- Pemerintah menerbitkan Permenhut Nomor 6 Tahun 2026 untuk mengatur tata cara perdagangan karbon guna menurunkan emisi nasional.
- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan regulasi ini bertujuan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sektor kehutanan.
- Organisasi masyarakat sipil mengkritik aturan tersebut karena lemahnya aspek akuntabilitas, transparansi, serta potensi penguasaan lahan oleh korporasi.
Suara.com - Pemerintah baru saja menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon melalui Offset Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Sektor Kehutanan.
Aturan ini disebut pemerintah sebagai langkah untuk memperkuat target penurunan emisi nasional sekaligus membuka manfaat ekonomi karbon bagi masyarakat.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengatakan regulasi tersebut bertujuan memastikan masyarakat dapat merasakan manfaat dari perdagangan karbon di sektor kehutanan.
Namun, sejumlah organisasi masyarakat sipil menilai aturan baru itu masih menyimpan banyak persoalan mendasar. Alih-alih menjadi solusi utama krisis iklim, perdagangan karbon dinilai berisiko mereduksi fungsi hutan menjadi sekadar komoditas ekonomi.
Kepala Divisi Kehutanan dan Keanekaragaman Hayati Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Adam Putra F., mengatakan prinsip perlindungan yang tercantum dalam aturan tersebut berpotensi berhenti sebagai pengakuan normatif tanpa jaminan implementasi yang kuat di lapangan.
“Peraturan itu mengatur tahapan pengaduan, mulai dari penerimaan hingga penyelesaian. Namun, tidak dijelaskan bentuk keputusan, tindakan korektif, maupun tindak lanjut konkret yang dapat dilakukan pemerintah terhadap pengaduan yang sudah terbukti,” kata Adam.
ICEL mencatat setidaknya tiga persoalan utama dalam Permenhut tersebut. Pertama, lemahnya dimensi penegakan hukum dan akuntabilitas. Menurut ICEL, mekanisme pengaduan yang ada berpotensi hanya menjadi prosedur administratif tanpa kepastian pemulihan bagi masyarakat terdampak.
Kedua, keterbukaan informasi publik dinilai masih sangat terbatas. Adam menyebut aturan tersebut memang mengacu pada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, tetapi tidak menjelaskan secara tegas informasi apa saja yang wajib dibuka kepada masyarakat.
“Akibatnya, informasi penting tetap berpotensi diklasifikasikan sebagai informasi dikecualikan, sebagaimana masih sering terjadi dalam tata kelola kehutanan saat ini,” ujarnya.
Baca Juga: Tak Hanya Baik Untuk Kesehatan, Gaya Hidup Vegetarian Juga Baik Untuk Bumi
Ketiga, ICEL menilai ruang partisipasi publik dalam proses persetujuan proyek karbon masih minim. Dalam proses pengajuan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK), pelaku usaha memang diwajibkan menyampaikan dokumen seperti AMDAL, hasil konsultasi publik, dan Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa/FPIC). Namun masyarakat dinilai tidak memiliki ruang memadai untuk menguji atau menyanggah informasi tersebut.
“Tanpa mekanisme partisipasi publik yang bermakna, proses persetujuan proyek karbon berisiko menjadi tertutup dan minim pengawasan,” kata Adam.
Kritik serupa juga datang dari Trend Asia. Program Manager Bioenergi Trend Asia, Amalya Reza, menilai aturan perdagangan karbon berpotensi membuka celah penguasaan korporasi terhadap kawasan hutan.
“Masyarakat akan dipaksa bergantung pada mitra teregistrasi. Hal itu berpotensi menempatkan korporasi sebagai pengendali utama perdagangan karbon baik di wilayah hutan adat maupun hutan hak,” ujar Amalya.
Menurutnya, mekanisme offset emisi bukan solusi utama untuk menyelesaikan krisis iklim. Ia menilai skema tersebut justru berisiko menjadi alat legitimasi bagi perusahaan penghasil emisi besar untuk tetap beroperasi sambil mengklaim diri lebih ramah lingkungan.
Amalya menegaskan pemerintah seharusnya fokus pada solusi nyata untuk menekan emisi, seperti menghentikan deforestasi untuk megaproyek pangan dan energi, melindungi hutan alam tersisa, serta mempercepat pensiun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.
Trend Asia juga menyoroti program co-firing biomassa yang dinilai berpotensi memperburuk krisis iklim. Dalam laporan mereka pada 2022, program co-firing biomassa di 52 PLTU disebut membutuhkan sekitar 2,33 juta hektare lahan untuk pembangunan Hutan Tanaman Energi (HTE).
Selain memperbesar risiko deforestasi, rantai pasok biomassa tersebut diperkirakan dapat menambah emisi gas rumah kaca Indonesia hingga 26,48 juta ton setara karbon dioksida per tahun.
Bagi organisasi masyarakat sipil, perdagangan karbon seharusnya tidak menjadi jalan pintas yang mengalihkan perhatian dari akar persoalan krisis iklim. Mereka menilai perlindungan hutan alam dan penghentian energi fosil tetap menjadi langkah paling penting dalam upaya menekan emisi Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali
-
Bibit Durian Diturunkan di Pelabuhan Makassar Padahal Punya Izin, Ini Respons Badan Karantina
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Resah, Puluhan Pimpinan Media Lokal dari 4 Provinsi Kumpul di Pekanbaru Bahas Ekosistem Media
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu