Otomotif / Mobil
Senin, 27 Juli 2026 | 12:39 WIB
China secara drastis memangkas impor minyak mentahnya berkat peralihan masif ke mobil listrik dan taksi listrik. Alhasil harga minyak dunia tidak naik gila-gilaan di tengah perang Amerika Serikat vs Iran. [Freepik]
Baca 10 detik
  • Konflik AS-Israel dan Iran di Teluk Persia tahun ini tidak memicu krisis minyak global yang parah.
  • China secara drastis memangkas impor minyak mentahnya berkat peralihan masif ke kendaraan listrik dan taksi listrik.
  • Peningkatan produksi minyak AS dan kelancaran pasokan Arab Saudi turut mencegah lonjakan harga minyak ekstrem.

Suara.com - Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di Teluk Persia sempat dikhawatirkan akan memicu krisis minyak global. Tapi berkat beberapa faktor, salah satunya elektrifikasi masif kendaraan di China, bencana global itu bisa dihindari - atau setidaknya diminimalisasi dampaknya.

Sebelumnya para analis memperkirakan blokade Selat Hormuz - tempat 20 persen minyak dunia diangkut - bisa membuat harga minyak mentah naik hingga 200 dolar AS per barel.

Tetapi harga minyak mentah Brent naik tak lebih dari 126 dolar AS per barel - jauh di bawah rekor harga tertinggi pada 2008 silam yang mencapai 147 dolar AS per barel.

Meski konflik yang kembali memanas, harga rata-rata minyak mentah dunia masih di sekitar 101 dolar AS per barel, dan bahkan turun k 70 dolar AS di awal Juli ini.

Mengapa harga minyak tidak melonjak gila-gilaan dan bagaimana mobil listrik China menolong dunia?

Keajaiban di negeri pengimpor minyak terbesar dunia

Dilansir dari Reuters, harga minyak dunia tidak melonjak tinggi salah satunya berkat anjloknya impor minyak China. Penting diketahui, China adalah negara pengimpor minyak terbesar di dunia.

Sebelum perang di Teluk pecah, China mengimpor sekitar 11,5 juta barel minyak per hari. Bandingkan dengan Indonesia yang mengimpor 1 juta barel minyak per hari.

Tapi sejak April, sekitar sebulan setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, impor minyak China turun menjadi 8 juta barel per hari.

Baca Juga: Mobil Listrik Mewah yang Berkeliaran di Jakarta Bakal Kena Pajak 75 Persen

Pemangkasan impor minyak itu dilakukan China dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang sangat besar.

Berkat itu, negara-negara pengimpor minyak lainnya di dunia masih bisa memperoleh jatah minyak mentah dengan lebih leluasa dan pada akhirnya membuat kenaikan harga minyak tidak terlalu tinggi.

Cepatnya China memangkas impor minyak membuat para analis heran. Mereka bertanya-tanya, apa gerangan rahasia China?

Mobil listrik

Ya, mobil listrik adalah senjata China yang sebenarnya bukan lagi jadi rahasia. Seluruh dunia tahu, sektor otomotif China kini sedang menjalani peralihan besar ke energi listrik.

Sistem transportasi China pun sudah tak bergantung banyak pada minyak bumi sementara sekitar separuh minyak mentah China yang diolah menjadi BBM.

Penjualan mobil baru di China saat ini sudah didominasi oleh mobil listrik. Pada Juni kemarin, penjualan mobil listrik sudah berkontribusi sebesar 62 persen dari penjualan mobil nasional Tiongkok. Sekitar 75 persen mobil listrik dunia diproduksi di Tiongkok.

Semakin masifnya penggunaan kendaraan listrik membuat konsumsi BBM turun.

Menurut Consultancy Rystad, sebuah lembaga konsultan di Norwegia, konsumsi bensin dan solar di China akan turun masing-masing 6,6 persen dan 6,9 persen pada tahun ini.

Taksi listrik

Senjata kedua adalah taksi dan jasa transportasi online di China juga sudah beralih ke kendaraan listrik. Menurut Kementerian Tranportasi China, separuh dari 1,3 juta unit taksi di China menggunakan tenaga listrik.

Sementara Didi, aplikasi transportasi online utama di China, mengatakan di 2025 telah menerima registrasi 2 juta mobil listrik dan hybrid. Kini total kendaraan elektrifikasi di armada Didi sekitar 8 juta unit. Mayoritas perjalanan juga disumbang oleh mobil elektrifikasi, dengan porsi 75 persen.

Greenpeace memperkirakan pada 2035 nanti porsi taksi dan mobil transportasi online listrik di China akan mencapai 90 persen.

Menurut data pemerintah China, pada Mei lalu 3,05 juta orang menggunakan taksi listrik. Angka itu tumbuh 6 persen sejak perang di Iran.

Alhasil pada bulan itu konsumsi bensin di China turun 10 persen dan konsumsi solar anjlok hingga 14 persen. Padahal pada bulan yang sama jumlah perjalanan darat naik 2 persen, apa lagi pada 1 Mei warga China merayakan liburan Hari Buruh Internasional.

Ongkos taksi listrik di China sendiri juga turun di saat harga BBM naik, akibat banyaknya unit taksi yang tersedia dan karena harga mobil listrik yang digunakan sebagai armada semakin murah.

Faktor lain

Tentu saja ada faktor lain yang menyebabkan harga minyak dunia tak naik gila-gilaan selain karena masifnya penggunaan mobil listrik di China.

Faktor-faktor itu antara lain melonjaknya produksi minyak Amerika Serikat dan semakin lancarnya aliran minyak mentah Arab Saudi lewat Laut Merah untuk mengakali blokade di Selat Hormuz.

Namun para analis menilai, faktor turunnya impor minyak China berkat, salah satunya, masifnya penggunaan kendaaan listrik memainkan peran yang sangat krusial. (Reuters/ABC/CNN)

Load More