- Pemerintah melibatkan ribuan taruna Akmil dalam MPLS di Sekolah Rakyat untuk membentuk karakter dan disiplin siswa sekolah.
- Pakar kebijakan publik UGM mengkritik penggunaan metode militer dan menuntut keterlibatan tenaga profesional pendidikan yang lebih kompeten.
- Pemerintah didesak menggunakan proyek percontohan dan evaluasi matang guna menghindari inefisiensi anggaran serta ketidakefektifan program pendidikan nasional.
Suara.com - Pelibatan ribuan taruna Akademi Militer (Akmil) dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat (SR) dinilai menunjukkan kecenderungan pemerintah kembali mengandalkan pendekatan bercorak militer dalam menjalankan kebijakan publik.
Apalagi, langkah tersebut hadir tak lama setelah pemerintah menuai sorotan atas latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang berujung pada meninggalnya lima peserta.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono, mengatakan pelibatan taruna Akmil seharusnya tidak diputuskan hanya karena dianggap mampu menanamkan disiplin.
Menurutnya, kebijakan pendidikan harus disusun berdasarkan tujuan yang jelas, materi yang tepat, dan metode yang sesuai dengan karakter peserta didik.
"Dalam pelatihan siswa perlu ada tiga aspek yang perlu dielaborasi, yakni tujuan dan materi pelatihan, profesionalisme pelatih dan model pelatihan," kata Subarsono saat dikonfirmasi, Rabu (8/7/2026).
Agustinus menekankan bahwa pemerintah perlu memastikan terlebih dahulu tujuan utama program.
"Kalau tujuan utamanya adalah kemandirian siswa, maka materi pelatihan perlu didiskusikan dengan para pakar psikologi agar mendapat masukan yang pantas dan tepat," ujarnya.
Ia juga mempertanyakan keputusan pemerintah menunjuk taruna Akmil sebagai pelatih dalam MPLS. Menurutnya, pembentukan karakter peserta didik semestinya dipandu oleh tenaga profesional yang memang memiliki kompetensi di bidang pendidikan dan pelatihan.
Selain itu, ia juga menyoroti penggunaan anggaran negara dalam program tersebut. Menurutnya, biaya yang dikeluarkan harus sebanding dengan hasil yang diperoleh agar tidak menimbulkan inefisiensi anggaran.
Baca Juga: Jelang MPLS 2026/2027, Gus Ipul Beri Pembekalan kepada 191 Sekolah Rakyat
"Dalam hubungannya dengan trainers, saya berpikir sebaiknya diberikan kepada para trainers profersional saja, karena negeri ini bukan sedang melakukan program coba-coba," ujarnya.
Lebih lanjut, Agustinus menilai pembentukan karakter tidak harus dilakukan melalui pendekatan yang identik dengan dunia kemiliteran. Menurutnya, masih banyak metode pendidikan yang lebih relevan.
Mulai dari pembelajaran berbasis proyek, studi kasus, simulasi pengambilan keputusan, workshop, hingga role play yang tetap mampu mendorong lahirnya kemandirian siswa.
Ia juga mengkritik pemerintah yang langsung menerapkan program di ratusan Sekolah Rakyat tanpa melalui uji coba terlebih dahulu. Menurutnya, kebijakan publik yang menyasar pendidikan nasional seharusnya diawali dengan proyek percontohan agar efektivitas kurikulum dan metode pelatihan dapat dievaluasi sebelum diterapkan secara luas.
"Program pembentukan kemandirian siswa tersebut perlu dilakukan melalui pilot project dahulu pada beberapa Sekolah Rakyat. Kemudian dievaluasi dan hasil evaluasi tersebut bisa untuk digunakan untuk memperbaiki kurikulum yang sudah dicoba, baru kemudian diterapkan secara nasional," tegasnya.
Menurut Agustinus, tanpa memperhatikan tujuan, kualitas pelatih, dan model pelatihan, pemerintah berisiko kembali menjalankan kebijakan yang tidak efektif sekaligus memboroskan anggaran negara.
"Suatu program yang baik, tentu perlu dirancang secara lebih mendalam melalui pilot project. Kita tidak perlu melakukan kebijakan secara tegesa-gesa kalau mau menghasilkan output yang berkualitas dan optimal," tandasnya.
Berita Terkait
-
Jelang MPLS 2026/2027, Gus Ipul Beri Pembekalan kepada 191 Sekolah Rakyat
-
Sayur Sinonim Cerah Artinya Apa? Ini Jawaban Teka-teki MPLS Edisi Makanan dan Minuman
-
MPLS 2026 Kapan Dimulai? Ini Jadwal Lengkap untuk SD, SMP, SMA, dan SMK
-
Wamensos Dorong Percepatan Sekolah Rakyat di Wilayah 3T Saat Terima Audiensi DPRD Teluk Wondama
-
Gus Ipul Minta Kepala Sekolah Rakyat Utamakan Empati, Integritas, dan Anti-Bullying
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Presiden Prabowo Subianto Bakal Sikat Korporasi Pembakar Hutan Kalimantan
-
Tenxi hingga NDX AKA Meriahkan Primaria Fest 2026, Momen Titip Doa buat Korban Gempa Bikin Haru
-
PB PII soal Rencana Aksi AMPB 27 Agustus: Silakan Tapi Jangan Sebar Politik Kebencian
-
Perluas Jaringan ke Sumut, iCAR Medan City Store Hadir di Centre Point
-
PB PII Wanti-wanti Demo AMPB Pati: Jangan Sampai Ditunggangi dan Picu Kekacauan Lagi
-
PB PI Jaksel Bangun Ekosistem Padel Lewat Unity Cup 2026
-
Viral Karpet Biru dan Baliho Sambut Kedatangan Prabowo di Kalteng, Berapa Biayanya?
-
Dari Prompt hingga Strategi Bisnis, Buku Baru Dr. Dini Fronitasari Sasar Pelaku UMKM
-
Harga Tiket Masuk Goa Safarwadi Tasikmalaya yang Mitosnya Bisa Tembus Mekkah
-
Kelemahan Mesin Rotary yang Dihilangkan Mazda di Generasi Terbaru