News / Internasional
Rabu, 22 Juli 2026 | 15:35 WIB
Liga Super Desa China (CNN Internasional)
Baca 10 detik
  • Fenomena Liga Super Desa menjadi hiburan alternatif di tengah kemerosotan prestasi timnas sepak bola China.

  • Turnamen amatir ini efektif mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata dan UMKM.

  • Masyarakat berharap kompetisi antardesa dapat menumbuhkan kecintaan olahraga dan melahirkan bibit pemain masa depan.

Suara.com - Aksi selebrasi pemain berjersei merah yang menyiramkan sampanye di tengah guyuran konfeti menjadi pemandangan meriah di Kabupaten Fuping, China. Kemeriahan turnamen sepak bola tingkat lokal ini berlangsung riuh di tengah bentangan pegunungan Provinsi Hebei.

Kompetisi amatir bertajuk "Liga Super Desa" ini sukses memikat jutaan pasang mata di berbagai pelosok wilayah. Fenomena tersebut hadir sebagai alternatif hiburan segar saat Timnas pria China absen puluhan tahun dari Piala Dunia.

Pemain bertahan tim Baoding Lianchi yang berprofesi sebagai dokter gigi, Tong Zehao, mengaku bangga bisa bertanding di atmosfer semeriah ini.

Liga Super Desa China (CNN Indoneia)

"Berdiri di bawah sorotan lampu seperti ini—ini bukanlah hal yang biasanya berkesempatan saya alami," ujarnya, dikutip dari CNN Internasional.

Ia menambahkan bahwa belum pernah ada ajang lokal dengan sorotan sebesar ini sebelumnya.

"Sebelum adanya Village Super League, sebenarnya tidak ada turnamen (lokal) yang mendapatkan perhatian sebesar ini," ungkap Tong.

Gaya bertanding para pekerja harian yang membentuk tim lokal kini merambah ke puluhan daerah. Format kompetisi pesta rakyat tersebut berhasil menarik ribuan penonton di setiap ajang yang digelar.

Pemerintah daerah memanfaatkan gelaran sepak bola ini untuk memicu perputaran roda ekonomi lokal. Langkah tersebut diambil guna mendongkrak tingkat konsumsi masyarakat yang belakangan melesu.

Liga amatir ini sekaligus menjadi obat penawar kekecewaan pencinta sepak bola atas skandal korupsi liga profesional. Bobroknya tata kelola klub dinilai menghambat prestasi negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa tersebut.

Baca Juga: FIFA Hapus Kartu Merah Leandro Paredes Usai Cekik Bek Spanyol!

Seorang mahasiswa bernama Liu Jiaping menilai laga lokal jauh lebih menghibur daripada sekadar menyaksikan layar ponsel.

"Karena negara kita tidak lolos ke Piala Dunia, menonton pertandingan sepak bola lokal (di sini, di Kabupaten Fuping) jadi lebih menarik," ujarnya.

Ia merasa pengalaman menonton langsung memberikan sensasi sepak bola yang jauh lebih nyata.

"Datang ke sini memungkinkan kami menikmati sepak bola di negara kami—dan itu jauh lebih baik daripada hanya duduk di rumah sambil memainkan ponsel," kata Liu.

Stadion kampus vokasi lokal dipadati ribuan warga saat babak final liga Kabupaten Fuping berlangsung. Antusiasme tinggi ini terbilang luar biasa bagi daerah yang lebih dikenal sebagai penghasil buah dan kacang.

Parade pembuka menghadirkan atraksi penunggang kuda, pertunjukan seni tradisional, hingga pawai para petani dan pekerja. Anak-anak daerah turut memeriahkan acara lewat koreografi khusus yang mengangkat sejarah revolusi setempat.

Load More