- TNI AL berencana menerima hibah kapal induk bekas dari Italia agar dapat beroperasi sebelum HUT TNI 5 Oktober 2026.
- Status hibah kapal tua tersebut tetap menuntut anggaran besar Indonesia untuk biaya pengiriman, perbaikan, serta kebutuhan operasional lainnya.
- Target waktu pengiriman yang sangat singkat berisiko memicu pembengkakan biaya dan mengabaikan efisiensi demi kepentingan simbolis negara saja.
Suara.com - Meski berstatus hibah dari Italia, rencana pengadaan kapal induk bekas berusia 40 tahun itu dinilai tetap berpotensi membebani anggaran negara.
Hal itu tak terlepas dari berbagai biaya yang perlu dikeluarkan mulai dari perawatan hingga perbaikan kapal induk tersebut.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhadi Sugiono menilai perdebatan tidak seharusnya berhenti pada status hibah. Melainkan melihat pula biaya yang harus dikeluarkan Indonesia untuk mendatangkan dan mengoperasikan kapal tersebut.
Ia menyoroti indikasi bahwa TNI AL menginginkan kapal induk tersebut sudah berada di Indonesia sebelum peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2026 mendatang.
Tenggat waktu yang sangat dekat itu dinilai menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan menerima hibah kapal bekas dari Italia.
"Kalau kita coba lihat di beberapa informasi, muncul juga informasi bahwa Angkatan Laut sebenarnya ingin ada kapal induk itu dalam waktu yang sangat dekat, dan time frame pengirimannya kan sebelum tanggal 5 Oktober," kata Muhadi kepada Suara.com, Selasa (21/7/2026).
Target waktu singkat tersebut membuat opsi membangun kapal induk baru praktis tidak realistis.
Pembangunan kapal induk membutuhkan waktu bertahun-tahun, sehingga menerima kapal bekas menjadi pilihan yang lebih memungkinkan jika orientasinya adalah kecepatan.
Meski demikian, Muhadi mengingatkan bahwa hibah tidak berarti bebas biaya. Indonesia tetap harus menyiapkan anggaran besar untuk mendatangkan, memperbaiki, melengkapi, dan menyesuaikan kapal induk tersebut agar dapat beroperasi.
Baca Juga: DPR Setuju Hibah Kapal Induk Italia Umur 40 Tahun: Biaya Rawat Rp101 Miliar, Perbaikan Rp16 Triliun
"Nah, kemudian pertanyaannya adalah apakah biaya untuk mendatangkan itu masuk akal. Karena meskipun itu hibah ya, katakanlah itu hibah, tetapi kita harus menyediakan uang sekitar 450 juta US dollar gitu ya," ungkapnya.
Ambisi menghadirkan kapal induk Italia dalam waktu singkat itu berpotensi membuat biaya semakin membengkak.
Semakin pendek tenggat yang ditetapkan, kata Muhadi, semakin besar pula sumber daya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi target tersebut.
"Saya kira kadang-kadang kalau kita ingin memperoleh sesuatu tapi kita inginnya waktu dekat itu kan otomatis biayanya membengkak," ucapnya.
Ia menyoroti bahwa logika efisiensi anggaran bisa menjadi kabur apabila target utama yang ingin dicapai adalah menghadirkan kapal induk pada momentum tertentu.
Dalam situasi seperti itu, pertimbangan biaya berpotensi kalah oleh dorongan untuk memenuhi ambisi yang sudah ditetapkan.
Berita Terkait
-
DPR Setuju Hibah Kapal Induk Italia Umur 40 Tahun: Biaya Rawat Rp101 Miliar, Perbaikan Rp16 Triliun
-
Komisi I DPR Setujui Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi dari Italia: Doktrin Operasional Penting
-
DPR Restui Indonesia Terima Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi dari Italia
-
Polri Buka Suara soal Dugaan Korupsi Hibah Lahan yang Libatkan Eks Wakapolri Oegroseno
-
Kemenkeu Pastikan Klaim Program Baru Dana Hibah Menteri Keuangan Tidak Benar
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Aspal Jalan Kebon Sirih Terus Rusak, DKI Akhirnya Ganti dengan Beton
-
Usai OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Resmi Ditahan KPK
-
3 Rekomendasi Moisturizer untuk Mengecilkan Pori-Pori, Wajah Mulus dan Glowing
-
Di Balik Hibah Kapal Induk Italia, Ada Ambisi Kejar Tayang 5 Oktober yang Bisa Sedot Anggaran Jumbo
-
Resmi Pakai Rompi Oranye KPK, Bupati Lombok Barat Bungkam Soal 3 Perkara yang Menjeratnya
-
4 Hydrating Sheet Mask Ampuh Berikan Hidrasi Ekstra untuk Skin Barrier Kuat
-
Keluh Kesah PPPK Paruh Waktu Dinkes DKI di Balai Kota: Janji Setara ASN, Realita Jauh dari Kata
-
Pabrik Tekstil di Jepara Tumbang, 670 Orang Menganggur
-
Ironi Makan Bergizi Gratis: Mengapa Daerah 3T Masih Dianaktirikan?
-
Jangan Jerat Tersangka saja, Komnas HAM Dorong Korban Dapat Pemenuhan Hak Atas Pidana Korupsi