-
Drone kamikaze Iran menyerang tiga pangkalan militer utama Amerika Serikat di Kuwait.
-
Serangan merusak fasilitas administrasi, parkir helikopter, hingga area akomodasi prajurit AS.
-
Militer Iran menegaskan gempuran dilakukan demi membalas tindakan pasukan Amerika Serikat.
Suara.com - Pengerahan drone kamikaze Iran menandai babak baru eskalasi militer yang mengincar pusat kendali Amerika Serikat di Kuwait. Serangan udara ini menyasar langsung fasilitas vital guna meruntuhkan dominasi pertahanan AS di kawasan tersebut.
Aksi mendadak tersebut mempertegas strategi konfrontasi terbuka Teheran terhadap pangkalan strategis Paman Sam. Langkah penyerangan ini membidik infrastruktur komunikasi dan logistik utama yang menopang operasional militer AS.
Gempuran beruntun ini melumpuhkan fokus operasional tentara Amerika di kawasan Teluk secara mendadak. Pusat koordinasi udara dan hunian prajurit menjadi sasaran paling rawan yang langsung terkena imbas gempuran.
Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, tentara Iran mengonfirmasi gempuran terhadap gedung administrasi serta antena pemandu arah di Camp Arifjan. Selain itu, area parkir helikopter di Camp Al-Adiri dan fasilitas akomodasi prajurit di Pangkalan Ahmed Al-Jaber turut hancur.
Kantor berita resmi tersebut menegaskan bahwa aksi militer ini bertujuan membalas manuver pasukan Amerika Serikat. Penyerangan tajam ini dirancang untuk memutus mata rantai komando pasukan darat dan udara Amerika.
Pihak militer Iran membeberkan alasan mendasar di balik operasi peluncuran armada nirawak tersebut.
"Keamanan di kawasan telah terganggu menyusul kejahatan pasukan teroris AS, dan Angkatan Bersenjata Republik Islam berusaha mengembalikan keamanan dan ketenangan ke kawasan dalam pertempuran mereka melawan AS," tulis pernyataan resmi militer Iran.
Operasi armada nirawak ini berlangsung tak lama setelah Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengklaim serangan terpisah. IRGC sebelumnya menyasar aset persenjataan AS di Pangkalan Udara Ahmed Al-Jaber dan Ali Al-Salem.
Ketegangan militer antara Teheran dan Washington terus memuncak seiring meningkatnya keberadaan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Konfrontasi ini menjadi pemicu utama terganggunya stabilitas keamanan regional dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Warga Lebanon Bongkar Niat Culas Israel di Balik Peresmian Desa Pecontohan 'Anti-Zionis'
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kolaborasi TelkomGroup, Nongsa Digital Park, dan BW Digital Perkuat Infrastruktur Kabel Laut NCC
-
Amerika Keok Lagi, Drone Kamikaze Iran Hancurkan Pangkalan Ahmed Al-Jaber Kuwait
-
ROG Homecoming Jadi Panggung Inovasi Asus, Komunitas Diajak Lihat Teknologi Masa Depan
-
Bisakah Kita Percaya AC dari Merek Laptop? Membongkar Paradoks Acerpure
-
Dua Tahun Jadi Reruntuhan, Begini Kondisi SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Kini
-
Bunga KPR Cuma 1,75%! Saatnya Wujudkan Rumah Impian di BRI KPR EXPO 2026
-
BRI dan PERBANAS Bersinergi dengan OJK serta Kemkomdigi Wujudkan Ekosistem Keuangan Digital
-
Review Hanasui Power Retinol Expert Serum, Hempas Flek Hitam dan Garis Halus Budget Murmer
-
Ulasan One Day Off: Mencari Ruang di Tengah Rutinitas yang Berulang
-
BRI Perkuat Kolaborasi dengan OJK, PERBANAS, dan Kemkomdigi Cegah Kejahatan Keuangan Digital