Suara.com - Selama ini hutan tropis dikenal sebagai salah satu penyerap karbon dioksida (CO2) terbesar di dunia dan menjadi harapan utama dalam menekan laju perubahan iklim. Kemampuannya menyerap emisi karbon dari atmosfer membuat ekosistem ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim Bumi.
Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa kemampuan tersebut kini diduga tidak lagi sebesar yang selama ini diperkirakan.
Hutan Tropis Kini Tak Lagi Menjadi Solusi Terbaik dalam Menyerap CO2
Sebuah penelitian berjudul “Improved Latitudinal Carbon Budgets from Global Airborne Surveys” mengungkapkan bahwa tumbuhan di kawasan tropis menyerap karbon jauh lebih sedikit dibandingkan hasil pemodelan sebelumnya. Temuan ini diperoleh melalui penggabungan berbagai survei udara dan pengamatan atmosfer secara global yang mampu memberikan gambaran lebih akurat mengenai pertukaran karbon di berbagai wilayah di dunia.
Salah satu peneliti dalam studi tersebut, Dr. Michael Bertolacci dari University of Western Australia, menjelaskan bahwa mengukur pertukaran karbon di atmosfer bukanlah hal yang mudah. Karena itu, tim peneliti menggunakan metode pelacakan konsentrasi CO2 di udara dan arah pergerakan angin untuk mengetahui sumber serta tujuan pergerakan karbon tersebut.
"Kami mengukur berapa banyak CO2 yang ada di udara dan melacaknya kembali melalui angin untuk menemukan dari mana asalnya," ujar Michael.
Dari analisis tersebut, para peneliti menemukan hasil yang cukup mengejutkan.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah tropis tampaknya menyerap karbon lebih sedikit daripada yang diprediksi oleh banyak penelitian dan model lain, dan bahkan mungkin mendekati netral dalam pertukaran karbonnya," kata Michael.
Menjadi Peringatan bagi Negara Tropis
Baca Juga: Tak Hanya Saat Dicuci, Pakaian Ternyata Melepaskan Mikroplastik Saat Dipakai Sehari-hari
Temuan ini menjadi perhatian penting, terutama bagi negara-negara yang memiliki kawasan hutan tropis luas, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia memiliki sekitar 126 juta hektare hutan hujan tropis, menjadikannya negara dengan luas hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo.
Jika kemampuan hutan tropis dalam menyerap karbon terus menurun, maka kontribusinya dalam menekan emisi gas rumah kaca juga dapat berkurang. Kondisi ini berpotensi memengaruhi berbagai strategi global yang selama ini mengandalkan hutan sebagai penyerap karbon alami.
Perlunya Adanya Solusi Terbaru Dalam Menyerap CO2
Melalui hasil penelitian tersebut, para ilmuwan menilai bahwa pemahaman mengenai siklus karbon global perlu diperbarui agar proyeksi perubahan iklim di masa depan menjadi lebih akurat.
"Temuan ini penting karena kita perlu mengetahui ekosistem mana yang membantu kita memerangi perubahan iklim dengan menyerap lebih banyak karbon dan ekosistem mana yang melepaskan lebih banyak CO2," ujar Michael.
Selain itu, hasil studi ini juga menjadi pengingat bahwa upaya mitigasi perubahan iklim tidak dapat hanya bergantung pada hutan tropis.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!