- Saudi Aramco membatalkan dan menunda pengiriman minyak mentah ke Eropa akibat penutupan jalur pipa East-West sejak 10 September.
- Penghentian pasokan minyak tersebut memicu lonjakan harga komoditas hingga menembus level $120 per barel di pasaran global.
- Perusahaan penyulingan Polandia, Orlen, membeli minyak mentah alternatif dari Laut Utara, Amerika Serikat, dan Kazakhstan.
Suara.com - Raksasa energi pelat merah Arab Saudi, Saudi Aramco, terpaksa membatalkan dan menunda pengiriman minyak mentahnya kepada sejumlah perusahaan penyulingan di Eropa.
Keputusan drastis ini diambil setelah penutupan paksa jalur pipa utama East-West memutus salah satu rute alternatif terakhir kerajaan tersebut untuk menghindari titik rawan konflik di Selat Hormuz.
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber perdagangan, gangguan rantai pasok ini langsung memicu kepanikan di pasar komoditas. Harga kargo minyak mentah dilaporkan melonjak tajam hingga menembus level $120 per barel seiring upaya negara-negara pelanggan utama, seperti Polandia, yang bergegas mencari pasokan alternatif.
Fasilitas pipa East-West yang memiliki kapasitas alir raksasa hingga 7 juta barel per hari tersebut dilaporkan lumpuh dan berhenti beroperasi sejak insiden serangan pada 10 September lalu. Insiden yang dituduhkan kepada kelompok milisi Irak ini memaksa otoritas setempat mematikan jalur strategis tersebut.
Padahal, pipa yang membentang dari ladang minyak di wilayah timur menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah ini menjadi penyelamat utama Arab Saudi dari dampak terburuk penutupan Selat Hormuz selama enam bulan terakhir.
Menurut laporan dari lembaga analisis pasar Argus, setidaknya tiga kilang di Eropa harus menelan pil pahit lantaran jadwal pengiriman kargo akhir September mereka dibatalkan atau ditunda mundur hingga bulan November.
Selain itu, dua perusahaan penyulingan lainnya juga tengah bersiap menerima pemberitahuan pembatalan serupa terkait pasokan bulan September, berbanding terbalik dengan laporan sebelumnya pada bulan Agustus yang memproyeksikan Aramco sanggup menyuplai volume kontraktual secara penuh.
Seorang sumber di pasar energi memperkirakan bahwa setiap jadwal kargo Saudi yang direncanakan berangkat pada 10 hari terakhir di bulan September kini berada dalam risiko tinggi pembatalan. Sumber yang sama mengestimasikan bahwa cadangan minyak mentah yang tersisa di pelabuhan Yanbu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan ekspor selama lima hari ke depan. Terkait krisis cadangan fasilitas pelabuhan ini, pihak Saudi Aramco memilih untuk tidak memberikan komentar resmi.
Kondisi kritis di lapangan semakin diperkuat oleh data pelacakan maritim Vortexa. Data tersebut menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada kargo minyak mentah Saudi yang diberangkatkan dari fasilitas Yanbu sejak 11 September lalu.
Dalam operasional normal, minyak mentah yang diekspor melalui pelabuhan Yanbu akan dikirimkan melintasi Laut Merah menuju terminal Ain Sukhna di Mesir. Dari titik tersebut, pasokan dipompa melalui jaringan pipa SUMED yang berkapasitas 2,5 juta barel per hari menuju terminal Sidi Kerir di pesisir Mediterania.
Data yang dilansir dari Al jazeera mencatat bahwa rata-rata kedatangan minyak di Ain Sukhna pada dua minggu pertama September berada di kisaran 1,40 juta barel per hari, sementara ekspor dari terminal Sidi Kerir menyentuh angka 1,95 juta barel per hari pada periode yang sama.
Terhentinya aliran minyak mentah dari Saudi ini memaksa para pelanggan setia kerajaan untuk memutar otak. Salah satu raksasa penyulingan asal Polandia, Orlen, dilaporkan telah bergerak agresif di pasar spot untuk memborong pasokan minyak mentah pengganti.
Berbagai sumber trader mengungkapkan bahwa Orlen telah membeli minyak mentah dari kawasan Laut Utara, termasuk varian Grane, Johan Sverdrup, dan Johan Castberg melalui skema tender spot. Korporasi energi ini juga secara aktif mencari penawaran pasokan untuk jenis WTI Midland dari Amerika Serikat serta CPC Blend dari Kazakhstan.
Manuver darurat ini dilakukan menyusul kegagalan setidaknya empat jadwal penyewaan armada kapal tanker untuk pengiriman bulan September dari rute Sidi Kerir menuju pelabuhan Gdansk di Polandia.