelah serangan 11 September.
Atas pengabdiannya, Kent menerima sejumlah penghargaan militer, termasuk beberapa Bronze Star yang diberikan kepada prajurit yang menunjukkan keberanian dalam operasi tempur.
Pengalaman panjang di medan perang membuatnya dikenal sebagai salah satu perwira dengan rekam jejak operasional kuat, bukan sekadar pejabat birokrasi.
Setelah pensiun dari militer pada 2018, Kent tidak langsung meninggalkan dunia intelijen.
Baca Juga: AS Terpecah, Trump Meradang Joe Kent Tolak Perangi Iran: Dia Lemah!
Kent bergabung dengan Central Intelligence Agency (CIA) dan bertugas sebagai paramilitary officer di Special Activities Center, unit rahasia yang menangani operasi sensitif di luar negeri.
Unit ini dikenal menjalankan misi yang tidak selalu diumumkan ke publik, termasuk operasi kontra-terorisme dan dukungan militer di wilayah konflik.
Karier di CIA memperkuat reputasi Kent sebagai figur yang memahami langsung risiko perang dan operasi intelijen.
Latar belakang pribadinya juga membentuk pandangan politiknya. Istrinya, Shannon Kent, seorang anggota militer AS, tewas dalam serangan bom di Suriah pada 2019 saat menjalankan misi melawan ISIS.
Peristiwa tragis itu disebut sebagai salah satu titik balik yang membuat Kent semakin kritis terhadap kebijakan perang luar negeri Amerika.
Setelah keluar dari CIA, Kent terjun ke politik dan bergabung dengan Partai Republik.
Berita Terkait
-
AS Terpecah, Trump Meradang Joe Kent Tolak Perangi Iran: Dia Lemah!
-
AFC Sebut Iran akan Tetap Tampil di Piala Dunia 2026
-
Teguh Pendirian, Kanada Menolak Ikut Perang AS-Israel Lawan Iran
-
Info A1: Perang Lawan Iran karena Kebodohan Trump Ditipu Lobi Israel dan Tokoh Media AS
-
Trump Ditinggal Tangan Kanan, Direktur Kontraterorisme AS Joe Kent Mundur
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Sepatu Lari Diadora Diskon 50 Persen di Sports Station, Harga Jadi Rp200 Ribuan
- 5 Cushion Matte untuk Menutupi Bekas Jerawat dan Noda Hitam, Harga Terjangkau
Pilihan
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
Terkini
-
Misteri Kematian Dokter Internship dr. Myta, Kemenkes Didesak Lakukan Investigasi Menyeluruh
-
Hubungan Memanas, Militer Iran Klaim Miliki Bukti AS Siapkan Konflik Baru
-
Arief Pramuhanto Disebut Korban Kriminalisasi Terberat, Pengacara: Tak Ada Aliran Dana
-
Skandal Chromebook, Prof Suparji: Langkah JPU Tuntut Penjara Ibrahim Arief Tepat
-
Sentil 'Akal-akalan' Aplikator, Driver Ojol: Potongan Terasa 30 Persen, Berharap pada Perpres Baru
-
May Day 2026, Menaker Yassierli Tegaskan Negara Komitmen Lindungi Pekerja hingga ke Tengah Laut
-
Tak Ditemui Pemerintah karena Demo di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Bubarkan Diri Janji Balik Lagi
-
Tak Puas Sampaikan Aspirasi di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Sempat Bakar Ban Coba Terobos Barikade
-
Momentum Hardiknas, BEM SI Demo di Patung Kuda Sampaikan 10 Tuntutan, Ini Isinya
-
Megawati Ingatkan Republik Milik Bersama, Tolak Alasan Biaya Mahal untuk Ubah Sistem Pemilu