News / Nasional
Jum'at, 12 Juni 2026 | 19:14 WIB
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha. [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Dewan Energi Nasional mengidentifikasi tangki minyak menganggur berkapasitas 9 juta barel untuk memperkuat cadangan penyangga energi nasional.
  • Pemanfaatan fasilitas tersebut dilakukan guna mengatasi keterbatasan anggaran pemerintah dalam membangun infrastruktur penyimpanan baru secara langsung.
  • Cadangan penyangga energi akan disimpan khusus untuk menghadapi kondisi krisis, berbeda dengan cadangan operasional harian nasional.

Suara.com - Dewan Energi Nasional (DEN) tengah mengidentifikasi tangki-tangki minyak yang menganggur (idle) untuk dimanfaatkan kembali. Langkah tersebut sekaligus bertujuan memperkuat cadangan penyangga energi (CPE) nasional.

Anggota DEN, Satya Widya Yudha, menuturkan langkah itu dilakukan karena kebutuhan tangki penyimpanan dinilai sangat besar jika pemerintah harus membangun fasilitas baru secara langsung.

Ia menjelaskan, kapasitas tangki yang dibutuhkan untuk cadangan penyangga energi dihitung berdasarkan kebutuhan selama 30 hari dikalikan volume impor energi Indonesia, baik untuk minyak mentah, LPG, maupun BBM.

"Nah, karena tangki besar itu sehingga kemampuan negara untuk membangun langsung kan pasti terbatas. Apalagi kan ini hanya dipakai di saat kondisi krisis dan darurat. Maka jalan keluarnya adalah kita mengidentifikasi tangki-tangki yang idle (menganggur)," kata Satya saat ditemui di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (12/6/2026).

Menurut Satya, total kapasitas tangki idle yang berpotensi dimanfaatkan bisa mencapai sekitar 9 juta barel. Namun, kondisi fasilitas tersebut masih harus diperiksa karena ada yang memerlukan perbaikan sebelum digunakan kembali.

"Kalau ditotal ya bisa sampai 9 juta barel, tapi kan harus dicek dulu karena kalau yang sudah idle ya harus diperbaiki," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Satya menegaskan bahwa cadangan penyangga energi berbeda dengan cadangan operasional yang selama ini dikenal publik.

Ia menyebut cadangan energi nasional terbagi menjadi tiga kategori, yakni cadangan operasional, cadangan penyangga energi, dan cadangan strategis.

Menurut dia, cadangan operasional merupakan stok harian yang saat ini berkisar antara 19 hingga 21 hari, tergantung jenis komoditas BBM. Sementara itu, cadangan penyangga energi merupakan stok yang benar-benar disimpan dan hanya dikeluarkan ketika terjadi krisis.

Baca Juga: Industri Manufaktur Didesak Beralih ke Energi Hijau, Jangan Tunggu Sampai Kalah Saing

"Nah, kalau cadangan penyangga ini itu betul-betul ditimbun didiamin, kalau dia kondisi krisis baru ini dikeluarkan. Kalau di Amerika namanya Strategic Petroleum Reserve," ujarnya.

Selain mengidentifikasi tangki menganggur untuk dimanfaatkan kembali, kata Satya, pemerintah juga berencana meningkatkan kapasitas cadangan operasional hingga mencapai 30 hari. Meski demikian, hingga saat ini cadangan operasional diklaim masih dalam kondisi aman.

Penambahan kapasitas penyimpanan (storage) tersebut rencananya dilakukan melalui pembangunan fasilitas baru di Sumatera.

Terkait penggunaan cadangan penyangga energi, Satya mengatakan Indonesia sejauh ini belum pernah masuk dalam kondisi krisis energi. Menurut dia, yang terjadi selama ini masih berada pada tahap prakrisis sehingga pemerintah masih dapat melakukan langkah mitigasi lebih awal.

Ia mencontohkan ketika pasokan energi dari Timur Tengah sempat terhambat, pemerintah melakukan berbagai langkah diplomasi untuk menjaga pasokan nasional.

Salah satunya melalui upaya penjajakan tambahan suplai minyak dari Rusia untuk memperkuat cadangan operasional dalam negeri.

"Yang terjadi di Indonesia itu prakrisis, jadi kita pra langsung kita mitigasi," tandasnya.

Load More