Suara.com - Dalam upaya mitigasi perubahan iklim, lahan gambut dinilai memiliki peran penting yang kerap luput dari perhatian. Meski hanya mencakup sekitar 3 persen permukaan daratan dunia, ekosistem ini mampu menyimpan karbon dua kali lebih banyak dibandingkan seluruh hutan di dunia.
Namun, keberadaan gambut kini semakin rentan akibat perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga kebakaran hutan. Kondisi tersebut mendorong lahirnya studi global terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment pada April 2026 dengan melibatkan 467 pakar internasional untuk merumuskan berbagai pertanyaan riset terkait lahan gambut.
Konservasi Alam Nusantara berharap penelitian tersebut dapat menjadi dasar penguatan ilmu pengetahuan sekaligus mendorong lahirnya kebijakan perlindungan dan restorasi gambut yang lebih efektif di berbagai negara.
Dilansir dari Pantau Gambut pada 7 Mei 2026, Indonesia sendiri memiliki kawasan gambut tropis terluas di dunia dengan luas mencapai 13,43 juta hektare yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut, Prof. Gusti Z. Anshari, menilai dunia masih kekurangan pengetahuan mendasar mengenai cara ekosistem gambut merespons perubahan iklim.
“Dunia masih kekurangan pengetahuan mendasar mengenai bagaimana ekosistem gambut merespons perubahan iklim, bagaimana memulihkannya secara efektif, serta bagaimana melindunginya tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat lokal dan masyarakat adat,” ujarnya.
Dalam kondisi sehat dan jenuh air, gambut mampu mengunci karbon selama ribuan tahun. Namun saat mengalami pengeringan akibat aktivitas manusia atau kebakaran, gambut justru berubah menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca terbesar.
Melalui penelitian global ini, para ilmuwan mencoba memetakan berbagai persoalan gambut, mulai dari aspek ekologi, hidrologi, biogeokimia, hingga ilmu sosial. Penelitian juga akan difokuskan pada pemetaan distribusi gambut global dan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat sistem pemantauan gambut di berbagai wilayah dunia.
Konservasi Alam Nusantara menilai hasil penelitian tersebut dapat menjadi pijakan penting dalam menyusun kebijakan perlindungan gambut yang lebih berbasis data dan berkelanjutan di tengah ancaman krisis iklim global.
Baca Juga: Implementasi Green Shipping Pertamina Patra Niaga Klaim Sukses Pangkas 13.000 Ton CO2
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dampak Mengerikan Gempa Venezuela, Korban Tewas Bertambah Jadi 589 Orang
-
Bocoran Jokowi untuk Pemilu 2029: Ungkap Alasan PSI Layak Lolos ke Parlemen
-
Dittipideksus Bareskrim dan Kortastipidkor Sinkronkan Penyidikan Kasus PT TSL
-
Gus Ipul Apresiasi Jawa Timur, Provinsi Dengan Sekolah Rakyat Terbanyak
-
Kaesang Pangarep Hadiri Pelantikan Pengurus DPD PSI Mesuji, Targetkan Satu Kursi di Setiap Dapil
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?