-
Pemerintah Tokyo mengimbau pekerja memakai celana pendek guna menghadapi cuaca panas ekstrem.
-
Kebijakan pakaian santai memicu perdebatan etika kerja terkait penampilan bulu kaki pria.
-
Gelombang panas di Jepang menyebabkan ribuan orang dirawat dan membutuhkan penyesuaian fisik.
Suara.com - Pemerintah Daerah Tokyo mendorong para pekerja perkantoran meninggalkan setelan jas dan beralih ke pakaian santai seperti celana pendek. Langkah ekstrem ini diambil guna menekan dampak sengatan suhu panas ekstrem yang melanda kawasan perkantoran.
Kebijakan yang diinisiasi Gubernur Yuriko Koike lewat program "Tokyo Cool Biz" ini memicu beragam reaksi di lingkungan kerja. Kebijakan ini dianggap solusi praktis menghadapi cuaca buruk sekaligus memunculkan persoalan etika busana baru.
Sebagian pekerja menyambut positif keluwesan berbusana karena meningkatkan kenyamanan kerja saat suhu udara melonjak tinggi. Namun, kelompok wanita menyoroti ketimpangan aturan karena mereka tetap dituntut memakai kaus kaki ketat saat mengenakan rok.
Fenomena ini juga melahirkan istilah baru di ranah digital, yakni sunehara atau ketidaknyamanan akibat melihat bulu kaki rekan kerja. Keluhan tersebut menjadi topik hangat di kalangan karyawan perkantoran yang merasa risih melihat kaki telanjang pria.
Pemerintah menegaskan bahwa kelonggaran berbusana bertujuan memberikan fleksibilitas di tengah kondisi cuaca yang makin tidak bersahabat. Pendekatan ini murni solusi kenyamanan tanpa niat membatasi pilihan berpakaian individu.
"Kami ingin memberi orang-orang lebih banyak pilihan di tengah cuaca panas yang parah, bukan memberi tahu mereka apa yang harus dipakai. Seharusnya tidak ada masalah selama pakaian kerja tersebut tidak menyinggung siapa pun," ujar pejabat lingkungan Pemerintah Daerah Tokyo, Noboru Watanabe.
Survei yang dilakukan Gorilla Clinic pada bulan Juni menunjukkan bahwa 53,5 persen responden menolak penggunaan celana pendek di tempat kerja. Sementara itu, 46,5 persen sisanya menyatakan setuju dengan imbauan berpakaian lebih santai tersebut.
Kekhawatiran terhadap bentuk tubuh dan penampilan bulu kaki menjadi alasan utama penolakan dari kedua gender. Responden wanita mendominasi penolakan ini karena merasa kurang nyaman menyaksikan kaki telanjang rekan pria mereka.
Meskipun budaya berpakaian santai telah lama diadopsi oleh perusahaan perintis dan teknologi, imbauan resmi pemerintah membuat tren ini makin meluas. Kondisi tersebut memaksa sebagian pria menjadi lebih memperhatikan penampilan fisik mereka.
Baca Juga: Bukan Lagi Kejadian Langka: Suhu 41,7C Lumpuhkan Eropa dan Renggut 1.300 Nyawa
Direktur Gorilla Clinic, Akifumi Funatsu, mengungkapkan adanya peningkatan jumlah pasien pria yang melakukan perawatan pembersihan bulu kaki secara permanen. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk estetika, melainkan demi menjaga etika sosial di lingkungan kerja.
Funatsu menilai pandangan umum yang mengharuskan pria tampil bersih dari bulu kaki mendorong tren perawatan laser ini. Karyawan pria berupaya tampil rapi agar tidak mengganggu kenyamanan visual rekan kerja di kantor.
Imbauan berbusana santai musim panas ini sebenarnya pernah diusulkan Koike saat menjabat Menteri Lingkungan Hidup pada 2005. Program "Cool Biz" kala itu didukung penuh oleh Perdana Menteri Junichiro Koizumi yang konsisten tampil tanpa dasi dan jas.
Dukungan pejabat tinggi negara berhasil mengubah norma berpakaian formal yang kaku di Jepang menjadi lebih fleksibel. Kampanye tersebut kemudian diperluas menjadi "Super Cool Biz" pascabencana gempa dan tsunami Tohoku pada 2011.
Langkah perluasan aturan berbusana diambil untuk menekan konsumsi energi listrik secara masif di perkantoran maupun pemukiman. Jepang kini kembali berhadapan dengan gelombang panas rekor dan lonjakan harga energi akibat krisis global.
Badan Meteorologi Jepang menetapkan istilah kokusho-bi atau hari panas ekstrem untuk menggambarkan kondisi suhu udara yang melampaui 40 derajat Celsius. Istilah ini digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya sengatan panas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
Huawei FreeBuds 7 Resmi Meluncur, Bawa Fitur ANC AI Baterai Tahan 42 Jam
-
Ulasan Novel Membunuh Alice: Ketika Mimpi Buruk Menjadi Kenyataan
-
Ekonomi Semarang Tumbuh 6,49 Persen, LEPAS Ekspansi Pasar Mobil Listrik Premium
-
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Masih Siaga
-
25 Tahun Konflik Agraria di Jambi Tak Selesai! BAM DPR Bakal Turun dan Investigasi
-
Genap 17 Tahun Otomatis Punya Rekening, Buat Apa?
-
Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600
-
Mendagri Apresiasi Gubernur Bobby Nasution Inisiasi Pertemuan Provinsi se-Sumatera Satukan Kekuatan
-
Donal Husni Hilang Kontak Saat Liputan Krakatau, Ketua RT Ungkap Sosok dan Keseharian Sang Jurnalis
-
Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah