- Dosen UMY Ahmad Ma'ruf menyoroti dampak ekonomi antrean panjang BBM bagi masyarakat rentan pada Senin, 29 Juni 2026.
- Perpindahan konsumen ke BBM subsidi menyebabkan antrean panjang yang membebani masyarakat ekonomi menengah ke bawah karena kehilangan waktu.
- Pemerintah disarankan mengalihkan dana penghematan subsidi untuk memperkuat program perlindungan sosial bagi kelompok masyarakat yang paling terdampak.
Suara.com - Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di berbagai wilayah Indonesia tak hanya menjadi persoalan distribusi bahan bakar. Di balik antrean tersebut, terdapat kelompok masyarakat rentan yang menanggung beban ekonomi kian berat.
Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Ma'ruf, menilai pemerintah perlu menghitung dampak tidak langsung dari setiap kebijakan energi. Menurutnya, keberhasilan kebijakan tidak cukup diukur dari penghematan anggaran negara, namun dari biaya sosial yang harus ditanggung masyarakat.
"Jangan hanya melihat aspek efisiensi anggaran fiskal saja. Pemerintah juga harus menghitung nilai waktu rakyat yang hilang akibat antre," kata Ahmad, Senin (29/6/2026).
Dipaparkan Ahmad, kelompok yang paling rentan justru bukan masyarakat miskin ekstrem. Melainkan kelompok near poor atau hampir miskin.
Pasalnya mereka berada sedikit di atas garis kemiskinan sehingga kerap tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial. Namun di sisi lain sangat terdampak ketika biaya hidup meningkat.
"Kelompok miskin ekstrem biasanya mendapat bantuan sosial dari pemerintah. Bantuan itu bisa berupa dana pendidikan atau kesehatan. Sementara kelompok near poor sering tidak terdata sebagai penerima bantuan," ujarnya.
Menurut Ahmad, antrean panjang di SPBU dipicu pula oleh perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite. MengingT selisih harga kedua jenis BBM yang sudah semakin lebar.
"Warga yang sejak awal berhak menerima subsidi justru menjadi korban. Mereka sekarang harus berbagi ruang antri dengan mantan pengguna Pertamax," ungkapnya.
Fenomena tersebut, kata Ahmad, memperlihatkan adanya perbedaan cara masyarakat memandang nilai waktu. Sebagian orang memilih mengorbankan waktu demi memperoleh BBM dengan harga lebih murah, sementara kelompok lain rela membayar lebih mahal agar tidak kehilangan waktu produktif.
Baca Juga: Ekonom Sayangkan Harga BBM Naik Terlalu Tinggi, Padahal Pemerintah Bisa Cegah Sejak Awal
"Sebagian masyarakat memilih mengorbankan waktu demi mendapatkan harga murah. Sebaliknya, sebagian lain memilih membayar lebih mahal untuk menghemat waktu," ujarnya.
Dalam perspektif ekonomi, ia memaparkan kondisi itu berkaitan dengan teori opportunity cost atau biaya peluang. Biaya yang dikeluarkan masyarakat bukan hanya uang yang dibayarkan di SPBU, namun waktu produktif yang hilang selama mengantre.
Oleh sebab itu, masyarakat berpenghasilan rendah umumnya lebih sensitif terhadap kenaikan harga dibandingkan hilangnya waktu. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, mereka lebih memilih menghemat pengeluaran meski harus menghabiskan waktu lebih lama di antrean.
"Masyarakat menengah ke bawah menjadikan harga sebagai pertimbangan utama. Kondisi ekonomi saat ini belum pulih sepenuhnya. Oleh karena itu, mengorbankan waktu dianggap lebih menguntungkan daripada membeli BBM non-subsidi," tandasnya.
Ia mengingatkan bahwa biaya energi merupakan komponen ekonomi yang sangat sensitif. Kenaikan harga BBM berpotensi memicu inflasi yang pada akhirnya semakin membebani rumah tangga berpenghasilan rendah.
Sebagai solusi, Ahmad menyarankan agar penghematan anggaran dari kebijakan subsidi dikembalikan kepada masyarakat melalui penguatan program jaminan perlindungan sosial. Sehingga kelompok rentan memperoleh kompensasi atas beban yang mereka tanggung.
"Dana subsidi yang dihemat harus digunakan untuk kesejahteraan masyarakat rentan. Langkah ini penting agar mereka mendapat kompensasi yang adil atas waktu yang hilang," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Jutaan Anak Tak Sekolah, Gus Ipul Minta Kepala Daerah Dukung Sekolah Rakyat
-
KPK Buka Peluang Tetapkan Tersangka Baru di Kasus Imigrasi Silmy Karim
-
Buntut Intimidasi Dokter di IGD, Sekjen Golkar Pastikan Sanksi Tegas bagi Kader yang Buat Onar
-
Jokowi Safari Politik, Golkar: Beliau Bukan Presiden Lagi, Kami Tegak Lurus ke Pak Prabowo!
-
5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Mengapa Calon Manajer Koperasi Ikut Pelatihan Militer?
-
Pengamat UMY Soal Safari Politik Jokowi dan PSI: Upaya Amankan Oligarki Lewat Politik 'Bagi Uang'
-
Siapa Bertanggung Jawab? Polisi Usut Kelalaian Proyek yang Tewaskan Bocah 4 Tahun di Tebet
-
Uang Saku MagangHub II Tembus Rp6 Juta! Kemnaker Buka Jalur Profesi dan Fokus Pemerataan di Daerah
-
Siapkan Bukti Video, Roy Suryo Serang Balik Prosedur Polisi Lewat 3 Poin Praperadilan
-
Mobil Boks di Bekasi Terobos Lampu Merah Hingga Tabrak 5 Motor, Satu Pemotor Tewas