News / Internasional
Senin, 08 Juni 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi tsunami. [George Desipris/Pexel]
Baca 10 detik
  • BMKG mengonfirmasi tsunami minor setinggi 9-18 cm telah menyentuh tiga wilayah pesisir Indonesia.

  • Puncak gelombang diproyeksikan dapat meningkat dan memicu status bahaya hingga level Awas.

  • Gempa bermagnitudo 7,7 di Laut Sulawesi menjadi pemicu utama aktifnya sistem peringatan dini.

Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan gelombang tsunami minor pascagempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 di Laut Sulawesi. Pesisir utara dan timur Indonesia kini masuk dalam pemantauan ketat akibat potensi kenaikan air laut tersebut.

Instrumen observasi mencatat fluktuasi air laut berkisar antara 9 hingga 18 sentimeter di tiga titik pengamatan. Lokasi yang mengonfirmasi kedatangan gelombang ini meliputi Ulu Siau, Melonguane, dan sebuah pos pantau di Maluku Utara.

Meskipun riak gelombang yang tiba pertama kali ini terhitung rendah, ancaman besar dinilai belum sepenuhnya berlalu. Otoritas keselamatan meminta warga tidak mengabaikan prosedur evakuasi yang sedang berjalan di lapangan.

Wilayah RI Rawan Megathrust (Unsplash)

Proyeksi komputer menunjukkan bahwa akumulasi energi gempa berpotensi memicu gelombang yang jauh lebih tinggi. Level ancaman di beberapa titik pantai bahkan diprediksi dapat melonjak hingga status Siaga dan Awas.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mendesak aparatur daerah dan warga sipil untuk terus mencermati perkembangan situasi. Pembaruan informasi harus dipantau langsung lewat platform digital resmi milik pemerintah.

"Kami meminta seluruh masyarakat untuk terus memantau atau mengikuti informasi yang diberikan oleh BMKG karena menurut pemodelan, ada beberapa wilayah yang dari sisi pemodelan akan siaga, tinggi tsunaminya berkisar antara Siaga dan juga Awas," ujarnya.

Langkah mitigasi saat ini difokuskan pada pengawasan langsung terhadap fluktuasi air laut di wilayah terdampak. Petugas di lapangan memanfaatkan jejaring tide gauge untuk membaca pergerakan air secara seketika.

Kolaborasi antarlembaga diperketat guna mengantisipasi skenario terburuk di zona pesisir. Detektor tsunami seketika dioptimalkan demi menjamin akurasi data yang disebarkan kepada publik.

Langkah cepat diambil otoritas dengan menerbitkan peringatan bahaya dalam waktu di bawah sepuluh menit usai guncangan. Sistem peringatan dini langsung aktif guna meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Hari Ini, BMKG Klarifikasi Isu Kondisi Ekstrem 'Bediding'

Peristiwa ini dipicu oleh aktivitas tektonik hebat yang berpusat di bawah dasar Laut Sulawesi pada Senin pagi. Lindu terjadi tepat pada pukul 06.37 WIB dengan kedalaman fraktur mencapai 47 kilometer.

Pusat guncangan utama berada di area sebelah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara. Secara geografis, posisi runtuhan tersebut masuk dalam peta sektor Mindanao, Filipina.

Load More