- AMDAL berubah dari sekadar dokumen administratif menjadi sistem perizinan yang cepat dan transparan.
- Fokus pengusaha bergeser dari menekan dampak menjadi upaya memberikan kehidupan regeneratif bagi ekosistem.
- AMDAL kini menjadi "GPS" komitmen perusahaan yang lebih mengutamakan hierarki mitigasi dibanding kompensasi.
Suara.com - Menyambut Hari Lingkungan Hidup 2026, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Health, Safety, and Environment (HSE) resmi membuka sebuah Seminar Nasional berskala besar pada Kamis (4/6/2026), di Auditorium Lantai 5, Sekolah Pascasarjana UGM.
Mengusung tema "Bridging Science, Policy, and Industry: Integrated Disaster Preparedness and Climate Resilience for Industrial Sectors", acara ini menjadi ruang intelektual yang sangat strategis karena mempertemukan tiga pilar utama: pemerintah, akademisi, dan praktisi industri.
Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah pergeseran fundamental mengenai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Hal ini dibedah tuntas melalui pemaparan Nugroho Indra Windardi, S.T., Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Selamat Tinggal Tumpukan Kertas, Menyambut Era Transparansi
Selama bertahun-tahun, AMDAL kerap terjebak dalam stigma birokrasi yang berbelit dan sekadar menggugurkan kewajiban administratif. Stigma inilah yang kini didobrak oleh pemerintah.
"Kalau kami sebut AMDAL, itu pasti teman-teman berpikirnya itu pasti dokumen, dokumen tebal, administratif. Kami ingin merubah mindset atau paradigma dari AMDAL yang saat ini ada," tegas Nugroho Indra di hadapan para peserta seminar. Ia menekankan, "Ini adalah kajian ilmiah yang penting untuk pengambilan keputusan, kemudian sampai kepada bagaimana menjaga lingkungan."
Lebih lanjut, wajah pelayanan birokrasi perizinan lingkungan juga dirombak agar lebih lincah dan berorientasi pada pelibatan publik.
"AMDAL kan anggapnya lama ya, bisa dua tahun, tiga tahun. Sekarang dimintanya kan cepat... cepat tapi harus cermat, tetapi harus transparan. Transparan itu apa? Lebih banyak melibatkan masyarakat," paparnya.
Pemerintah menaruh harapan besar agar paradigma lama yang tebal, lambat, dan mahal segera beralih menjadi sistem yang singkat, cepat, dan transparan.
Baca Juga: SPPG Diplesetkan 'Penjilat', Hasan Nasbi Kritik Pernyataan Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto
Pendekatan Regeneratif: Merawat Ekosistem, Bukan Sekadar Mencegah Dampak
Visi baru yang diusung pemerintah kini tidak lagi sebatas membatasi kerusakan, melainkan beralih ke pendekatan regeneratif. Fokus utama bergeser pada upaya pemulihan dan mempertahankan kehidupan ekosistem di sekitar wilayah industri.
"Mindset pertama kepada pelaku usaha itu bukan mencegah dampaknya, tapi bagaimana berkontribusi memberikan 'regenerative life' kepada lingkungan. Jadi perbaiki lingkungan itu, kemudian perusahaan itu akan sustain atau tangguh kepada bencana. Karena alam itu akan menjaga kita, kalau kita jaga alam itu," ujar Nugroho Indra, memberikan penekanan pada inti pesan pemaparannya.
Cara kerja AMDAL pun berevolusi. Kajian kini lebih menitikberatkan pada perlindungan fungsi alam.
"Dulu kita itu melihat kegiatan AMDAL itu adalah... ada kegiatan, berdampak apa kepada lingkungan. Nah saat ini, kami dalam proses pengambilan keputusan justru melihatnya: apakah di lingkungan itu, di landscape itu, di eco-region itu, ada fungsi-fungsi ekologis yang harus kita jaga atau tidak? Jasa-jasa ekosistem apa yang harus kita perhatikan dan harus kita jaga?"
AMDAL Sebagai 'GPS' Komitmen Perusahaan
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL