News / Internasional
Selasa, 21 Juli 2026 | 11:45 WIB
Serangan udara Israel kembali mengguncang Lebanon. Kali ini, jet tempur Israel membombardir kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat pasukan Hizbullah. [istimewa]
Baca 10 detik
  • Pengungsi Lebanon selatan mulai pulang usai pengumuman skema zona percontohan oleh AS dan Israel.

  • Warga mempertanyakan penunjukan Desa Froun dan Ghandouriyeh yang tak pernah diduduki tentara Israel.

  • Sumber keamanan mengonfirmasi fakta lapangan bahwa pasukan Israel tidak pernah menduduki area desa tersebut.

Suara.com - Puluhan warga pengungsian mulai bergerak melangkahkan kaki kembali menuju desa-desa mereka di wilayah Lebanon selatan.

Langkah kepulangan ini menyusul pengumuman resmi terkait dimulainya proyek kawasan percontohan oleh Israel, Lebanon, dan Amerika Serikat pada Senin.

Pemerintah Amerika Serikat menyebut Desa Froun masuk dalam daftar tiga desa tahap awal proyek percontohan tersebut.

Israel menyerang Lebanon Selatan usai lakukan perjanjian gencatan senjata (X/Narasi_winda)

Sementara itu, wilayah tetangganya yaitu Desa Ghandouriyeh dijadwalkan masuk ke dalam pelaksanaan tahap kedua.

Namun, masyarakat setempat mempertanyakan alasan kuat penunjukan desa mereka ke dalam skema kesepakatan tersebut.

Dikutip dari Al Jazeera, warga menegaskan bahwa pasukan militer Israel sama sekali tidak pernah menguasai atau menduduki wilayah permukiman mereka.

Masyarakat memandang penyerahan desa-desa ini sebagai bukti bahwa Israel tidak betul-betul menyerahkan wilayah mana pun.

Skema penarikan tersebut dinilai hanya menjadi celah legalitas bagi tentara Israel untuk tetap menguasai area lain di Lebanon.

Sejumlah sumber keamanan Lebanon turut mengonfirmasi kebenaran klaim warga lokal mengenai kondisi riil di lapangan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Begitu Iran Nyatakan Siap Negosiasi dengan Syarat

Pihak keamanan menyatakan kepada Al Jazeera bahwa kedua desa tersebut memang tidak pernah berada dalam pendudukan Israel.

Program zona percontohan ini dirancang sebagai kerangka kerja awal untuk memfasilitasi pemulangan warga terisolasi akibat konflik.

Kendati demikian, kejanggalan penetapan wilayah justru memicu keraguan mendalam atas efektivitas kesepakatan damai yang digagas para pihak.

Load More