- Presiden Prabowo Subianto mengajak bangsa Indonesia mengakui tantangan ketidakmerataan ekonomi pada upacara Hari Kelahiran Pancasila, Senin (1/6/2036).
- Pemerintah berencana melakukan transformasi menuju ekonomi Pancasila untuk memastikan kekayaan alam dikelola demi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.
- Strategi hilirisasi dan ekspor satu pintu diterapkan untuk mencegah nilai tambah kekayaan alam dinikmati oleh pihak luar negeri.
Suara.com - Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh pihak untuk berani mengakui kelemahan dan kesulitan yang dihadapi Indonesia, termasuk terkait pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang belum merata.
"Selama beberapa dasawarsa terakhir, Indonesia ekonominya memang tumbuh, tapi apakah pertumbuhan itu sudah merata, sudah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia secara adil? Marilah kita jujur melihat kenyataan yang kita hadapi sekarang," kata Prabowo dalam amanat pada Upacara Peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Kementerian Luar Negeri, Senin (1/6/2036).
Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam dan kekayaan yang luar biasa.
Menurutnya, dengan kapasitas Indonesia sebagai produsen terbesar sejumlah komoditas penting di dunia serta capaian swasembada pangan, Indonesia kini lebih siap menghadapi berbagai tantangan.
"Namun, kita harus mengakui bahwa terlalu lama kekayaan kita tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Terlalu lama sebagian nilai tambah atas sumber daya kita dinikmati di luar negeri. Terlalu lama rakyat kita hanya menjadi penonton di atas kekayaan bangsanya sendiri," kata Prabowo.
Ekonomi Pancasila
Prabowo menyatakan keinginannya untuk melakukan transformasi bangsa, terutama transformasi ekonomi nasional Indonesia.
"Transformasi dari ekonomi yang belum sepenuhnya berlandaskan Pancasila menuju ekonomi yang sungguh-sungguh berdasarkan Pancasila," kata Prabowo.
Prabowo menjelaskan bahwa ekonomi berdasarkan Pancasila merupakan ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai dari lima sila, mulai dari ekonomi yang religius, berkemanusiaan, hingga ekonomi yang memperkuat persatuan nasional.
"Pembangunan ekonomi tidak boleh hanya menghasilkan angka-angka statistik. Pembangunan ekonomi harus menghasilkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Prabowo.
Baca Juga: Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Prabowo menegaskan bahwa ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang berpihak pada kepentingan nasional dan kepentingan rakyat.
"Ekonomi kita tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang saja," kata Prabowo.
Prabowo menyoroti bahwa selama ini harga berbagai kekayaan alam Indonesia masih ditentukan oleh pihak dan negara lain. Selain itu, sebagian keuntungan dari sumber daya alam juga masih mengalir ke luar negeri.
"Karena itu, pemerintah menentukan ekspor sumber daya alam satu pintu. Kita juga harus melakukan investasi besar di bidang industrialisasi berdasarkan hilirisasi. Kita harus memperkuat pengelolaan devisa hasil ekspor dan memastikan bahwa kekayaan Indonesia memberi manfaat sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia," tutur Prabowo.
Prabowo menegaskan bahwa ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang egaliter dan ekonomi kerakyatan. Menurutnya, perekonomian Indonesia harus berjalan berdasarkan rancang bangun atau cetak biru yang telah disusun para pendiri bangsa, sebagaimana tertuang dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
Terakhir, Prabowo menekankan bahwa ekonomi Indonesia yang berlandaskan Pancasila adalah ekonomi yang berkeadilan sosial.
"Inilah tujuan dari seluruh perjuangan kita. Pertumbuhan ekonomi harus disertai pemerataan. Kemajuan harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia," ujar Prabowo.
Berita Terkait
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Jokowi 'Dilupakan' Tanpa Undangan, Hari Lahir Pancasila Jadi Panggung Keakraban Prabowo-Megawati
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Prabowo dan Megawati Akrab di Gedung Pancasila: Saling Persilakan Jalan Berujung Gandengan dan Tawa
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
Terkini
-
Kinerja Makin Solid, BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun Sambil Perkuat Ekonomi Kerakyatan
-
Purbaya: Sebagian Masyarakat Suka Program MBG, Banyak Sekolah Minta Kebagian
-
Kinerja Makin Solid, Dirut BRI: Laba Semester I 2026 Naik 17,5 Persen
-
BRI Terus Jadi Motor Ekonomi Kerakyatan, Laba Tembus Rp31,2 Triliun di Triwulan II 2026
-
Beli Merchandise National Geographic Dapat Diskon 10% Pakai BRI, Klaim di Sini
-
Dari Coffee Shop ke Tempat Sampah, Bagaimana Perjalanan Gelas Kopi Setelah Dipakai?
-
Gara-gara Pengisi Daya Ponsel, Begini Kronologi Kebakaran Kantor Grib Jaya
-
Konsisten Jadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan, BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun di Triwulan II 2026
-
Metodologi BPS Jadul, DPR Minta Data Desil Bansos Dievaluasi!
-
3 Bedak Padat di Alfamart untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Ulasan Pengguna