Suara.com - Hutan mangrove selama ini dikenal sebagai salah satu benteng alami terpenting dalam menghadapi perubahan iklim. Selain melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang badai, ekosistem pesisir ini juga mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH)(4/6/2026), Indonesia memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia dengan luas mencapai 3.455.628 hektare. Angka tersebut mengacu pada SK Nomor 3438 Tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional dan mencakup sekitar 20–25 persen dari total luas mangrove dunia.
Namun, benteng alami ini menghadapi ancaman yang semakin serius. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut dapat mengganggu kemampuan mangrove dalam menyerap dan menyimpan karbon. Dalam kondisi tertentu, mangrove bahkan berpotensi menjadi sumber emisi karbon di masa depan.
Melihat Masa Depan Mangrove melalui Penelitian
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Earth's Future menemukan bahwa hubungan antara kenaikan permukaan laut dan kemampuan mangrove menyimpan karbon ternyata lebih kompleks daripada yang selama ini diperkirakan. Salah satu peneliti dalam studi tersebut, Dr. Arya Iwantoro, menjelaskan bahwa banyak penelitian sebelumnya hanya berfokus pada pengamatan lapangan di lokasi tertentu. Akibatnya, perubahan yang terjadi pada seluruh ekosistem mangrove dalam jangka panjang belum sepenuhnya terlihat.
“Penelitian tentang penyimpanan karbon di hutan mangrove biasanya didasarkan pada pengamatan lapangan, dan studi tersebut menemukan bahwa penyimpanan karbon dapat meningkat seiring naiknya permukaan laut. Namun, hal ini mungkin tidak mengungkapkan gambaran yang lebih luas tentang apa yang terjadi di seluruh hutan secara keseluruhan,” ujar Dr. Arya.
Untuk memahami kondisi tersebut dengan lebih baik, para peneliti mengembangkan model yang menggabungkan pergerakan air dan sedimen, pertumbuhan serta kematian mangrove, hingga proses penyimpanan karbon di dalam tanah. Model ini digunakan untuk memprediksi bagaimana ekosistem mangrove merespons kenaikan permukaan laut dalam jangka panjang.
Mengurangi Kemampuan Mangrove dan Berbalik Menjadi Ancaman
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut pada tahap awal memang dapat meningkatkan penyerapan karbon di beberapa lokasi. Namun, jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut justru dapat mengurangi kemampuan mangrove menyimpan karbon secara keseluruhan.
Baca Juga: Antisipasi Ancaman Abrasi, Kolaborasi Platform Digital Dorong Pendanaan Hijau Berbasis ESG
Salah satu peneliti dari Universitas Exeter, Luisa Fernanda Gómez Vargas, menjelaskan bahwa kenaikan permukaan laut yang terlalu cepat dapat menyebabkan mangrove mengalami kondisi yang disebut drowning atau tenggelam secara bertahap. Ketika hal itu terjadi, pohon mangrove dapat mati dan karbon yang selama ini tersimpan di dalam tanah berpotensi kembali terlepas ke atmosfer.
“Tumbuhan mangrove sangat terspesialisasi dan membutuhkan durasi genangan air tertentu setiap kali air pasang,” kata Luisa.
Temuan ini menjadi peringatan penting bagi Indonesia yang memiliki kawasan mangrove terluas di dunia. Tanpa upaya perlindungan dan restorasi yang memadai, Indonesia berisiko kehilangan salah satu penyerap karbon alami paling efektif.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL