- Mahfud MD mengecam penyebaran potongan video ceramah Jusuf Kalla di UGM yang memicu narasi keliru terkait kerukunan beragama.
- Mahfud menegaskan bahwa pesan asli Jusuf Kalla bertujuan mencegah konflik masa lalu agar tidak terulang kembali di masyarakat.
- Mahfud mendukung langkah hukum tim Jusuf Kalla terhadap penyebar video sebagai upaya memberikan efek jera bagi publik.
Suara.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, menanggapi kontroversi potongan video ceramah Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK), di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) yang viral di media sosial kala itu.
Ia menilai tindakan penyebaran video yang dipotong tersebut merupakan bentuk kebebasan politik yang sudah melampaui batas dan sangat berbahaya bagi kerukunan umat beragama.
Mahfud, yang juga menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian acara Ramadan public lecture di UGM tersebut, menegaskan bahwa narasi yang dibangun dalam potongan video tersebut berbanding terbalik dengan pesan asli yang disampaikan JK.
"Saya tahu dan saya mengikuti yang dikatakan Pak jk itu justru dia pada waktu menyerukan agar umat beragama itu tidak mencari dalil agamanya untuk saling membunuh. Kata Jusuf Kalla harus damai. Kan itu maksudnya," ujar Mahfud dalam kanal Youtube Mahfud MD Official, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, dalam ceramah tersebut JK sebenarnya sedang memberikan peringatan agar konflik masa lalu, seperti yang terjadi di Poso, tidak terulang kembali.
Saat itu, ada pemahaman keliru di mana kelompok yang bertikai merasa tindakan membunuh orang lain adalah jalan menuju syahid atau pahala.
Namun, video yang beredar justru dipotong seolah-olah JK membenarkan tindakan tersebut.
Mahfud pun menggunakan istilah 'mutilasi berita' untuk menggambarkan fenomena ini.
"Anda boleh berbeda lah pilihan politik lah silahkan, tapi lalu membalik-balik atau istilah saya memutilasilah, memutilasi berita yang sebenarnya berbicara begini lalu dipotong ini konteksnya. Padahal semua orang tahu dan sekarang orang mau dengarkan pun kan masih ada di channel YouTube-nya UGM," tegasnya.
Baca Juga: Temui Jusuf Kalla, Ormas Islam Akan Laporkan Ade Armando, Abu Janda dan Grace Natalie
Mahfud memperingatkan bahwa memutarbalikkan pesan yang berkaitan dengan agama sangatlah berisiko.
Sebab, agama berkaitan dengan keyakinan hati yang seringkali tidak lagi menggunakan logika, sehingga mudah memicu konflik horizontal.
"Agama itu urusan keyakinan bukan urusan logika. Oleh sebab itu, karena ada di hati, ketika keyakinan ini tersentuh orang mau melakukan apa saja," jelasnya.
Dukung Laporan Hukum Tim JK
Mengenai langkah tim JK yang melaporkan pengunggah dan pemberi komentar bermuatan hasutan ke pihak kepolisian, Mahfud menilai langkah tersebut sudah tepat dan wajar.
Hal ini diperlukan agar memberikan efek jera dan edukasi bagi pengguna media sosial.
"Menurut saya laporan itu wajar bisa dimaklumi dan menurut saya memang harus di diselidiki ya. Karena apa? Karena yang begini ini berbahaya. Hanya gimana ya kepentingan politik yang sangat sempit gitu untuk memojokkan orang yang sudah pastilah semua orang tahu Pak JK begitu gitu kok masih tega-teganya gitu mengatakan yang seperti itu," katanya.
Mahfud pun berharap kepolisian mendalami kasus ini agar masyarakat lebih berhati-hati dalam membagikan konten di media sosial.
"Ada cara-cara yang lebih halus tuh biasanya kalau memposting atau memberitakan tu pakai clickbait saja kan. Kalau ini mutilasi berita dipotong, lalu dia dipotong konteksnya, lalu dipetik masalah-masalah yang sangat sensitif untuk dibenturkan," ujarnya. (Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Temui Jusuf Kalla, Ormas Islam Akan Laporkan Ade Armando, Abu Janda dan Grace Natalie
-
Mahfud MD Ragukan Motif Dendam Pribadi di Kasus Andrie Yunus: Kinerja Komnas HAM Sangat Mundur
-
Pakar UGM Nilai Pemindahan Gerbong Wanita Tak Sentuh Akar Masalah
-
Kasus Andrie Yunus, Mahfud MD Soroti Peradilan Koneksitas dan Mandeknya Reformasi
-
UGM Tegaskan Dosen Jadi Penasihat Daycare Little Aresha Bukan Representasi Kampus
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Dari Contekan ke Korupsi: Benang Merah yang Sering Kita Abaikan
-
Menginap Hanya Berjarak 6 Menit dari Pakansari, Vietnam Panaskan Atmosfer Jelang Lawan Indonesia
-
Pemutihan dan Keringanan Pajak Jawa Timur Khusus Agustus 2026, Cek Syaratnya
-
John Herdman Bongkar Peran Vital Tom Haye Jelang Duel Panas Indonesia vs Vietnam
-
Rezeki Melimpah! Ini 5 Shio Paling Beruntung Sepanjang Agustus 2026
-
Review Drama Kingdom, Melawan Teror Zombi di Tengah Intrik Politik Joseon
-
Update Harga Emas Antam Hari Ini: Stabil di Level Rp2.603.000 per Gram
-
5 Zodiak Paling Beruntung Hari Ini 3 Agustus 2026: Peluang Dapat Sumber Uang Baru
-
Cha Eun Woo Ajukan Banding atas Ketetapan Pajak, Agensi Beri Tanggapan
-
Timnas Indonesia vs Vietnam, Rizky Ridho: Kunci Bisa Menang Jangan Mau Diprovokasi