- Tim PKPE UGM menyimpulkan kebakaran di Sayegan, Sleman, bukan disebabkan oleh gas alam maupun fenomena terbakar sendiri.
- Peneliti menemukan residu PVC dan zat pelarut pada lokasi kejadian sebagai sumber pemicu kobaran api tersebut.
- Tim UGM tidak menemukan pemantik utama kebakaran dan menyerahkan hasil penelitian tersebut kepada pihak BPBD Sleman.
Suara.com - Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan fenomena kebakaran misterius di sebuah rumah di Sayegan, Sleman, bukan berasal dari rembesan gas alam maupun fenomena self-ignition alami.
Tim justru menemukan adanya residu material yang mengandung Poly Vinyl Chloride (PVC) di sejumlah titik kebakaran.
Anggota Tim Peneliti dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Sarju Winardi, mengatakan temuan tersebut diperoleh dari analisis residu di lokasi benda terbakar.
Menurut dia, substansi yang ditemukan diduga berasal dari material yang bercampur dengan zat pelarut atau solvent yang mudah terbakar.
"Tidak ada temuan bahwa api berasal dari gas yang sifatnya alami, tim PKPE menemukan bahwa ada resin poly vinyl chloride suatu zat yang mudah terbakar yang berada di tempat kejadian," kata Sarju, kepada wartawan, Sabtu (13/6/2026).
Dijelaskan Sarju, tim menemukan residu kandung PVC itu menempel di dinding, tripleks, dan kayu di titik-titik kebakaran. Sementara solvent dari material tersebut diduga menguap lalu terbakar setelah terkena pemantik tertentu.
"Jadi prinsipnya kami selesai pada tahap menemukan sumber dari api sekali lagi bukan gas alami, tapi ada satu matriks substans yang ditemukan sebagai residu di tempat terbakar yaitu ada residu dari poli vinyl klorid atau PVC. Jadi ada substansi itu dan menurut kami itu adalah sumber api yang bukan alami," ujarnya.
Sarju bilang residu dari PVC itu diduga berasal dari substansi yang awalnya adalah campuran.
"Yang residu itu adalah sisa dari solid materialnya, yang menjadi sumber dari api itu adalah campuran solvent-nya. Jadi rupa-rupanya materi ini awalnya adalah sesuatu yang sifatnya bercampur dengan sesuatu pelarut/solvent," tuturnya.
Baca Juga: Beda dari UGM, BRIN Ragukan Gas Limbah Ayam Picu Api Misterius di Sleman
Ia memaparkan bahwa proses pelarutan tersebut yang kemudian terlepas dan menghasilkan api.
Sementara zat pelarut (solvent) yang tersisa akan tertinggal sebagai residu.
Lebih lanjut, kata Sarju, bahwa timnya hanya mengidentifikasi keberadaan satu material tertentu yang ketika bercampur dengan zat pelarut (solvent), komponen pelarut inilah yang melepaskan gas hidrogen klorida.
Gas hidrogen klorida tersebut kemudian terdeteksi oleh alat sensor sebagai gas hidrogen, yang pada akhirnya memicu munculnya kobaran api dan meninggalkan sisa berupa residu.
"Nah pelarutan inilah yang kemudian lepas sebagai yang menghasilkan api, solvent-nya tertinggal sebagai residu. Nah zat ini ada di beberapa material," ujarnya.
Menurut Sarju, gas yang sebelumnya terbaca sebagai hidrogen oleh alat deteksi ternyata merupakan gas hidrogen klorida yang muncul saat material mengandung resin PVC terbakar. Gas itu kemudian memicu pembacaan silang pada alat detektor gas.
Berita Terkait
-
Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik
-
Ekonom UGM Bongkar Stress Test APBN, Rupiah Rp18.200 Jadi Ambang Kritis
-
Hari ke-17 Kebakaran Misterius Sleman: Api Muncul 113 Kali, Dua Rumah Tetangga Ikut Terbakar
-
Beda dari UGM, BRIN Ragukan Gas Limbah Ayam Picu Api Misterius di Sleman
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
- PT Blueray Cargo Milik Siapa? Perusahaan Logistik yang Seret Raffi Ahmad dalam Kasus Suap Importasi
Pilihan
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
Terkini
-
Turun ke Posko dan SMAN 3 Semarang, Ahmad Luthfi Pastikan SPMB Jateng Berjalan Lancar
-
Siapa ANH? Pria yang Ditetapkan Sebagai Tersangka karena Bawa Bom Molotov saat Demo 12 Juni
-
Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik
-
BGN Tegaskan Tuduhan Pembagian Dana MBG kepada Presiden adalah Hoaks
-
Saran Connie Bakrie ke Prabowo: Suruh Teddy Libur Dulu, Saatnya Dengar Orang-orang Berpengalaman
-
Peringatan Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II
-
DPR Khawatir Stok Pertalite Jebol Akibat Migrasi Pengguna Pertamax
-
Connie Bakrie Sebut IKN Sekarang Kalah Tenar Sama Program MBG Rp1 Triliun Per Hari
-
Tunjangan Guru Naik, Komisi X DPR Beri Jempol Tapi Kasih Catatan Penting Ini
-
Gak Pakai Ribet! Di Jakarta Fair 2026 Bisa Belanja Sambil Bayar Pajak Kendaraan