- Metromini dan Kopaja menjadi moda transportasi ikonik bagi jutaan pelajar dan warga Jakarta sejak tahun 1980-an hingga 2019.
- Penumpang menghadapi tantangan fisik, negosiasi ongkos, serta interaksi sosial unik yang membentuk kenangan mendalam selama perjalanan sehari-hari.
- Penghapusan bus tersebut digantikan Transjakarta demi keamanan, namun menghilangkan interaksi sosial serta keintiman khas di dalam kendaraan umum.
"Kondekturnya tanya, kenapa nggak naik-naik. Saya bilang nggak ada ongkos. Dia langsung bilang, 'Ya udah naik aja.' Gitu doang. Nggak pakai banyak omong," kisahnya.
Dian tidak ingat wajah kondektur itu. Tidak tahu namanya. Namun, kejadian itu ia ceritakan ulang hampir puluhan tahun kemudian, dengan nada yang sama hangatnya.
Seni Bertahan di Dalam Bus
Naik Metromini adalah keterampilan yang dipelajari, bukan bawaan lahir.
Ada tekniknya. Ada taktiknya. Dan setiap penumpang veteran punya versi sendiri dari panduannya.
Pertama: posisi berdiri. Jangan berdiri menghadap depan saat bus melaju kencang, karena saat rem mendadak, badan akan terhempas. Lebih aman berdiri miring ke samping, satu tangan di pegangan atas, dan kaki sedikit ditekuk seperti atlet selancar.
Kedua: tempat duduk. Kursi paling belakang terasa paling berguncang, tetapi punya keuntungan tersembunyi. Kondektur jarang meminta ongkos ke sana dua kali. Kursi depan dekat sopir paling nyaman, tetapi berisiko menjadi teman ngobrol paksa.
Ketiga: barang bawaan dan mental. Tas harus diletakkan di depan, bukan di punggung. Bukan karena aturan, melainkan karena pengalaman pahit yang dialami hampir semua orang setidaknya sekali. Sistem Kopaja dan Metromini yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun untuk naik, tak jarang ikut membuka celah bagi pelaku kriminal.
"Saya pernah kena palak di Kopaja," kisah Supri. "Tapi ya tetap naik Kopaja, karena memang cuma itu pilihannya," imbuh dia.
Ia tertawa mengingatnya sekarang. Tawa seseorang yang sudah cukup jauh dari kejadiannya sehingga bisa melihatnya sebagai sebuah cerita lucu.
Baca Juga: Sandiwara Berdarah di Menteng, Komisaris Wanita Rekayasa Perampokan Demi Habisi Dirut
Pertunjukan Gratis Setiap Hari
Kalau ada satu hal yang membuat Metromini dan Kopaja tak tertandingi sebagai pengalaman, itu adalah para pengamennya.
Mereka naik di satu halte, tampil sepanjang beberapa blok, lalu turun dan menunggu bus berikutnya. Repertoar mereka eklektik tanpa pretensi: dangdut, pop lawas, campursari, sesekali lagu Barat yang liriknya separuh benar dan separuh karangan. Alat musiknya sederhana, mulai dari gitar kecil, kecrekan dari tutup botol, hingga hanya mengandalkan suara.
"Kadang ada yang nyanyinya bagus," tutur Dian. "Bikin macet jadi nggak berasa," lanjutnya mengenang masa-masa itu.
Namun, bukan hanya pengamen. Di dalam Metromini, hiburan datang dari mana saja. Percakapan keras antara dua ibu yang ternyata tetangga lama dan tidak saling tahu. Pedagang asongan yang masuk lewat jendela dan menawarkan tisu, permen, hingga payung lipat dengan semangat seorang presenter televisi. Atau sekadar pemandangan Jakarta yang bergeser di luar jendela: pasar, trotoar, dan gedung-gedung yang dulu masih kosong, tetapi kini telah menjadi mal.
"Jakarta itu saya kenal pertama kali dari jendela Metromini," kata Fauzi. "Bukan dari buku, bukan dari peta," lanjut dia.
Yang Hilang Bukan Hanya Busnya
Metromini dan Kopaja resmi menghilang dari jalanan Jakarta antara 2017 dan 2019. Transjakarta mengambil alih rute-rute mereka. Jakarta mendapatkan bus yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih tepat waktu.
Semua itu merupakan hal yang baik. Tidak ada yang meragukannya.
Namun, ada yang ikut pergi bersama bus-bus tua itu, sesuatu yang lebih sulit diberi nama.
Mungkin itu adalah keintiman yang lahir dari ketidaknyamanan bersama. Di dalam Metromini yang penuh sesak, orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat Jakarta—pegawai kantoran, ibu rumah tangga, pelajar, hingga pedagang—terjepit dalam ruang yang sama, menghirup udara yang sama, dan merasakan guncangan jalan yang sama. Tidak ada sekat. Tidak ada earphone yang memisahkan dunia masing-masing.
"Sekarang di Transjakarta semua pada lihat HP sendiri," kata Shafa. "Dulu di Metromini, ya karena nggak ada HP, kita terpaksa lihat sekitar. Lihat orang. Kadang ngobrol," imbuhnya.
Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat.
"Rasanya lebih... manusia, gitu," tegas Shafa.
Ulang Tahun Kota, Ulang Tahun Kenangan
Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-499 pada 22 Juni 2026. Hampir setengah milenium.
Dalam rentang waktu sepanjang itu, banyak hal yang datang dan pergi: rezim, arsitektur, nama jalan, bahkan nama kota itu sendiri. Metromini dan Kopaja hanyalah dua bagian kecil dalam daftar panjang tersebut. Usianya tidak lebih dari empat dekade, hanya sepersekian dari umur kota ini.
Namun, kenangan bekerja dengan cara yang tidak mengikuti logika proporsi. Sesuatu yang kecil bisa meninggalkan bekas yang besar jika hadir pada momen yang tepat: perjalanan pertama sendirian, sore ketika dompet tertinggal, atau pagi buta ketika kota belum sepenuhnya bangun dan bus merah itu melaju dalam keheningan yang aneh.
Shafa kini beralih menjadi pengguna Transjakarta. Dian naik MRT ke kantor. Supri sudah lama pindah ke Bekasi dan hampir tidak pernah masuk Jakarta tanpa kendaraan pribadi.
Namun, sesekali, pada hari-hari tertentu, salah satu dari mereka akan melintas di jalanan yang dulu menjadi rute Metromini kesayangannya. Dan untuk sepersekian detik, sebelum lampu hijau menyala dan kendaraan kembali bergerak, mereka bisa mendengarnya lagi.
Teriakan kondektur. Deru mesin tua. Klakson yang berbunyi bukan karena marah, melainkan karena memang begitulah caranya menyapa dunia.
Jakarta terus berulang tahun. Dan kenangan itu, merah, bising, hangat, ikut merayakannya diam-diam.
Berita Terkait
-
Sandiwara Berdarah di Menteng, Komisaris Wanita Rekayasa Perampokan Demi Habisi Dirut
-
Cerita Rampok 500 Gram Emas Rekayasa! Rekan Bisnis di Menteng Siksa dan Tusuk Korban karena Dendam
-
Shin Tae-yong Pasang Target Juara untuk Persija, Minta Pemain Berkorban Habis-habisan
-
Ogah Kehilangan Permata Timnas Indonesia, Persija Resmi Ikat Jangka Panjang Rayhan Hannan
-
Haul Akbar HUT Jakarta, KAI Buka Alternatif Naik-Turun di Stasiun Jatinegara Mulai Sore Ini
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Slow Living di Singapura, Pria Ini Usia 35 Tahun Pensiun Tapi Hidup Layak Jadi Pengangguran
-
Ratusan Ruko STC Pekanbaru Resmi Jadi Aset Pemkot, HGB Tak Bisa Diperpanjang
-
Penebangan 10 Pohon di Jalan Riau Lolos Pengawasan, Dedi Mulyadi Minta Camat Hingga Lurah Disanksi
-
Rojali, Mantap, hingga Lipstick Effect, Tiga Fenomena yang Menggambarkan Wajah Baru Konsumsi RI
-
Dosen Dipecat Karena Tegur Mahasiswa Berpakaian Ketat? Pimpinan Muhammadiyah Investigasi
-
Bawa Keranda 'RIP Hukum', Mahasiswa Geruduk Kejagung Tuntut Febrie Adriansyah Dihukum Mati
-
3 Kontroversi YouTuber Bigmo, Terbaru Libatkan Anak Kecil Promosi Liquid Vape
-
Pramono Buka Peluang Modifikasi Cuaca di Jakarta, Antisipasi El Nino dan Ancaman Kebakaran
-
Sudah Lebih 30 Provinsi Dikunjungi, Pengamat Bongkar Alasan Gibran Sering Turun ke Daerah
-
Perluas Cara Berinvestasi, BNI Tawarkan 2.600 Aset melalui Gelegar Lelang 2026