-
Militer Iran menetapkan siaga 100 persen untuk menyerang target strategis Amerika Serikat segera.
-
Iran menuduh militer AS melakukan pembajakan terhadap kapal dagang sipil Toska di Laut Oman.
-
Teheran mendesak PBB mengutuk agresi AS yang dianggap melanggar hukum internasional dan gencatan senjata.
Suara.com - Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran secara resmi menetapkan status siaga tertinggi bagi seluruh personel militer.
Langkah ini merupakan respons langsung terhadap ancaman berulang yang dilontarkan otoritas Amerika Serikat di tengah situasi kawasan yang tidak menentu.
Dikutip dari Anadolu, Iran menegaskan kesiapan tempur mereka tidak akan surut meskipun ada klaim perpanjangan gencatan senjata dari pihak Washington.
Negara tersebut telah mengunci daftar target strategis yang akan dihancurkan seketika jika agresi baru pecah.
Kesiagaan ini muncul sebagai bentuk proteksi kedaulatan atas tindakan provokatif di wilayah perairan internasional.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengonfirmasi kekuatan penuh pasukannya saat ini.
“Pasukan kami yang cakap dan kuat telah lama berada dalam keadaan siaga 100 persen dan siap serta siap beraksi,” kata Zolfaghari.
Zolfaghari memastikan bahwa serangan balasan akan dilakukan secara instan terhadap objek yang telah mereka petakan sebelumnya.
“Jika terjadi agresi dan tindakan apa pun terhadap Republik Islam Iran, pasukan Iran akan segera dan dengan kuat menyerang target yang telah ditentukan sebelumnya,” ujarnya tegas.
Baca Juga: Jalur Perdagangan Selat Hormuz Ditutup Donald Trump Membuat Posisi Diplomasi Iran Semakin Terjepit
Sikap militer ini tetap keras meskipun Donald Trump menyebut adanya upaya damai melalui mediator Pakistan.
Dugaan Pembajakan Kapal di Laut Oman
Ketegangan di lapangan justru dipicu oleh insiden maritim yang melibatkan kapal dagang milik Iran, Toska.
Pasukan militer Amerika Serikat dituding melakukan penyerangan dan penyitaan kapal sipil tersebut di sekitar Pantai Iran.
Kedutaan Besar Iran untuk PBB melayangkan protes keras dan menyebut tindakan tersebut sebagai praktik kriminal.
Otoritas Teheran menilai serangan pada 19 April 2026 itu sebagai pelanggaran hukum internasional yang sangat fatal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL