News / Nasional
Senin, 08 Juni 2026 | 17:05 WIB
Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Hari Soekarno. (Suara.com/Hiskia)
Baca 10 detik
  • BRIN meragukan limbah pemotongan ayam di Sleman menjadi penyebab kebakaran rumah karena sistem pengelolaannya bersifat terbuka.
  • Peneliti UGM menduga kebakaran dipicu oleh akumulasi gas hidrogen dan fosfin yang terbentuk dari material organik limbah.
  • BRIN akan melakukan pengambilan sampel gas untuk menganalisis penyebab pasti fenomena kebakaran langka di dalam rumah tersebut.

Suara.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meragukan dugaan bahwa fenomena kebakaran misterius di rumah warga Padukuhan Mriyan X, Margomulyo, Seyegan, Sleman, DIY, dipicu limbah pemotongan ayam.

Peneliti BRIN menilai gas dari limbah organik semestinya langsung terlepas ke atmosfer dan tidak terakumulasi hingga memicu kebakaran spontan di dalam rumah.

Diketahui, rumah milik Agus dan Mutfiana itu memang digunakan untuk usaha pemotongan ayam sejak 16 tahun silam.

Pada penelitian terakhir dari Tim Peneliti Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) keluarnya api berasosiasi dengan gas hidrogen.

Selain gas hidrogen, peneliti menduga terdapat keterlibatan gas fosfin (PH3) yang dalam kondisi tertentu dapat memicu pembakaran spontan.

Adapun gas fosfin itu, yang diduga bisa terbentuk dari material yang kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam.

Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Hari Soekarno, mengaku telah melakukan survei awal dan berdiskusi dengan sejumlah peneliti UGM terkait dugaan gas yang memicu kebakaran.

Namun, ia menilai kemungkinan gas berasal dari pengolahan limbah pemotongan ayam tergolong kecil.

"Kalau saya melihat dari instalasi limbah pemotongan ayam, kemungkinan bahwa itu adalah dari dekomposisi organik menurut saya tidak ya," kata Hari ditemui di lokasi, Senin (8/6/2026).

Baca Juga: Terkuak! Ada Retakan Bawah Tanah Sedalam 20 Meter di Balik Teror Api Sleman

"Tetapi kalau kami melihat dari instalasi limbahnya, seandainya terbentuk gas fosfin pun menurut saya sudah akan lepas ke atmosfer ya, gitu," sambungnya.

Menurutnya, sistem pengelolaan limbah di lokasi tersebut bersifat terbuka. Sehingga apabila terbentuk gas, seharusnya gas langsung lepas ke udara dan tidak terperangkap di rumah warga.

"Dia (pengelolaan limbahnya) bukan tertanam di dalam tanah ya. Seandainya terbentuk gas, dia sudah akan lepas ke atmosfer," paparnya.

Namun ia tak menutup kemungkinan kemunculan gas tersebut dari sumber lain di luar limbah pemotongan ayam.

Hari menegaskan keberadaan gas di lokasi tetap menjadi fakta yang harus dijelaskan secara ilmiah.

Oleh sebab itu, BRIN akan mencoba mengambil sampel gas langsung dari ruangan yang kerap mengalami kebakaran untuk dianalisis lebih lanjut.

Load More