- Media Wahyudi Askar dari CELIOS mengkritik pemerintah yang lebih mementingkan narasi positif dibandingkan kondisi ekonomi nyata masyarakat.
- Klaim pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 dinilai bertolak belakang dengan tingginya angka PHK serta pengangguran.
- Pertumbuhan ekonomi saat ini diduga hanya dinikmati kelompok elite dan pemilik modal besar, sehingga tidak mencerminkan kesejahteraan masyarakat luas.
Suara.com - Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar, mengkritik pemerintah yang dinilai terlalu fokus menjaga narasi positif ekonomi. Namun, di sisi lain justru mengabaikan kenyataan yang dirasakan masyarakat di lapangan.
"Pertanyaannya, apakah pemerintah fokus pada stabilitas saja dan lupa mengawal kebijakan-kebijakan strategis lainnya? Saya kira dalam perspektif pemerintah mungkin masuk akal. Artinya tentu punya kepentingan menjaga narasi publik agar tetap positif, kira-kira begitu,” kata Media.
Dosen Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada ini menilai jurang antara data yang disampaikan pemerintah dengan kondisi riil masyarakat semakin lebar.
Menurut Askar, pemerintah tidak bisa lagi menganggap masyarakat awam tidak memahami persoalan ekonomi. Ia menyebut meningkatnya literasi publik membuat warga hingga tingkat desa kini memahami isu-isu seperti pajak, subsidi pupuk, hingga nilai tukar rupiah.
"Jadi kita enggak bisa bilang orang-orang desa itu adalah orang yang enggak tahu apa-apa hari ini," ujarnya.
Ia menilai problem utama ekonomi saat ini bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan ketidaksesuaian antara klaim pemerintah dengan kondisi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Padahal, angka ekonomi seharusnya tidak hanya baik di atas kertas, tetapi juga tercermin dalam kualitas hidup publik.
Ia mencontohkan klaim pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 yang dinilai bertolak belakang dengan situasi di lapangan.
Di tengah klaim tersebut, kata Askar, banyak anak muda justru kesulitan mencari pekerjaan dan gelombang pemutusan hubungan kerja masih terus terjadi.
Baca Juga: Minyak Hampir USD120 per Barel, Dunia Masuk Era Suku Bunga Tinggi Lebih Lama
"Maka persoalannya sekarang gap-nya terlalu jauh antara klaim pemerintah, misalkan beberapa hari yang lalu bilang pertumbuhan ekonomi 5,61 persen. Sedangkan di sisi lain, anak muda sekarang untuk dapat pekerjaan juga sulit," tuturnya.
Belum lagi, ia menyinggung data meningkatnya angka PHK dan klaim jaminan kehilangan pekerjaan yang menurutnya menjadi tanda bahwa kondisi ekonomi masyarakat tidak sebaik narasi resmi pemerintah. Situasi itu memunculkan ketidakpercayaan publik terhadap klaim pertumbuhan ekonomi yang terus digaungkan.
Pemerintah, lanjut Askar, tidak pernah benar-benar menjelaskan siapa pihak yang paling menikmati pertumbuhan ekonomi saat ini. Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi sangat mungkin hanya dinikmati kelompok elite, pemilik modal besar, dan para pemegang aset.
"Ada satu hal yang tidak diceritakan oleh pemerintah, yang tidak diceritakan oleh pemerintah, yaitu soal siapa yang menikmati ekonomi hari ini," ujarnya.
"Bisa jadi ekonomi itu memang tumbuh tapi ekonomi itu hanya dinikmati oleh kelas atas, oleh orang super kaya, oleh mereka yang punya kapital, mereka yang punya aset, properti, saham, dan lain-lain," imbuhnya.
Lemahnya pengawasan pemerintah terhadap proyek strategis nasional disinyalir membuka ruang bagi kelompok tertentu untuk meraup keuntungan besar.
Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi hanya berputar di sekitar kelompok super kaya dan para pemburu rente. Ia menegaskan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis menunjukkan kualitas ekonomi yang baik.
"Karena pertumbuhan ekonomi itu tidak berbicara apa pun tentang ketimpangan, tidak berbicara apa pun tentang korupsi, tentang kerusakan lingkungan, tentang perempuan, tentang pekerja yang dieksploitasi, tidak berbicara apa pun tentang itu," tegasnya.
Berita Terkait
-
Minyak Hampir USD120 per Barel, Dunia Masuk Era Suku Bunga Tinggi Lebih Lama
-
Dari Purbaya Effect ke Purbaya Pretext: Ketika Optimisme Pasar Mulai Goyah
-
Kunjungan Wisata Naik 12,5 Persen, Surabaya Vaganza 2026 Dongkrak Ekonomi dan Pariwisata
-
Aturan Baru Selat Hormuz, Iran Siap Tarik Biaya Layanan Kapal
-
Apa Itu Lipstick Effect? Fenomena Berburu 'Kemewahan Kecil' saat Ekonomi Sulit
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
-
Aksi Mahasiswa Dibatasi hingga UOB Plaza, Polda Metro Siagakan 9.242 Personel
-
Jelang Demo Mahasiswa Hari ini, 21 Orang Bawa Bom Molotov Ditangkap Polisi
Terkini
-
Ketika Video Kekerasan Pelajar Kembali Viral, Siapa yang Sebenarnya Gagal Melindungi Mereka?
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
-
Pendaki Asal Brebes Dilaporkan Jatuh ke Kawah Gunung Slamet saat Swafoto
-
Daftar HP Samsung yang Tak Lagi Dapat Security dan Android Update Tahun Ini
-
Rupiah Takluk Lawan Dolar AS Hari Ini di Level Rp17.844
-
"Paket Santet" Hadirkan Teror Lewat Kiriman Online dan Dendam Masa Lalu
-
Detik-detik Kapolsek dan Danramil Cicalengka Dipukuli Peserta Karnaval, Pelaku Ditangkap
-
Perpres Ojol Masuk Tahap Finalisasi, DPR dan Pemerintah Masih Berkoordinasi
-
56 Ribu Anak Sleman Diskrining Kesehatan: Hipertensi, Prediabetes hingga Depresi Berat Ditemukan
-
Gejolak Aceh-Papua Dinilai Bukan Kebetulan, Negara Disebut Gagal Pahami Akar Masalah