News / Nasional
Senin, 20 Juli 2026 | 10:13 WIB
Kolase foto Presiden RI Prabowo Subianto (kiri) dan Menteri PU Dody Hanggodo (kanan).
Baca 10 detik
  • Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo berpotensi dicopot dalam perombakan kabinet oleh Presiden Prabowo pada Agustus 2026 mendatang.
  • Rencana pergantian dipicu berbagai kegaduhan internal, termasuk kontroversi perjalanan dinas keluarga serta isu mutasi massal pegawai.
  • Dody menuai sorotan publik setelah mengungkap keterlibatan ribuan ASN Kementerian PU dalam kasus judi online dan manipulasi.

Namun, yang menjadi pemantik amarah warganet bukanlah agendanya, melainkan dicantumkannya nama istri dan anak menteri dalam rombongan tersebut.

Sejumlah akun di platform X dan Instagram menuding perjalanan ini sebagai aksi "aji mumpung", bahkan mengaitkannya dengan perhelatan ajang olahraga internasional yang berlangsung di periode yang sama.

Pertanyaan besar mengenai sumber pendanaan—apakah menggunakan kantong pribadi atau APBN—pun mencuat deras.

Klarifikasi Administrasi dan Pembatalan Mendadak

Merespons kegaduhan tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian PU, Apri Artoto, akhirnya angkat bicara.

Ia mengonfirmasi keaslian dokumen yang beredar, namun memberikan penjelasan dari sisi prosedur birokrasi.

"Surat itu memang dari saya sebagai Sekjen Kementerian PU. Itu adalah surat kelengkapan administrasi pengurusan visa. Jadi memang kegiatan itu dilakukan sifatnya tentatif," kata Apri, Selasa (7/7).

Apri menegaskan, penyertaan anggota keluarga dalam draf tersebut murni instruksi administratif dari Kementerian Luar Negeri guna penyatuan data visa.

Ia juga menjamin bahwa biaya keberangkatan istri dan anak Menteri Dody tidak akan membebani negara.

Baca Juga: Mutasi Massal ASN Dicurigai Berkaitan dengan Bocornya Dokumen Perjalanan Menteri PU

Meski demikian, sehari setelah klarifikasi tersebut, Menteri Dody justru memilih untuk membatalkan seluruh rangkaian kunjungan ke Amerika Serikat.

"Batal kalau ke Amerika," kata Dody ketika meninjau Jembatan Enang-Enang yang diperbaiki warga secara mandiri di Bener Meriah, Aceh.

Mutasi ASN: Sanksi atau Pembenahan?

Belum reda isu perjalanan dinas, Kementerian PU kembali diguncang isu mutasi besar-besaran pejabat senior.

Banyak pihak mengaitkan perombakan jabatan ini sebagai bentuk "pembersihan" atau hukuman terhadap pihak yang dianggap membocorkan dokumen perjalanan dinas menteri.

Namun, tudingan tersebut langsung ditepis oleh Dody Hanggodo. Sang Menteri berkilah, mutasi adalah hal lumrah dalam penyegaran organisasi.

Lebih mengejutkan lagi, ia mengungkap data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang menyebut adanya ribuan pegawai di instansinya yang terlibat masalah hukum dan disiplin.

Dody mengklaim ada sekitar 6.000 pegawai atau 15 persen dari total personel Kementerian PU yang terdeteksi melakukan aktivitas judi online.

Selain itu, 4.000 pegawai lainnya dilaporkan melakukan manipulasi atau kecurangan dalam sistem absensi elektronik.

"Bukan data saya ini, tapi data PPATK. Judol itu pidana," tegas Dody.

DPR banyak terima pengaduan

Polemik mengenai iklim kerja di Kementerian PU sebenarnya sudah sempat diwanti-wanti oleh anggota DPR RI, Yasti Soepredjo Makoagow, dalam rapat kerja pada 11 Juni 2026.

Politikus PDI Perjuangan ini mengungkapkan, banyaknya keluhan dari ASN yang merasa tertekan dengan sanksi disiplin berat dan pencopotan jabatan secara mendadak.

"Saya merasakan di Kementerian PU ini banyak duka cita," kata Yasti.

Yasti menyoroti bahwa suasana "ketakutan" di lingkungan kementerian bisa menghambat eksekusi program-program strategis nasional.

"Yang perlu dikhawatirkan, program-program di Kementerian PU tahun 2027 tak bakal berjalan baik," kata dia.

Di sisi lain, muncul pula isu miring mengenai nepotisme yang menuduh keponakan Menteri Dody menjabat sebagai komisaris di salah satu BUMN.

Menanggapi ini, Dody mengambil langkah defensif yang unik dengan membuka sayembara berhadiah umrah sekeluarga bagi siapa saja yang bisa membuktikan tuduhan tersebut.

Load More