-
Harga minyak dunia melandai setelah Iran melanjutkan kontak diplomatik dengan Amerika Serikat.
-
Minyak mentah Brent sempat melonjak mendekati 91,42 dolar AS sebelum akhirnya terkoreksi.
-
Dialog antaranegara berhasil meredam kekhawatiran atas potensi penutupan total Selat Hormuz.
Suara.com - Harga minyak dunia akhirnya bergerak turun dari level tertingginya dalam sebulan terakhir. Kabar baik ini muncul setelah Iran mengonfirmasi bahwa saluran diplomasi dengan Amerika Serikat tetap berjalan melalui mediator.
Langkah komunikasi di balik layar tersebut berhasil menenangkan kekhawatiran pasar global. Investor kini melihat celah damai di tengah memanasnya situasi geopolitik kawasan Timur Tengah.
Redanya gejolak ini menjadi bukti bahwa instrumen diplomasi masih efektif meredam kepanikan industri energi dunia. Kepastian dialog tersebut langsung menghentikan spekulasi liar yang sempat melambungkan harga komoditas utama ini.
Sebelumnya, harga minyak jenis Brent untuk kontrak pengiriman September sempat melonjak hampir 4 persen hingga menyentuh angka 91,42 dolar AS per barel. Namun, nilai tersebut segera terkoreksi ke posisi 90,20 dolar AS per barel tidak lama setelah pernyataan resmi Teheran keluar.
Fluktuasi yang terjadi memperlihatkan betapa sensitifnya sektor energi terhadap rumor pertempuran di wilayah penghasil minyak. Kendati demikian, tren penguatan jangka panjang sebenarnya sudah terjadi dengan lonjakan hingga 30 persen sejak awal Juli.
Kondisi pasar saat ini mencerminkan adanya respons ganda dari para pelaku ekonomi global dalam menyikapi situasi geopolitik terbaru. Fenomena tersebut memicu kebingungan sekaligus harapan baru di kalangan pengamat keuangan internasional.
Analis terkemuka memberikan pandangannya mengenai situasi anomali yang sedang melanda pergerakan harga komoditas energi ini.
“Pasar sekali lagi terpaksa memperdagangkan dua cerita yang tampaknya kontradiktif di layar yang sama,” kata Stephen Innes dari SPI Asset Management dikutip dari Al Jazeera, Senin (20/7/2026) sore.
Meskipun ketegangan bersenjata menyuntikkan premi risiko geopolitik ke dalam pasar, faktor fundamental ekonomi Amerika Serikat justru menunjukkan arah berbeda. Data inflasi inti yang mendingin dan melemahnya pasar tenaga kerja memegang peran krusial dalam menahan dampak buruk konflik.
Baca Juga: Bahrain, Kuwait, dan Yordania Mencekam, Drone Iran Berdatangan Bawa Bom
Stephen Innes menambahkan bahwa pendinginan inflasi dasar AS dan melemahnya pasar tenaga kerja menunjukkan kejutan energi tidak selalu memicu siklus baru inflasi yang berbasis luas. Penilaian tersebut membawa angin segar bagi stabilitas ekonomi makro di tingkat global.
Di sisi lain, ancaman nyata sempat membayangi jalur distribusi minyak internasional akibat kontak senjata langsung pekan lalu. Washington dan Teheran diketahui saling melepaskan tembakan yang memicu kekhawatiran kehancuran logistik kelautan.
Kecemasan terbesar para pelaku industri tertuju pada potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz. Selat strategis ini memegang peran sangat vital dalam mengalirkan pasokan energi ke berbagai belahan dunia.
Sebelum konflik pecah, jalur sempit ini dilewati oleh sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah global setiap harinya. Hambatan di titik ini dipastikan akan langsung melumpuhkan rantai pasok energi internasional secara masif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
IHSG Terancam Gagal Menembus Resistance di Tengah Kenaikan Harga Minyak
-
Wanti-wanti Menko Yusril soal Kasus Febrie: Jangan Terjadi Penyimpangan, Bisa Diambil Alih KPK
-
Argentina Runner Up Piala Dunia 2026, Lionel Messi: Rasa Sakitnya Sesakit Itu!
-
Skip Jakarta! Young K Day6 Umumkan Jadwal Tur Konser Solo Bertajuk Youngest
-
6 Cara Memakai Parfum Lokal agar Wanginya Tahan Lama dan Meninggalkan Jejak
-
Keuangan Makin Bersinar, 5 Shio Ini Diprediksi Penuh Keberuntungan 21 Juli 2026
-
Aturan Hak-hak Ojol Tak Masuk RUU LLAJ, DPR Janjikan Bakal Punya UU Sendiri
-
Profil Pau Cubarsi, Bek Spanyol yang Raih Penghargaan Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026
-
Lepas Status WNI Biayanya Naik 5 Kali Lipat, Menteri Supratman: Bukan Masalah Buat Bangsa
-
Timur Tengah di Ambang Perang Besar! Kematian 3 Tentara Picu Serangan Brutal AS ke Iran