News / Nasional
Senin, 01 Juni 2026 | 13:32 WIB
Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto (Suara.com/Faqih Fathurrahman)
Baca 10 detik
  • Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengkritik kondisi ekonomi dan pelemahan rupiah yang mengkhawatirkan saat peringatan Hari Lahir Pancasila di Jakarta.
  • Hasto menyoroti defisit fiskal, utang negara, tingginya harga pangan, serta kesulitan lapangan kerja yang berdampak buruk bagi masyarakat.
  • PDIP mendesak pemerintah melakukan rekonsolidasi fiskal yang berpihak kepada rakyat kecil sebagai bentuk implementasi nilai-nilai perjuangan Pancasila.

Suara.com - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengkritik kondisi ekonomi dan fiskal yang dinilainya mengkhawatirkan, khususnya terkait pelemahan rupiah dan belanja negara.

Hal itu disampaikan Hasto saat peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni, di Halaman Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).

"Defisit transaksi berjalan pada kuartal pertama tahun 2026 dan keseimbangan primer yang negatif dalam APBN kita sangatlah mengkhawatirkan. Utang harus dibayar dengan utang, gali lubang tutup lubang," kata Hasto.

Hasto juga menyoroti pelemahan rupiah sebagai indikator adanya masalah yang lebih dalam.

“Terlebih dengan pelemahan rupiah akhir-akhir ini yang menggambarkan adanya persoalan yang bersifat struktural dan ada persoalan terkait dengan kepercayaan," ujarnya.

Menurut Hasto, usulan rekonsolidasi fiskal yang digagas PDIP melalui tema Fiscal Resilience (Ketahanan Fiskal) masih diwarnai oleh berbagai bentuk belanja negara yang bersifat populis dengan harapan elektoral.

Saat ini, lanjut Hasto, kenaikan harga kebutuhan pangan rakyat telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.

Terlebih, masih sulitnya mencari lapangan kerja dan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Berbagai persoalan kenaikan harga kebutuhan pangan rakyat, kemiskinan, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan pemutusan hubungan kerja kini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan,” jelasnya.

Baca Juga: Prabowo dan Megawati Akrab di Gedung Pancasila: Saling Persilakan Jalan Berujung Gandengan dan Tawa

Hasto menilai kebijakan fiskal yang tidak berpihak pada rakyat kecil bertentangan dengan spirit Pancasila sebagai narasi pembebasan.

"Rekonsolidasi fiskal yang kami usulkan bukan sekadar teknis, tapi soal keberpihakan pada rakyat, bukan pada ambisi kekuasaan," katanya.

Dalam sambutannya, Hasto juga menyampaikan amanat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada para kader agar tetap menjadi banteng yang membela rakyat.

"Jadilah banteng-banteng sejati yang membela setiap rakyat yang tertindas di seluruh lapisan Indonesia kita,” kata Hasto menyampaikan amanat Megawati.

Adapun sejumlah tokoh DPP PDIP hadir langsung dalam upacara tersebut, antara lain Ganjar Pranowo, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Tri Rismaharini, Sri Rahayu, Ribka Tjiptaning, Wiryanti Sukamdani, Charles Honoris, Darmadi Durianto, Deddy Sitorus, Mercy Chriesty Barends, Bintang Puspayoga, Yasonna Laoly, Yoseph Aryo Adhi Dharmo, dan Yuke Yurike.

Sementara itu, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengikuti upacara secara daring.

Load More