- Presiden ke-7 RI Jokowi melakukan safari politik perdananya di Lampung pada akhir pekan lalu dengan mengenakan seragam PSI.
- Kegiatan tersebut bertujuan membangun mesin politik baru guna memperkuat posisi PSI serta mempertahankan pengaruh dinasti politik menuju 2029.
- Pengamat menilai langkah Jokowi sebagai upaya konsolidasi basis dukungan, meski popularitasnya kini dianggap tidak sekuat saat masih menjabat.
Suara.com - Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi ke Lampung akhir pekan lalu menjadi lebih dari sekadar kunjungan silaturahmi. Kunjungan itu memunculkan banyak tafsir politik, terutama karena dilakukan setelah Jokowi tak lagi menjabat sebagai presiden.
Sejak keberangkatannya, Jokowi sudah mencuri perhatian publik. Ia tampil mengenakan seragam Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mengikuti prosesi adat Lampung, hingga melakukan sujud syukur bersama warga.
Namun, yang paling menyita perhatian adalah saat Jokowi ditanya mengenai makna di balik seragam PSI yang dikenakannya selama safari tersebut.
"Kalau seseorang sudah memakai baju itu artinya tahu sendiri," ucap Jokowi.
Pernyataan singkat itu langsung memantik spekulasi: apakah Jokowi tengah mengirim sinyal politik yang lebih tegas tentang masa depannya?
Di hadapan warga Lampung, Jokowi juga berulang kali menegaskan bahwa dirinya tetaplah sosok yang sama seperti sebelum menjadi Presiden RI.
"Saya ini orang desa, orang kampung," ujar Jokowi.
Lantas, mengapa Lampung dipilih sebagai titik awal safari politik perdananya? Apa pesan yang ingin disampaikan Jokowi? Dan sejauh mana langkah ini akan memengaruhi konstelasi politik menuju Pemilu 2029?
Mengapa Lampung?
Baca Juga: Kenakan Baju PSI, Jokowi Beri Sinyal: Kalau Sudah Memakai, Artinya Tahu Sendiri
Ketua DPP PSI Bestari Barus membantah adanya makna politik khusus di balik pemilihan Lampung sebagai tujuan pertama safari Jokowi.
Menurut Bestari, semua daerah memiliki tempat istimewa bagi Jokowi. Hanya saja, harus ada satu wilayah yang dipilih sebagai titik awal.
"Jadi harus ada yang ditempatkan sebagai tempat awal. Tapi bukan berarti kemudian yang lain tidak istimewa," ungkap Bestari.
Ia menambahkan, Lampung dipilih karena adanya undangan dari masyarakat dan relawan yang ingin bertemu langsung dengan Jokowi.
Meski demikian, sejumlah pengamat melihat pemilihan Lampung tidak sepenuhnya lepas dari kalkulasi politik. Lampung selama ini dikenal sebagai salah satu basis dukungan kuat Jokowi dalam beberapa pemilihan presiden.
Penegasan Berpisah dari PDIP?
Jika selama ini posisi politik Jokowi kerap menjadi bahan spekulasi setelah hubungannya dengan PDIP merenggang, maka safari di Lampung seolah menjadi penegasan terbaru.
Jokowi tampil dengan atribut PSI sejak keberangkatan hingga seluruh rangkaian kegiatan di Lampung. Ketika ditanya mengenai makna simbol tersebut, ia kembali memberikan jawaban singkat.
"Kalau seseorang sudah memakai baju itu artinya tahu sendiri," ujar Jokowi di Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).
Selama dua hari berada di Lampung, Jokowi mengikuti sejumlah agenda, mulai dari kegiatan bersama PSI, bertemu masyarakat dan pelaku UMKM, hingga menghadiri acara adat dan keagamaan.
Ketua DPP PSI Bestari Barus bahkan secara terbuka menyebut pilihan Jokowi mengenakan seragam PSI sebagai penegasan identitas politik barunya.
"Penegasan bahwa beliau sudah ada di PSI, dan tidak lagi di partai yang lama-lama itu, PDIP," jelas Bestari.
Simbol Politik Lewat Prosesi Adat
Sorotan lain muncul ketika Jokowi mengikuti prosesi adat mesol kibau atau menginjak kepala kerbau.
Prosesi itu dilakukan setelah lima kerajaan adat di Lampung menganugerahkan gelar kehormatan tertinggi kepada Jokowi, yakni "Baginda Pemuka Bangsa".
Pemberian gelar tersebut disebut sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian Jokowi selama memimpin Indonesia sekaligus apresiasi atas pembangunan yang dilakukan di Lampung.
Bagi Jokowi, gelar adat bukan sekadar simbol seremonial. Ia menyebut penghormatan tersebut sebagai amanah moral untuk terus menjaga dan merawat identitas kebudayaan Nusantara di tengah arus modernisasi.
PDIP dan Golkar Tak Gentar
Safari politik Jokowi di Lampung turut memunculkan berbagai respons dari partai politik.
PDIP, partai yang pernah membesarkan Jokowi, memilih bersikap santai. Politikus PDIP Mohamad Guntur Romli justru menilai aktivitas politik Jokowi lebih ditujukan untuk menjaga kesinambungan pengaruh politik keluarganya.
Menurut Guntur, langkah Jokowi bukan semata-mata untuk mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, melainkan sebagai investasi politik jangka panjang bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjelang Pilpres 2029.
"Untuk kepentingan Pilpres 2029 buat Gibran, bukan buat Prabowo. Karena dari pengamalan Jokowi sendiri, tidak ada namanya wapres yang sama di 2 periode," kata Guntur.
Ia juga menilai safari tersebut merupakan bagian dari upaya mempertahankan eksistensi "Dinasti Jokowi" dalam politik nasional.
Meski demikian, Guntur menegaskan PDIP tidak khawatir jika PSI berupaya merebut basis pemilih partainya. Menurut dia, langkah Jokowi justru lebih berpotensi mengganggu partai-partai lain.
Nada serupa juga disampaikan Partai Golkar. Sekjen Golkar M Sarmuji menegaskan partainya tidak merasa terancam oleh aktivitas politik Jokowi.
Menurut Sarmuji, Golkar tidak khawatir kehilangan pemilih akibat pengaruh Jokowi yang kini semakin dekat dengan PSI.
Membangun Mesin Politik Baru?
Analis Politik Universitas Parahyangan Bandung Kristian Widya Wicaksono menilai rangkaian kegiatan Jokowi di Lampung tidak bisa dipandang sekadar sebagai safari silaturahmi.
Ia melihat ada upaya sistematis untuk mengubah modal popularitas personal Jokowi menjadi kekuatan organisasi politik yang lebih permanen.
"Rangkaian kegiatan Jokowi di Lampung—mulai dari mengenakan seragam PSI, mengikuti prosesi adat, hingga narasi kedekatan dengan warga desa—harus dipahami sebagai satu kesatuan strategi politik. Tujuannya jelas, yakni memperkuat PSI sebagai mesin politik besar menuju 2029," beber Kristian kepada Suara.com.
Menurutnya, pemilihan Lampung sebagai titik awal safari juga bukan tanpa alasan.
Sebagai wilayah yang selama ini menjadi basis dukungan Jokowi, Lampung dinilai sebagai tempat ideal untuk menguji sejauh mana pengaruh politik mantan presiden tersebut masih bekerja.
"Dalam mobilisasi politik, seorang aktor biasanya memulai dari wilayah yang memiliki peluang keberhasilan tinggi. Lampung adalah basis pendukung kuat Jokowi pada Pilpres sebelumnya. Memulai dari 'kandang' sendiri memberikan efek psikologis dan pemberitaan positif sebelum merambah ke daerah dengan persaingan lebih ketat," jelasnya.
Selain mengonsolidasikan basis dukungan, safari ini juga dipandang sebagai cara untuk mengukur apakah personal branding Jokowi masih efektif menggerakkan massa setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Kristian menilai penggunaan seragam PSI menjadi pesan politik paling eksplisit dalam safari tersebut.
"Jokowi sedang mengaitkan identitas pribadinya secara langsung dengan masa depan PSI. Ia sedang membangun mesin politik yang mampu bekerja secara organik tanpa harus selalu bergantung pada kehadirannya secara langsung di masa depan," katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa popularitas Jokowi saja tidak cukup untuk menjamin kesuksesan PSI pada Pemilu 2029. Menurutnya, partai tetap harus mampu merekrut kader berkualitas dan menawarkan program yang relevan bagi publik.
Magnet Politik Jokowi Mulai Memudar?
Pandangan berbeda disampaikan Analis Politik Universitas Esa Unggul M Jamiluddin Ritonga.
Ia menilai harapan akan adanya efek elektoral besar bagi PSI maupun Gibran dari safari Jokowi di Lampung terlalu berlebihan.
Menurut Jamiluddin, sambutan masyarakat Lampung terhadap kunjungan Jokowi tidak semeriah saat Pilpres 2019.
"Hal itu bertolak belakang dengan dukungan masyarakat Lampung pada saat Pilpres 2019. Saat itu, 59,71 persen warga Lampung yang memiliki hak pilih memilih Jokowi," kata Jamiluddin kepada suara.com.
"Jadi, banyaknya warga Lampung yang memilih Jokowi tidak sebanding dengan sambutan yang diterimanya saat safari politik. Bahkan ada sebagian emak-emak yang demo untuk menolak kedatangan Jokowi di Lampung," sambungnya.
Ia pun menyimpulkan bahwa daya tarik politik Jokowi tidak lagi sekuat ketika masih memegang jabatan presiden.
"Jokowi bukan lagi magnet politik yang dapat 'menghipnotis' masyarakat untuk mengikuti kehendaknya. Jokowi sudah seperti layaknya warga biasa, yang tidak punya power politik," katanya.
Safari politik perdana Jokowi di Lampung tampaknya bukan sekadar perjalanan nostalgia. Di balik seragam PSI, simbol budaya, dan narasi kedekatan dengan rakyat, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: apakah Jokowi tengah menyiapkan warisan politik baru menuju 2029?
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
Terkini
-
Hakim Tolak Dalil 'Tak Ada Niat Jahat', Penyalahgunaan Wewenang Nadiem Makarim Terbukti
-
Berduka Atas Tewasnya 5 Peserta Latsarmil, Puan Maharani Dukung Kemhan Hapus Materi Militer
-
Puan Maharani Respons Safari Jokowi: Jaga Situasi Tetap Kondusif dan Tetap Adem
-
Kasus Pembubaran Ibadah GMS Bantul: Polda DIY Periksa 31 Saksi, Segera Tetapkan Tersangka!
-
Pramono Anung Beberkan Proyek Strategis DKI, dari RS Internasional hingga Perpanjangan LRT Jakarta
-
Tepis Tuduhan Langgar HAM, Polda Metro Minta Hakim Tolak Praperadilan Roy Suryo
-
Ketua BPK Serahkan Hasil Pemeriksaan LKPP 2025 ke DPR, Bapanas Jadi Satu-satunya Raih WDP
-
DPR Sahkan 7 Anggota Komisi Informasi Pusat Periode 2026-2030
-
Reaksi Roy Suryo Saat Bidkum Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban Permohonan
-
Puan Maharani Pimpin Rapat Paripurna DPR RI ke-22 Hari Ini: 293 Anggota Hadir, Ini Agendanya