- Dosen UMY Fajar Junaedi menilai gaya komunikasi Menteri PU Dody Hanggodo bersifat defensif dan berpotensi memicu kegaduhan publik.
- Respons kontroversial terkait berbagai tuduhan internal kementerian dinilai memperburuk persepsi masyarakat terhadap integritas serta kinerja pemerintah saat ini.
- Tekanan politik terhadap Dody berpotensi meningkat karena sikap tersebut bertentangan dengan kebijakan Presiden Prabowo yang tidak menyukai kegaduhan.
Suara.com - Di tengah kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak menyukai menteri yang menimbulkan kegaduhan publik, gaya komunikasi Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo justru dinilai berpotensi mempercepat tekanan politik terhadap dirinya.
Alih-alih meredam polemik terkait dokumen dinas yang bocor, mutasi pegawai, hingga dugaan nepotisme, respons yang disampaikan Dody dinilai memperpanjang kontroversi dan memperburuk persepsi publik.
"Saya melihat respons Menteri PU Dody Hanggodo terhadap berbagai tuduhan yang beredar ini sebagai contoh yang cukup menarik sekaligus mengkhawatirkan," kata Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, kepada Suara.com, Senin (20/7/2026).
Persoalan yang dihadapi Dody bukan semata terkait substansi tuduhan yang beredar. Menurut Fajar, cara seorang pejabat publik merespons kritik dan kecurigaan masyarakat juga menentukan apakah krisis akan mereda atau justru membesar.
Ia menilai respons Dody menunjukkan kecenderungan defensif yang berpotensi menjadi bumerang.
Dalam situasi ketika publik sedang mempertanyakan integritas tata kelola di kementerian, pendekatan komunikasi yang keras dinilai justru memperkuat kesan bahwa pemerintah tidak sensitif terhadap kritik.
"Sayangnya, cara menjawab terkesan defensif dan agak arogan. Nada dan pilihan kata seperti itu langsung menimbulkan kesan tidak empati dan seolah sedang membela diri keras," ujarnya.
Fajar menjelaskan, dalam teori komunikasi krisis, pejabat publik dituntut menunjukkan empati dan keterbukaan ketika menghadapi tuduhan yang menjadi perhatian masyarakat.
Sebaliknya, strategi penyangkalan dan upaya mereduksi persoalan justru berisiko memperbesar ketidakpercayaan ketika opini publik sudah terlanjur negatif.
Baca Juga: Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
"Menteri banyak menggunakan denial dan cara mengurangi persepsi pelanggaran," ucapnya.
Apalagi kondisi ini menjadi semakin sensitif di tengah kabar Presiden Prabowo yang berencana mengevaluasi para pembantunya dan tidak menghendaki kegaduhan yang mengganggu kinerja pemerintahan.
Dalam konteks tersebut, komunikasi yang memicu kontroversi dapat menjadi faktor yang memperberat posisi politik seorang menteri.
"Kalau tetap bertahan dengan gaya defensif, publik merasa tidak didengarkan, dan krisis justru memanjang," tandasnya.
Fajar menuturkan bahwa seorang Menteri PU tidak hanya bertanggung jawab menyelesaikan proyek infrastruktur. Namun punya kewajiban pula untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Oleh sebab itu, setiap pernyataan yang disampaikan memiliki konsekuensi politik yang jauh lebih besar daripada sekadar membela diri dari tuduhan.
Berita Terkait
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Mutasi Massal ASN Dicurigai Berkaitan dengan Bocornya Dokumen Perjalanan Menteri PU
-
Ternyata Ini Mobil Mewah yang Dibeli Dody Hanggodo setelah Jadi Menteri PU, Harga Selangit
-
Diterpa Isu Mutasi hingga Nepotisme, Menteri PU Dinilai Mencoreng Kabinet Prabowo
-
Demi Selamatkan Hukum, Mahfud MD dan Busyro Muqoddas Diusulkan Masuk Kabinet Prabowo
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan
-
Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri
-
JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah
-
Fakta Lain Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Dua Lembaga Negara Italia Boikot
-
BBRI Direkomendasikan JPMorgan, Saham Berpotensi Reli Jangka Pendek