- WMO dan Met Office memproyeksikan suhu global akan melampaui batas 1,5 derajat Celsius dalam periode 2026 hingga 2030.
- Peningkatan suhu ekstrem ini berpotensi memicu bencana seperti gelombang panas, kekeringan, hingga kebakaran hutan di berbagai wilayah dunia.
- Kawasan Arktik diperkirakan mengalami pemanasan lebih cepat, yang berisiko memperburuk krisis iklim global secara signifikan dalam jangka panjang.
Selama lima tahun ke depan, suhu musim dingin di Arktik diproyeksikan meningkat hampir 3 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991–2020.
Fenomena ini terjadi karena semakin berkurangnya lapisan es dan salju yang sebelumnya memantulkan panas matahari kembali ke luar angkasa. Ketika es mencair, permukaan laut yang lebih gelap menyerap lebih banyak panas sehingga mempercepat pemanasan.
Para ilmuwan menyebut proses ini sebagai lingkaran umpan balik yang memperburuk krisis iklim.
Selain suhu yang meningkat, luas es laut Arktik pada musim panas juga diperkirakan terus menyusut.
Laporan WMO memperkirakan kawasan hutan hujan Amazon akan mengalami kondisi yang lebih panas dan lebih kering dibandingkan biasanya.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan di salah satu ekosistem terpenting dunia.
Amazon selama ini berperan sebagai penyerap karbon alami yang membantu memperlambat laju perubahan iklim. Namun jika kerusakan terus terjadi akibat kekeringan dan kebakaran, kemampuan tersebut dapat berkurang bahkan berbalik memperburuk pemanasan global.
Sementara itu, kawasan Sahel di Afrika yang selama ini kerap dilanda kekeringan justru diperkirakan menerima curah hujan lebih tinggi dari normal, sehingga meningkatkan risiko banjir.
Upaya Dunia Dinilai Belum Cukup
Baca Juga: BSDE Didepak dari MSCI, Bagaimana Prospek Sahamnya?
Pejabat iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai laju pemanasan global masih lebih cepat dibandingkan upaya dunia untuk menguranginya.
Kepala iklim PBB, Simon Stiell, mengatakan suhu ekstrem yang terjadi di berbagai wilayah dunia menunjukkan bahwa pembakaran batu bara, minyak, dan gas masih menjadi pendorong utama krisis iklim.
"Baik itu gelombang panas ekstrem, badai besar, banjir, kebakaran hutan, maupun kekeringan yang memengaruhi pasokan dan harga pangan, semua negara kini sudah membayar harga yang sangat mahal akibat krisis iklim global," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Teror Api Misterius Sleman: Sampel Gas Jadi Kunci, Baju Bisa Terbakar Sendiri
-
Kabar Baik! Jalur Lenteng Agung yang Amblas Bisa Dilalui Normal Besok Pagi
-
Kasus Korupsi Haji, KPK Segera Jebloskan Bos Maktour dan Eks Ketum Kesthuri ke Sel
-
Prabowo: Tak Ada Bangsa Lain yang Kasihan Kalau Kita Sulit
-
Pertemuan Langka di Gedung Pancasila: Prabowo, Megawati, JK, hingga Ma'ruf Amin Kumpul Satu Meja
-
Teror Api di Rumah Warga Sleman Belum Usai, Kebakaran Terjadi 73 Kali di 65 Titik
-
Prabowo Sebut Ada Kelompok yang Melawan Negara, Singgung Koruptor hingga Pelaku Ekonomi Ilegal
-
Hasto: Jangan Seperti Papua dan Aceh, Kaya SDA tapi Rakyat Belum Sejahtera
-
Prabowo Prediksi akan Ada Perlawanan dari Kelompok Tak Cinta Tanah Air
-
Prabowo: Ekonomi Indonesia Tak Boleh Hanya Menguntungkan Segelintir Orang