- Dewan Energi Nasional mengidentifikasi tangki minyak menganggur berkapasitas 9 juta barel untuk memperkuat cadangan penyangga energi nasional.
- Pemanfaatan fasilitas tersebut dilakukan guna mengatasi keterbatasan anggaran pemerintah dalam membangun infrastruktur penyimpanan baru secara langsung.
- Cadangan penyangga energi akan disimpan khusus untuk menghadapi kondisi krisis, berbeda dengan cadangan operasional harian nasional.
Suara.com - Dewan Energi Nasional (DEN) tengah mengidentifikasi tangki-tangki minyak yang menganggur (idle) untuk dimanfaatkan kembali. Langkah tersebut sekaligus bertujuan memperkuat cadangan penyangga energi (CPE) nasional.
Anggota DEN, Satya Widya Yudha, menuturkan langkah itu dilakukan karena kebutuhan tangki penyimpanan dinilai sangat besar jika pemerintah harus membangun fasilitas baru secara langsung.
Ia menjelaskan, kapasitas tangki yang dibutuhkan untuk cadangan penyangga energi dihitung berdasarkan kebutuhan selama 30 hari dikalikan volume impor energi Indonesia, baik untuk minyak mentah, LPG, maupun BBM.
"Nah, karena tangki besar itu sehingga kemampuan negara untuk membangun langsung kan pasti terbatas. Apalagi kan ini hanya dipakai di saat kondisi krisis dan darurat. Maka jalan keluarnya adalah kita mengidentifikasi tangki-tangki yang idle (menganggur)," kata Satya saat ditemui di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (12/6/2026).
Menurut Satya, total kapasitas tangki idle yang berpotensi dimanfaatkan bisa mencapai sekitar 9 juta barel. Namun, kondisi fasilitas tersebut masih harus diperiksa karena ada yang memerlukan perbaikan sebelum digunakan kembali.
"Kalau ditotal ya bisa sampai 9 juta barel, tapi kan harus dicek dulu karena kalau yang sudah idle ya harus diperbaiki," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Satya menegaskan bahwa cadangan penyangga energi berbeda dengan cadangan operasional yang selama ini dikenal publik.
Ia menyebut cadangan energi nasional terbagi menjadi tiga kategori, yakni cadangan operasional, cadangan penyangga energi, dan cadangan strategis.
Menurut dia, cadangan operasional merupakan stok harian yang saat ini berkisar antara 19 hingga 21 hari, tergantung jenis komoditas BBM. Sementara itu, cadangan penyangga energi merupakan stok yang benar-benar disimpan dan hanya dikeluarkan ketika terjadi krisis.
Baca Juga: Industri Manufaktur Didesak Beralih ke Energi Hijau, Jangan Tunggu Sampai Kalah Saing
"Nah, kalau cadangan penyangga ini itu betul-betul ditimbun didiamin, kalau dia kondisi krisis baru ini dikeluarkan. Kalau di Amerika namanya Strategic Petroleum Reserve," ujarnya.
Selain mengidentifikasi tangki menganggur untuk dimanfaatkan kembali, kata Satya, pemerintah juga berencana meningkatkan kapasitas cadangan operasional hingga mencapai 30 hari. Meski demikian, hingga saat ini cadangan operasional diklaim masih dalam kondisi aman.
Penambahan kapasitas penyimpanan (storage) tersebut rencananya dilakukan melalui pembangunan fasilitas baru di Sumatera.
Terkait penggunaan cadangan penyangga energi, Satya mengatakan Indonesia sejauh ini belum pernah masuk dalam kondisi krisis energi. Menurut dia, yang terjadi selama ini masih berada pada tahap prakrisis sehingga pemerintah masih dapat melakukan langkah mitigasi lebih awal.
Ia mencontohkan ketika pasokan energi dari Timur Tengah sempat terhambat, pemerintah melakukan berbagai langkah diplomasi untuk menjaga pasokan nasional.
Salah satunya melalui upaya penjajakan tambahan suplai minyak dari Rusia untuk memperkuat cadangan operasional dalam negeri.
"Yang terjadi di Indonesia itu prakrisis, jadi kita pra langsung kita mitigasi," tandasnya.
Berita Terkait
-
Industri Manufaktur Didesak Beralih ke Energi Hijau, Jangan Tunggu Sampai Kalah Saing
-
Keterangan Pers Bahlil Terkait Kenaikan Harga Pertamax dan Pemadaman Listrik Bergilir
-
Harga Minyak Dunia Lesu Setelah Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran
-
Jakarta Bakal Gelap Gulita Selama 60 Menit pada Sabtu Malam, Ini Alasannya
-
4 Shio yang Hoki 12 Juni 2026, Segalanya Diprediksi Berjalan Lancar
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123