-
Iran memberi ultimatum kepada Amerika Serikat untuk memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan.
-
Garda Revolusi Iran membalas serangan AS dengan menggempur pangkalan militer di Bahrain dan Yordania.
-
Gencatan senjata yang disepakati sejak Februari lalu runtuh akibat tuduhan pelanggaran oleh pihak AS.
Suara.com - Perang bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat kembali eskalatif pasca-aksi saling serang di kawasan strategis Timur Tengah. Teheran kini melayangkan ultimatum keras yang memaksa Washington menentukan arah diplomasi atau konfrontasi terbuka.
Situasi memanas ini dipicu oleh gempuran militer terbaru Amerika Serikat ke wilayah Iran yang merusak fasilitas infrastruktur sekunder. Rezim Teheran menegaskan tidak akan membiarkan kedaulatannya diusik tanpa ada tindakan balasan yang setimpal.
Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, langsung melemparkan pesan diplomatik yang menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak Gedung Putih. Pilihan yang disodorkan kini berada di tangan otoritas sekutu utama Israel tersebut.
"Syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih—gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak bisa mendapatkan keduanya. Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola ada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya," tulis Araghchi di X dikutip Kamis pagi ini.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap tidak kompromi dari korps diplomatik Teheran terhadap manuver militer Barat. Posisi geopolitik kawasan kini berada di ambang ketidakpastian yang jauh lebih rapuh dari sebelumnya.
Angkatan bersenjata Iran memastikan bahwa setiap bentuk provokasi asing di wilayah mereka akan menerima konsekuensi fatal. Pernyataan keras ini didukung oleh kesiapan penuh dari seluruh elemen pertahanan negara.
Araghci lalu berujar, "Sejarah Teluk Persia memiliki banyak bab tentang nasib buruk orang luar yang mengganggu."
Konfrontasi fisik teranyar dilaporkan menyasar area Jask, Sirik, serta wilayah kepulauan Qeshm yang strategis. Agresi udara Amerika Serikat meluluhlantakkan instalasi menara komunikasi beserta beberapa penampungan air bersih penduduk.
Langkah agresif Washington diklaim sebagai respons atas insiden penembakan helikopter Apache milik mereka di Selat Hormuz. Pihak Pentagon menuduh militer Iran sebagai aktor utama di balik ancaman penerbangan patroli tersebut.
Baca Juga: Fasilitas Jadi Sorotan, Jepang Pindahkan Persiapan Piala Dunia 2026 ke Nashville
Respons defensif langsung ditunjukkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui operasi balasan yang masif. Mereka mengarahkan serangan udara ke instalasi militer Amerika Serikat di Yordania dan Bahrain.
Operasi di Bahrain dilancarkan dengan mengandalkan unit pesawat tanpa awak yang menyasar pusat komando laut. Serangan presisi ini menyasar titik vital kekuatan armada tempur perairan milik Amerika Serikat.
"Sebagai tanggapan atas tindakan keji musuh, pesawat tempur angkatan laut IRGC melancarkan serangan drone terhadap Angkatan Laut ke-5 Bahrain pada pukul 02.30," demikian pernyataan IRGC , dikutip AFP.
Tak berhenti di situ, satuan artileri udara Iran juga menembakkan proyektil kendali jarak jauh menuju wilayah Yordania. Target operasi tersebut adalah basis pertahanan udara yang menampung alat utama sistem persenjataan mutakhir.
Otoritas pertahanan Iran mengklaim berhasil melumpuhkan empat instalasi penting termasuk hanggar jet tempur siluman F-35. Pusat kendali strategis Amerika Serikat di Al-Azraq dilaporkan mengalami kerusakan signifikan akibat hantaman rudal.
Hubungan bilateral kedua negara sebenarnya sempat mereda melalui kesepakatan penghentian konflik yang disepakati akhir Februari lalu. Dokumen perjanjian tersebut awalnya memproyeksikan stabilitas jangka panjang di wilayah Lebanon dan Iran.
Namun, implementasi di lapangan tidak berjalan mulus karena tuduhan pelanggaran komitmen yang dilayangkan oleh Teheran. Israel dan Amerika Serikat dinilai secara sepihak mengabaikan poin-poin krusial dalam pakta gencatan senjata.
Akibat kegagalan diplomasi ini, kontak senjata terbuka kembali menjadi instrumen utama dalam penyelesaian sengketa wilayah. Koridor logistik dan militer di Timur Tengah kini kembali masuk dalam zona bahaya tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Terkini
-
Piala Presiden 2026: Gol Bunuh Diri Konyol Nodai Debut Shin Tae-yong
-
ICCS 2026: Dorong Konten Kreator Tak Hanya Berdiskusi, tapi Langsung Berkarya
-
Notarace 2026: Gaya Hidup Sehat Menjadi Momen Silaturahmi Ribuan Notaris
-
Rehabilitasi Mangrove Berkelanjutan, 21.060 Bibit Ditanam di Pesisir Jakarta
-
Pembalut Kain Makin Dilirik, WCC Palembang Kenalkan Cindo-Pads untuk Menstruasi Sehat
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Dari Parenting hingga Drone, Dua Kreator Ungkap Pesona Pesisir Jakarta
-
Merawat Nyala Wayang Palembang, Warisan Kesultanan yang Menjadi Ruang Belajar Generasi Muda
-
Promo Spesial BRI, Makan Enak di Ramen Girl Dapat Potongan Harga!
-
Usut Bentrokan Menteng, Polisi Dalami Peran 15 Orang yang Diamankan