-
KAGAMA HSE menggelar seminar nasional terkait pemulihan lingkungan serta penanggulangan bencana.
-
Aturan mewajibkan perusahaan menanam minimal 40 persen jenis pohon lokal.
-
Pohon lokal seperti Ulin dan Eboni efektif pulihkan ekosistem tambang.
Suara.com - Apabila tak ditangani dengan baik, lahan bekas tambang dapat menimbulkan kerugian lingkungan yang serius. Terdapat beragam jenis pohon tertentu yang ternyata dapat memulihkan lahan bekas tambang sehingga berdampak positif ke lingkungan.
Topik pemulihan lingkungan serta penanggulangan bencana dibahas oleh akademisi melalui seminar khusus.
Sebagai informasi, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Health, Safety, and Environment (HSE) menggelar seminar nasional yang berlangsung dua hari, yaitu 4 hingga 5 Juni 2026 di Auditorium Lantai 5, Sekolah Pascasarjana UGM.
Seminar KAGAMA HSE kali ini mengusung tema "Bridging Science, Policy, and Industry: Integrated Disaster Preparedness and Climate Resilience for Industrial Sectors" untuk memeriahkan Hari Lingkungan Hidup 2026.
Tiga perwakilan dari pemerintah, akademisi, dan praktisi industri memaparkan presentasi serta diskusi ketahanan iklim, kesiapsiagaan, serta mitigasi bencana dalam sains dan terapan.
Salah satu pembicara yang dihadirkan adalah Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For. Sc.
Ia merupakan dosen senior di Departemen Silvikultur-Fakultas Kehutanan dan Lingkungan & Pusat Studi Reklamasi Tambang LRI LPI, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Menurut penjelasan Irdika Mansur, terdapat peraturan pemerintah yang mengikat terkait pemulihan bekas tambang.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.60 Tahun 2009, perusahaan tambang diwajibkan menanam minimal 40 persen jenis pohon lokal atau tanaman serbaguna (MPTS) berdaur (berumur) panjang.
Baca Juga: Resmi Dibuka, Seminar KAGAMA HSE 2026 di UGM Ingatkan Ancaman Bencana Sektor Industri Nasional
Langkah ini sangat krusial untuk memastikan bahwa lahan yang sebelumnya terbuka dapat kembali memiliki ekosistem yang stabil dan berfungsi secara ekologis seperti sedia kala.
Beberapa jenis pohon lokal berumur panjang telah sukses ditanam di area reklamasi, di antaranya adalah pohon Ulin, Eboni, Meranti, Merbau, dan Kapur.
Pohon-pohon ini dipilih karena nilai konservasinya yang tinggi meskipun memiliki masa tumbuh yang sangat lama; sebagai contoh, pohon Ulin diperkirakan baru bisa dipanen setelah 100 tahun, sementara Eboni membutuhkan waktu sekitar 50 tahun.
Penanaman spesies ini menunjukkan komitmen jangka panjang dalam menyelamatkan kekayaan nabati asli Indonesia yang pertumbuhannya melampaui usia satu generasi manusia.
Beberapa jenis pohon penghasil hutan bukan kayu yang dapat ditanam mencakup Damar, Gaharu, Kenanga, dan Kayu Putih.
Irdika Mansur menjelaskan, satwa liar juga akan kembali setelah ekosistem berangsur pulih.
Berita Terkait
-
Resmi Dibuka, Seminar KAGAMA HSE 2026 di UGM Ingatkan Ancaman Bencana Sektor Industri Nasional
-
Di Tengah Laju Pembangunan Bali, Inisiatif 1.000 Pohon Ini Jadi Alternatif Jaga Ruang bagi Alam
-
Diduga Tewas Saat Curi Mangga, Keluarga Pelaku Serang Rumah Pemilik Pohon di Bontang
-
Menyusuri Teduh Pantai Cemara di Ujung Selatan Jember
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan