-
Citra satelit mendeteksi bintik gelap yang mengindikasikan hanggar pangkalan udara Israel hancur dibom Iran.
-
Teheran menegaskan serangan rudal balistik merupakan balasan atas gempuran Israel ke warga sipil Lebanon.
-
Gencatan senjata regional dipastikan gagal setelah kedua negara kembali meluncurkan gelombang serangan udara.
Suara.com - Bukti visual terbaru menunjukkan hanggar di Pangkalan Udara Ramat David, Israel utara, diduga kuat hancur akibat hantaman rudal balistik Iran. Kebocoran pertahanan udara ini terungkap melalui analisis mendalam terhadap citra satelit yang dirilis oleh perusahaan pemantau udara.
Foto beresolusi rendah yang diambil oleh Soar pada hari Senin menunjukkan bintik gelap di lokasi hanggar tersebut berada, jika dibandingkan dengan citra dari tanggal 5 Juni. Penemuan ini memicu kekhawatiran baru mengenai efektivitas sistem penangkis rudal milik Tel Aviv dalam menghadapi gempuran udara.
Dikutip dari MEMO, analisis intelijen tersebut mengindikasikan bahwa fasilitas militer strategis ini mungkin telah terkena hantam selama eskalasi dengan Iran. Kendati demikian, laporan internal menyebutkan masih belum jelas apa isi di dalam struktur tersebut saat dampak serangan terjadi atau seberapa besar tingkat kerusakan yang dialami.
Sampai saat ini, pihak Angkatan Bersenjata Israel belum memberikan komentar resmi terkait laporan sensitif ini. Sikap bungkam tersebut justru memperkuat spekulasi publik mengenai dampak fatal dari serangan balasan Teheran.
Militer Iran pada hari Minggu menyatakan bahwa mereka membidik Pangkalan Udara Ramat David milik Israel dengan rudal balistik. Langkah agresif ini diklaim sebagai balasan langsung atas kekejaman militer sekutu Barat tersebut di wilayah regional.
Pihak Teheran menggambarkan serangan itu sebagai respons terhadap serangan Israel terhadap warga sipil di Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut. Konflik kedua negara kini berada pada titik paling kritis dalam sejarah modern.
Situasi memanas pada hari Minggu ketika Israel membom ibu kota Lebanon meskipun gencatan senjata sedang berlangsung. Aksi provokatif ini memicu kemarahan besar dari poros perlawanan di kawasan tersebut.
Tindakan sepihak itu mendorong Iran meluncurkan rudal ke Israel utara sebagai pembalasan, dengan Israel merespons melalui beberapa gelombang serangan udara terhadap Iran. Saling balas serangan ini menghancurkan harapan perdamaian jangka panjang.
Eskalasi berbahaya ini terus berlanjut hingga hari Senin di mana kepanikan melanda warga perbatasan. Namun, militer Iran kemudian mengatakan telah menghentikan serangan terhadap Israel untuk sementara waktu.
Baca Juga: Helikopter Apache Jatuh, AS Menggila! Iran Dibombardir di Selat Hormuz
Teheran sekaligus memberikan peringatan akan tanggapan yang "menghancurkan" jika serangan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut. Ancaman ini membuat seluruh pasukan komando di kawasan bersiaga penuh.
Sejak AS dan Israel meluncurkan serangan udara terhadap Iran pada akhir Februari lalu, kawasan tersebut terus berada dalam kondisi tegang. Instabilitas keamanan ini memicu gelombang perlawanan yang lebih masif.
Kondisi tersebut menyebabkan pembalasan Iran terhadap Israel dan negara-negara regional lain yang menampung aset-aset AS. Blokade ekonomi dan jalur udara kini membayangi wilayah Timur Tengah.
Sebuah gencatan senjata sementara sebenarnya sempat dicapai pada tanggal 8 April lalu untuk meredam konflik. Namun, kesepakatan damai tersebut tidak bertahan lama di meja perundingan.
Negosiasi kemudian terhenti di tengah perselisihan mengenai implementasinya dan perkembangan regional yang terjadi setelahnya. Kegagalan diplomasi ini diprediksi akan memperpanjang penderitaan warga sipil di kedua belah pihak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Shin Tae-yong Resmi Dihukum 10 Tahun, Bagaimana Nasibnya di Persija Jakarta?
- 4 Zodiak yang Diprediksi Hidup Lebih Tenang dan Damai di Akhir Juli 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Diwarnai Kontak Tembak, TNI Evakuasi Dua Jenazah Korban OPM di Yahukimo
-
7 Physical Sunscreen Terbaik untuk Kulit Sensitif sesuai Review dan Harga
-
Sesama Introvert, Samo Rafael & Shanna Shannon Diuji Bangun Chemistry di Film Dan Bandung
-
Kenapa Masalah Kecil Terasa Sangat Besar di Kepala?
-
Alasan Nabila Gardena Mendadak Viral, Benarkah Terseret Isu Korupsi BUMN?
-
Hasto Wanti-wanti Demokrasi Bisa Mati Tanpa Kudeta Militer, Tanda-tanda Mulai Terlihat
-
Pramono Ancam Cabut Izin Swasta yang Timbun Sampah Ilegal di Jakarta
-
Yusril Minta Polda Jabar Tingkatkan Patroli Usai Polemik Sayembara Tangkap Begal
-
Evolusi Konten GRWM: Dari Sekadar Tutorial Makeup Menjadi Ruang Curhat Paling Relatabel
-
Cak Imin Ajak Semua Parpol Revisi 108 UU demi Wujudkan Prabowonomics