News / Internasional
Rabu, 22 Juli 2026 | 11:27 WIB
Pemerintah Daerah Tokyo mendorong para pekerja perkantoran meninggalkan setelan jas dan beralih ke pakaian santai seperti celana pendek. (BBC)
Baca 10 detik
  • Pemerintah Tokyo mengimbau pekerja memakai celana pendek guna menghadapi cuaca panas ekstrem.

  • Kebijakan pakaian santai memicu perdebatan etika kerja terkait penampilan bulu kaki pria.

  • Gelombang panas di Jepang menyebabkan ribuan orang dirawat dan membutuhkan penyesuaian fisik.

Data Badan Pengendalian Bencana menunjukkan tujuh warga meninggal dunia dan 4.580 orang harus dirawat di rumah sakit akibat sengatan panas. Angka fatalitas ini tercatat hanya dalam rentang waktu satu pekan pada pertengahan Juli.

Selain mengonsumsi air dan menyalakan pendingin udara, warga memanfaatkan berbagai inovasi produk penahan panas. Pakaian berpendingin dengan kipas internal, handuk basah sekali pakai, serta payung penolak sinar UV menjadi produk berpenjualan tinggi.

Para ahli dari Jaringan Akademik Jepang untuk Pengurangan Bencana menekankan pentingnya proses aklimatisasi tubuh secara bertahap. Penyesuaian fisik terhadap kenaikan suhu memerlukan waktu beberapa minggu sebelum puncak musim panas tiba.

Persiapan menghadapi gelombang panas idealnya dimulai sejak musim hujan agar risiko terserang heatstroke dapat diminimalkan. Kelembapan udara yang tinggi di Jepang menjadi tantangan tersendiri karena menghambat penguapan keringat untuk mendinginkan suhu tubuh secara alami.

Load More