News / Internasional
Senin, 27 Juli 2026 | 12:49 WIB
Ilustrasi Perang Iran Israel. Serangan Amerika Serikat ke fasilitas Nuklir Iran disebut akan memicu Perang Dunia Ketiga.
Baca 10 detik
  • AS dan Iran sepakat menghentikan serangan militer sementara demi membuka ruang negosiasi diplomasi.

  • Penurunan stok amunisi pertahanan udara Pentagon dan tekanan publik mendesak Trump mengakhiri perang.

  • Sengketa kontrol Selat Hormuz masih menjadi titik krusial perundingan keamanan antara kedua negara.

Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika meragukan efektivitas invasi militer tersebut. Koresponden Al Jazeera Rosalind Jordan melaporkan rendahnya tingkat dukungan publik terhadap kebijakan perang pemerintah.

"Jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Ipsos dan The Washington Post di AS menunjukkan bahwa hanya 29 persen responden yang meyakini presiden menangani konflik dengan Iran secara tepat, atau menyetujui konflik tersebut secara keseluruhan, sementara 28 persen menyatakan bahwa konflik itu sepadan," kata Rosalind Jordan.

"Ada banyak pertanyaan mengenai status konflik antara Iran dan AS, namun yang pasti, tekanan semakin meningkat terhadap presiden AS untuk mencari tahu: apa strategi keluarnya?" tambah Jordan.

Sengketa utama kedua negara masih berpusat pada hak kontrol jalur logistik Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi adanya kemajuan teknis dalam pengelolaan lalu lintas laut.

“Berguna, dan kemajuan telah dicapai,” jelas Esmaeil Baghaei mengenai perkembangan dialog tersebut.

Meski dialog teknis berjalan positif, ketidakpercayaan mendalam masih membayangi ingatan diplomatik Teheran. Pihak Iran menilai upaya perdamaian sebelumnya kerap dimanfaatkan musuh untuk melakukan serangan mendadak.

Sementara itu, Komando Pusat Militer AS menegaskan bahwa blokade laut terhadap armada Iran tetap berlaku penuh. Pihak militer Washington telah mencegat belasan kapal komersial yang melintasi jalur laut strategis tersebut.

Garda Revolusi Islam Iran menanggapi blokade tersebut dengan menahan enam kapal yang mencoba menerobos wilayah perairan. Insiden ledakan tanker akibat ranjau laut turut memperkeruh risiko eskalasi di Selat Hormuz.

Konflik bersenjata ini berakar dari perang terbuka yang digencarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari. Ketegangan memuncak saat Iran menerapkan kontrol ketat di Selat Hormuz berdasarkan nota kesepahaman durasi 60 hari, sementara AS menolak klaim kekuasaan tunggal Teheran atas jalur energi dunia tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 4 Persen Usai AS Stop Serang Iran 2 Malam

Load More