News / Internasional
Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB
Rudal Iran (Tsnimnews)
Baca 10 detik
  • Iran sadar mengambil risiko merusak hubungan dengan negara tetangga Teluk demi kepentingan militer.

  • Pejabat Iran menegaskan konflik saat ini adalah perang demi mempertahankan eksistensi negara.

  • Hubungan Iran dan GCC diprediksi membaik setelah tercapai kesepakatan politik dengan Amerika Serikat.

Suara.com - Iran kini secara sadar memilih jalan berbahaya yang berpotensi memutus hubungan diplomatik dengan negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Langkah ekstrem ini diambil Teheran demi memprioritaskan target militer yang mereka anggap sebagai strategi bertahan hidup.

Sina Azodi, asisten profesor politik Timur Tengah di Elliott School of International Affairs, Universitas George Washington, menyoroti keputusan berani tersebut. Menurutnya, Iran telah memperhitungkan semua dampak buruk dari renggangnya hubungan dengan negara-negara Arab.

“Ada risiko yang saya yakini telah diterima oleh Iran untuk diambil,” kata Azodi kepada Al Jazeera.

Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran dan Amerika Serikat saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata. [Istimewa]

Pernyataan dari sejumlah pejabat tinggi di Teheran memperkuat indikasi bahwa negara tersebut sedang berada dalam mode pertahanan mutlak. Salah satunya datang dari Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menjabat sebagai salah satu negosiator nuklir utama sekaligus ketua parlemen Iran.

Ghalibaf secara terbuka menggambarkan pertempuran saat ini bukan sekadar konflik biasa, melainkan sebuah perang demi kelangsungan hidup bangsa. Hal inilah yang mendasari keputusan agresif Iran di panggung geopolitik regional belakangan ini.

“Inilah mengapa mereka mempertaruhkan memburuknya hubungan lebih lanjut dengan negara-negara GCC, karena mereka percaya bahwa mereka sedang berjuang untuk bertahan hidup,” ujar Azodi menjelaskan situasi tersebut.

Ketegangan yang terjadi saat ini diyakini tidak akan berlangsung selamanya di kawasan Timur Tengah. Azodi memprediksi bahwa keretakan hubungan diplomatik antara Iran dan negara-negara Teluk hanya bersifat sementara.

“Begitu perang ini berakhir dan penyelesaian politik dengan Amerika Serikat tercapai, dalam jangka menengah dan panjang, hubungan antara GCC dan Iran akan membaik,” tambah Azodi optimistis.

Hubungan antara Iran dan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) memang kerap mengalami pasang surut akibat perbedaan kepentingan politik dan keamanan. Namun, eskalasi militer yang terjadi belakangan ini telah membawa diplomasi kawasan ke titik terendah yang paling mengkhawatirkan.

Baca Juga: Amerika Klaim Bikin Lumpuh Militer Iran, Hancurkan Pusat Rudal Hingga Jaringan Komunikasi

Fokus penuh Iran terhadap aspek pertahanan domestik kini memaksa mereka mengabaikan kemitraan regional yang telah dibangun. Konflik ini diperkirakan baru akan mereda setelah adanya kesepakatan politik yang melibatkan Amerika Serikat di masa depan.

Dalam konflik militer yang memanas, Iran telah melancarkan berbagai serangan balasan yang menargetkan pangkalan serta aset militer Amerika Serikat di beberapa negara kawasan Teluk. Negara-negara Teluk yang menjadi sasaran langsung serangan tersebut meliputi:

Qatar: Menjadi lokasi pangkalan militer utama AS di Timur Tengah (Pangkalan Udara Al Udeid), yang terdampak serangan rudal.

Kuwait: Menerima serangan yang menargetkan fasilitas militer dan sempat menyebabkan kerusakan serta korban luka di pihak personel.

Bahrain: Diserang karena wilayahnya menjadi markas Komando Pusat Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.

Uni Emirat Arab (UEA): Menjadi target serangan sebagai respons atas fasilitas militer AS yang ditampung di wilayahnya.

Load More