-
Israel menolak terlibat dalam kesepakatan damai Amerika Serikat-Iran dan melanjutkan perang di Lebanon.
-
Menteri Bezalel Smotrich menegaskan militer hanya akan berhenti jika Hizbullah dibubarkan total.
-
Agresi militer sejak Maret telah menewaskan lebih dari 4.100 warga di Lebanon selatan.
Suara.com - Israel secara tegas menolak terlibat dalam diplomasi Amerika Serikat - Iran dan memilih memperluas invasi militer di Lebanon. Pemerintah Tel Aviv menetapkan pembubaran total kelompok Hizbullah sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar.
Sikap keras ini memicu keretakan tak terekam antara strategi diplomasi Washington dan ambisi wilayah militer Israel. Tel Aviv memilih jalan konfrontasi sepihak demi memastikan pengaruh Teheran terkikis sepenuhnya di perbatasan utara.
Langkah sepihak ini sekaligus mereduksi dampak kesepakatan damai global yang sedang dirancang negara-negara barat. Keputusan tersebut berisiko mengunci kawasan Timur Tengah dalam siklus pertempuran tanpa akhir yang mematikan.
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menegaskan posisi politik negaranya yang enggan berkompromi dengan mediasi bentukan sekutu utamanya. Pihaknya menyatakan tidak ambil pusing dengan poin-poin yang dihasilkan dalam pembicaraan tersebut.
"Israel tidak menjadi bagian dari perundingan dengan Iran atas pilihan kami sendiri," kata Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich dalam wawancara dengan Radio Angkatan Darat Israel, Selasa (23/6/2026).
Otoritas keamanan Israel merasa tidak memiliki keterikatan moral maupun politik terhadap hasil kesepakatan diplomatik tersebut. Kebijakan luar negeri Tel Aviv kini sepenuhnya diarahkan pada aksi pembersihan kekuatan bersenjata di wilayah tetangga.
"Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran sama sekali tidak menyangkut kami," katanya.
Pasukan pertahanan Israel dipastikan tidak akan mundur dari pos-pos strategis yang telah mereka kuasai saat ini. Wilayah sensitif seperti Kastel Beaufort tetap menjadi basis pertahanan selama ancaman perbatasan belum hilang.
Target politik dalam perang ini melampaui sekadar perlucutan senjata penyerang di sepanjang garis perbatasan. Tel Aviv menuntut faksi politik terbesar di Lebanon tersebut dihapus dari struktur birokrasi pemerintahan.
Baca Juga: Detik-detik Iran Batalkan Perundingan Gegara Trump Bikin Ulah, JD Vance Kena Getahnya
"Kami tak hanya ingin Hizbullah kehilangan senjatanya, tetapi juga dibubarkan sepenuhnya, tidak menjadi bagian dari pemerintahan Lebanon, dan tidak memiliki kekuatan militer yang mengancam Israel," katanya.
Pernyataan ofensif ini muncul di tengah kepanikan internal mengenai efektivitas nota kesepahaman yang digagas Amerika Serikat. Sebagian elite politik khawatir pakta Washington justru memperkuat posisi tawar Teheran di panggung regional.
Padahal, delegasi resmi dari Israel dan Lebanon dijadwalkan bertemu di Washington untuk memulai dialog langsung putaran kelima. Pertemuan strategis yang dirintis sejak April tersebut mulanya diharapkan mampu meredam bara konflik.
Namun, gelombang protes di dalam negeri Israel sendiri terus mengalir mengkritik taktik diplomasi pemerintahan Joe Biden. Banyak pihak menilai kelembutan Washington membuat kelompok perlawanan di Lebanon kian mendapat angin segar.
Krisis kemanusiaan akibat ambisi penaklukan ini telah menelan korban jiwa dalam jumlah yang sangat masif. Berdasarkan kalkulasi otoritas darurat, operasi ofensif ini telah menghancurkan ribuan ruang hidup warga sipil.
Menurut data resmi Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya. Pendudukan atas wilayah Lebanon selatan pun kini meluas melampaui batas demarkasi konflik tahun lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Tiga Dara | Wamenkop Ungkap Bangun Koperasi Merah Putih Gak Bisa Sembarang
-
Review Drama You Are My Hero, Misi Kemanusiaan dan Perjalanan Asmara
-
Menko Muhaimin Iskandar Apresiasi Efektivitas Pemberdayaan PNM di Gresik
-
Jateng Tuan Rumah MTQ Nasional 2026, Sarif Abdillah Dorong UMKM & Pariwisata Ikut Ketiban Berkah
-
Semua Ikan di Langit: Novel Unik yang Mengajak Merenungi Arti Kehidupan
-
Ijazah Makin Tinggi, Kerja Layak Makin Langka: Siapa yang Gagal?
-
Viva Face Tonic Spirulina untuk Jenis Kulit Apa? Kenali Fungsinya agar Tak Salah Pilih
-
Promo Alfamart Terbaru 9 Agustus 2026, Ada Diskon Susu hingga Popok Bayi
-
4 Perbedaan Jam Tangan Seiko 5 dan Seiko Prospex, Bukan Cuma Desainnya
-
Kapal Berbendera Tanzania Disergap di Laut Kepri, Berisi 1,3 Ton Narkoba Siap Edar