- Metromini dan Kopaja menjadi moda transportasi ikonik bagi jutaan pelajar dan warga Jakarta sejak tahun 1980-an hingga 2019.
- Penumpang menghadapi tantangan fisik, negosiasi ongkos, serta interaksi sosial unik yang membentuk kenangan mendalam selama perjalanan sehari-hari.
- Penghapusan bus tersebut digantikan Transjakarta demi keamanan, namun menghilangkan interaksi sosial serta keintiman khas di dalam kendaraan umum.
Suara.com - Pertama kali Shafa naik Metromini sendirian, ia masih kelas lima SD, puluhan tahun lalu. Ibunya sudah berkali-kali mengajarkan rutenya: naik dari depan gang, turun di perempatan, jangan lupa bilang kiri ke kondektur.
Namun, begitu pintu bus itu berderit terbuka dan kerumunan orang menyerbu masuk, Shafa panik. Ia ikut terdorong ke dalam, berdiri terjepit di antara tas belanja dan punggung orang-orang dewasa, tidak tahu harus berpegangan pada apa.
"Terus ada ibu-ibu yang tiba-tiba bilang, 'Pegang sini, Neng, biar nggak jatuh.' Sambil ngulurin tangannya," kenangnya sembari tertawa. "Saya nggak kenal siapa dia. Tapi ya sudah, saya pegang tangannya sampai turun," lanjut dia.
Itulah Metromini. Tempat di mana orang asing bisa tiba-tiba menjadi pegangan, dalam arti harfiah maupun kiasan.
Sekolah di Atas Roda
Bagi generasi yang tumbuh di Jakarta antara 1980-an hingga awal 2000-an, Metromini dan Kopaja bukan sekadar angkutan. Keduanya adalah bagian dari upacara harian, ritual pagi dan sore yang membentuk ritme hidup di kota ini.
Seragam sekolah, tas ransel berat, dan tiket bus seharga lima ratus perak. Begitulah pagi hari jutaan pelajar Jakarta selama puluhan tahun.
Fauzi menghabiskan enam tahun masa SMA dan kuliahnya di atas Kopaja trayek S13 rute Ragunan–Grogol. Ia hafal setiap tikungan, setiap lubang, dan setiap tukang gorengan yang mangkal di halte-halte.
"Sudah hapal kapan ngeremnya mendadak, kapan belok keras. Jadi tangan udah siap nahan duluan," kisahnya penuh semangat.
Yang ia ingat bukan hanya rutenya, tetapi juga teman-teman seperjalanannya. Anak-anak sekolah lain yang wajahnya familiar, meski namanya tak pernah ditanya. Mereka berbagi bus setiap pagi selama bertahun-tahun, mengangguk satu sama lain seperti kenalan lama, tetapi tak pernah benar-benar berkenalan.
Baca Juga: Sandiwara Berdarah di Menteng, Komisaris Wanita Rekayasa Perampokan Demi Habisi Dirut
"Kalau suatu hari ada yang nggak muncul, kita sadar. Tapi nggak pernah nanya ke mana," tutur Fauzi.
Ekonomi Koin dan Negosiasi Ongkos
Salah satu seni tersendiri dalam naik Metromini adalah urusan ongkos.
Tidak ada mesin tiket. Tidak ada tarif yang tertera di dinding. Kondektur, biasanya remaja atau pemuda yang berdiri di dekat pintu dengan kantong plastik berisi recehan, yang menentukan segalanya. Dan kadang, tarif itu bisa dinegosiasikan.
"Di Metromini P17, Manggarai–Senen. Waktu itu lagi pulang bareng temen-temen. Pas keneknya ngider, saya bilang, 'Sama yang depan bang'. Ternyata, temen saya juga jawab gitu. Lolos sih, jadinya nggak bayar," aku Shafa, dengan ekspresi setengah malu setengah bangga. "Tapi ngerasa bersalahnya sampai sekarang," lanjut dia, mengenang kenakalan masa remaja.
Ada juga sisi lain dari kondektur yang sering terlupakan dalam narasi nostalgia ini: kebaikan yang tak terduga.
Dian ingat suatu sore pada 2008, ketika ia ketinggalan dompet dan tidak punya uang sama sekali untuk pulang. Ia berdiri di halte Blok M dengan wajah panik, tidak tahu harus berbuat apa.
Berita Terkait
-
Sandiwara Berdarah di Menteng, Komisaris Wanita Rekayasa Perampokan Demi Habisi Dirut
-
Cerita Rampok 500 Gram Emas Rekayasa! Rekan Bisnis di Menteng Siksa dan Tusuk Korban karena Dendam
-
Shin Tae-yong Pasang Target Juara untuk Persija, Minta Pemain Berkorban Habis-habisan
-
Ogah Kehilangan Permata Timnas Indonesia, Persija Resmi Ikat Jangka Panjang Rayhan Hannan
-
Haul Akbar HUT Jakarta, KAI Buka Alternatif Naik-Turun di Stasiun Jatinegara Mulai Sore Ini
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
Terkini
-
Sembunyi di Kawasan Elit Bangkok, Istri Frans Antoni Ikut Terseret Jaringan Fredy Pratama
-
Jejak Perjuangan Riyan Hidayat: Dari Kebun Kopi Perbatasan Hingga ke Panggung Kepemimpinan Nasional
-
Mendagri dan Menteri ATR/BPN Terbitkan SEB untuk Perkuat Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
-
Penandatanganan SKB Kemendagri & Menteri PKP Perkuat Peran Pemda dalam Program 3 Juta Rumah
-
Dasco Hubungi Kepala BGN, DPR Sebut Ada Efisiensi Anggaran MBG Rp70 Triliun
-
Respons Tuntutan Mahasiswa, Sufmi Dasco Telepon Kepala BGN dan Menteri ESDM
-
Pimpinan DPR Naik Mobil Komando Temui Massa, Janji Bebaskan 16 Mahasiswa Trisakti dan Bereskan BBM
-
Di Hadapan Mahasiswa, DPR Ungkap Anggaran MBG Bakal Diefisiensikan Rp70 Triliun
-
Mahasiswa Trisakti Beri Peringatan Keras: Jangan Main-Main dengan Isu Perut Rakyat
-
Diangkut Mobil Tahanan ke RS Polri, Roy Suryo Bercelana Pendek, Dokter Tifa Berompi Oranye