- Pakar kebijakan publik menyoroti penempatan orang dekat kekuasaan di BUMN yang mengabaikan prinsip meritokrasi dan profesionalisme jabatan.
- Praktik penempatan jabatan strategis tersebut memicu keraguan publik terhadap kompetensi pejabat serta memperkuat pola politik patronase di Indonesia.
- Ketidaksesuaian antara narasi reformasi pemerintah dengan realitas di lapangan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap tata kelola BUMN.
Suara.com - Fenomena penempatan orang-orang yang memiliki kedekatan politik maupun hubungan personal dengan lingkar kekuasaan di sejumlah posisi strategis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menuai sorotan.
Pakar Kebijakan Publik UMY, Isnaini Muallidin, menilai pola tersebut menunjukkan menguatnya praktik politik berbasis loyalitas dibanding profesionalisme. Sehingga memunculkan keraguan publik terhadap kompetensi para figur yang dipilih.
"Saya melihat ini dalam perspektif pos kolonial. Di mana mental-mental pos kolonial itu kan dicirikan pertama itu dengan bagaimana membangun gurita kekuasaan itu ya. Membangun gurita kekuasaan itu dengan segala segala lini," kata Isnaini kepada Suara.com, Selasa (30/6/2026).
Menurut Isnaini, dari sisi politik, kecenderungan menempatkan orang-orang terdekat dalam jabatan strategis bukanlah fenomena baru. Praktik tersebut merupakan bagian dari logika kekuasaan yang telah lama berlangsung di Indonesia.
Ia menilai pola tersebut membuat jabatan publik, termasuk di BUMN, lebih banyak dipengaruhi pertimbangan politik daripada kebutuhan menghadirkan sumber daya manusia yang kompeten. Kondisi itu dinilai semakin menjauhkan praktik tata kelola pemerintahan dari prinsip meritokrasi yang selama ini dikampanyekan pemerintah.
"Sebenarnya kita tidak menyalahkan siapa pun orangnya, menurut saya ya, keluarga pun kalau dia profesional enggak masalah secara politik. Kalau dia secara secara profesional dipilih dan punya track record yang bagus, itu enggak ada masalah," ungkapnya.
Ia menambahkan, persoalan utama bukan terletak pada latar belakang keluarga atau kedekatan seseorang dengan penguasa. Melainkan pada proses seleksi yang harus mengedepankan kompetensi, rekam jejak, serta profesionalisme.
Tanpa prinsip tersebut, kata Isnaini, kepercayaan publik terhadap pengelolaan BUMN akan terus menurun dan praktik politik patronase semakin mengakar.
"Meritokrasi itu bukan anti keluarga. Tetapi profesionalismenya itu yang dilihat, kemudian kesesuaian prosesnya," imbuhnya.
Baca Juga: Tak Mau Investasi Hilirisasi Bernilai Jumbo Gagal, BP BUMN Gandeng KPK
Isnaini mempertanyakan apakah Presiden Prabowo Subianto benar-benar mengendalikan atau sekadar mengetahui seluruh proses penempatan orang-orang di lingkar kekuasaan tersebut.
Menurutnya, terdapat perbedaan antara gagasan yang sering disampaikan Prabowo dengan praktik politik yang berlangsung di lapangan. Sehingga memunculkan dugaan bahwa presiden lebih banyak mempercayakan keputusan kepada orang-orang di sekitarnya.
"Antara apa yang dia omongkan di forum langsung itu dengan tindakan tuh beda. Itu berarti apa? Dia sendiri itu enggak tahu apa yang dia kendalikan di dalam itu," ucapnya.
Kondisi tersebut membuat publik mempertanyakan sejauh mana Presiden merasa nyaman dengan pola pengisian jabatan yang lebih mengutamakan kedekatan politik. Jika dibiarkan, praktik tersebut dinilai berpotensi memperkuat jaringan kekuasaan sekaligus mengurangi ruang bagi figur profesional yang memiliki kapasitas memimpin BUMN.
Isnaini menyebut paradoks itu terlihat dari perbedaan antara narasi reformasi birokrasi dan meritokrasi yang disampaikan elite politik dengan praktik pengangkatan pejabat di lapangan.
Jargon reformasi kemudian hanya menjadi simbol apabila proses seleksi tetap didominasi kepentingan politik.
"Elite itu bicaranya luar biasa, reformasi birokrasi, meritokrasi, itu kan simbol-simbol yang menyejukkan masyarakat. Tetapi apa yang dilakukan oleh praktik elite? Justru sangat jauh dari harapan," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi
-
Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul