- Global Energy Alliance dan mitra menginisiasi pendekatan "Sun to Sea" untuk meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir melalui integrasi akses energi bersih.
- Penyediaan energi bersih mendukung operasional fasilitas pendingin guna menekan kerugian pascapanen serta meningkatkan nilai tambah produk perikanan lokal.
- Inisiatif ini bertujuan memperkuat ekonomi masyarakat secara berkelanjutan sekaligus mendukung pelestarian ekosistem pesisir serta program prioritas nasional pemerintah.
Suara.com - Masyarakat pesisir selama ini menjadi tulang punggung ekonomi biru Indonesia. Namun, besarnya potensi sektor perikanan dan kelautan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup di wilayah pesisir.
Global Energy Alliance bersama Konservasi Indonesia serta sejumlah mitra mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan akses energi bersih dengan penguatan rantai nilai perikanan dan perlindungan ekosistem pesisir.
Indonesia Country Lead Global Energy Alliance, Rizky Fauzianto, mengatakan masyarakat pesisir sebenarnya telah memiliki sumber daya alam, pengetahuan, dan potensi ekonomi yang besar. Tantangan utamanya adalah memastikan investasi di sektor energi, infrastruktur, hingga akses pasar dapat berjalan secara terpadu.
"Masyarakat pesisir Indonesia sejatinya telah memiliki sumber daya, pengetahuan, dan potensi ekonomi yang dibutuhkan untuk berkembang. Tantangannya adalah memastikan investasi pada energi bersih, infrastruktur, akses pasar, dan pengelolaan ekosistem berjalan secara terpadu sehingga masyarakat dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil yang mereka ciptakan," ujar Rizky kepada Suara.com.
Menurutnya, energi bersih tidak hanya berfungsi menyediakan listrik, tetapi juga menjadi fondasi bagi peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Di banyak desa nelayan, hasil tangkapan ikan masih harus dijual secepat mungkin karena keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), produksi es, dan transportasi. Kondisi tersebut membuat nelayan kehilangan peluang memperoleh harga jual yang lebih baik.
Bahkan, di sejumlah wilayah, kehilangan hasil pascapanen diperkirakan mencapai 30 hingga 50 persen.
Situasi serupa juga dialami petani rumput laut. Meski Indonesia memproduksi sekitar 10,8 juta ton rumput laut pada 2024, sebagian besar masih diekspor dalam bentuk bahan baku tanpa melalui proses pengolahan yang memberikan nilai tambah.
Rizky menjelaskan, penyediaan energi yang andal dapat menjadi solusi untuk mendukung operasional cold storage, produksi es, pengolahan hasil perikanan, sistem refrigerasi, hingga konektivitas digital di kawasan pesisir.
Baca Juga: 4 Posisi Kamar Mandi yang Baik Menurut Feng Shui agar Hunian Lebih Nyaman
Dengan demikian, hasil tangkapan maupun produk kelautan dapat disimpan lebih lama, dipasarkan dengan kualitas lebih baik, dan memberikan keuntungan ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Saat ini, banyak wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia Timur masih mengandalkan generator diesel yang biaya operasionalnya tinggi karena pasokan bahan bakar harus dikirim melalui jalur laut.
Melalui pendekatan bertajuk "Sun to Sea", Global Energy Alliance berupaya menghubungkan pengembangan energi bersih dengan penguatan mata pencaharian masyarakat serta pelestarian ekosistem pesisir.
Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik, tetapi juga mengintegrasikan kebutuhan produktif masyarakat, mulai dari rantai dingin perikanan, usaha kecil, layanan kesehatan, hingga pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Menurut Rizky, ketika pendapatan masyarakat meningkat dan kerugian pascapanen dapat ditekan, masyarakat akan memiliki kapasitas lebih besar untuk menjaga mangrove, padang lamun, maupun terumbu karang yang menjadi fondasi ekonomi pesisir.
Inisiatif ini juga sejalan dengan berbagai program prioritas pemerintah, seperti Kampung Nelayan Merah Putih yang menargetkan pembangunan 5.000 kampung nelayan, serta program 100 GW Village Solarisation yang mendorong pemanfaatan energi surya di tingkat desa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar diesel.
Melalui pendekatan tersebut, Global Energy Alliance berharap energi bersih tidak hanya menjadi solusi transisi energi, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan memperkuat ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Usai Tersandung Kasus Korupsi, BGN Gandeng Kejagung Kawal Tata Kelola MBG
-
Career Break Bukan Penghalang, Mengapa Dunia Kerja Sulit Memahaminya?
-
Jaga Hutan dengan Kearifan Lokal, Pemerintah Genjot Status Hukum Masyarakat Adat Gunung Kong
-
Kasus Robert Alberts Belum Beres, Manajemen Persib Buka Suara Soal Sanksi FIFA
-
Bakal Pindah Kantor, Ini Daftar Lengkap OPD Pemkot Bogor yang Bergeser ke Pusat Baru
-
Orang Kaya Masih Nikmati Subsidi BBM, Bahlil Cari Cara Pangkas Kebocoran Ratusan Triliun
-
Saepul Pelaku Mutilasi Depok Ternyata Idap HIV, Bawa Obat Saat Jalani Rekonstruksi
-
Menkum Supratman: Hukuman Mati Koruptor Bukan Lagi Perdebatan, Tapi Eksekusi
-
Catat Tanggalnya! D.O. EXO Bakal Sapa Fans Indonesia Lewat Tur Asia Terbaru
-
Pascabanjir Batang Toru, UI Dorong Pembangunan Kawasan Pegunungan Berbasis Sains