-
Iran mencegat enam kapal yang mematikan navigasi di Selat Hormuz akibat provokasi militer AS.
-
Serangan Houthi dan blokade terhadap Arab Saudi memperlambat lalu lintas kapal di Bab al-Mandeb.
-
Harga minyak dunia turun empat persen usai Amerika Serikat menghentikan kampanye pengeboman di Iran.
Suara.com - Otoritas keamanan maritim Iran mencegat enam unit kapal asing langsung meredam potensi bahaya di kawasan perbatasan selatan Selat Hormuz.
Langkah sigap ini diambil setelah rombongan kapal tersebut terdeteksi sengaja mematikan sistem navigasi dan penentuan posisi saat melintasi jalur terlarang.
Satu dari enam armada mengalami insiden darurat, sementara sisanya dipaksa memutar balik kembali menuju kawasan Teluk.
"Penanganan seluruh kapal dilakukan di bawah pengelolaan tegas Iran," menurut laporan resmi stasiun televisi pemerintah IRIB.
Laporan media negara tersebut mengungkapkan bahwa aksi berbahaya para pelaut terjadi pada Senin dini hari waktu setempat.
Narasumber tepercaya menyebut pergerakan nekat kapal-kapal itu terpicu oleh tindakan provokasi yang dilakukan militer Amerika Serikat.
Suhu panas di perairan Timur Tengah ini merembet pada kelancaran arus perdagangan dan distribusi logistik maritim global.
Lalu lintas pelayaran di Selat Bab al-Mandeb melambat tajam pascaserangan milisi Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah.
Hambatan navigasi semakin tebal menyusul maklumat blokade laut total yang dilayangkan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.
Baca Juga: Mengejutkan! Amerika Hapus Prajurit Tewas karena Serangan Iran dari Catatan Perang Resmi, Kenapa?
Kondisi riil kelumpuhan lalu lintas kapal tersebut terkonfirmasi langsung melalui rekaman data analitik komoditas Kpler.
Di sisi lain, dinamika geopolitik menunjukkan sinyal mereda setelah Gedung Putih menghentikan operasi pemboman selama dua pekan di Iran.
Keputusan penangguhan serangan udara oleh Amerika Serikat ini memicu penurunan harga minyak mentah dunia hingga empat persen.
Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb merupakan dua urat nadi utama distribusi pasokan energi serta komoditas pelayaran dunia.
Gesekan militer di wilayah strategis tersebut senantiasa memicu gejolak harga minyak global dan mengancam keselamatan pelayaran internasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Terkini
-
6 Kapal Dicegat Iran di Selat Hormuz Senin Pagi, Matikan Sistem Navigasi
-
A Painted House: Kisah si Kecil Luke dan Takdir yang Tak Selalu Memihak
-
Tito Karnavian Minta Persetujuan Anggaran Rehab-Rekon Sumatera Dipercepat
-
Dari Lelucon Erotis hingga Arisan Valas: Sisi Lain Kaum Borjuis Tempo Dulu
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai, Bawang, Beras hingga Daging Kompak Naik, Tekan Daya Beli Masyarakat
-
Bagaimana Mangrove Membantu Nelayan Kuri Caddi Bertahan di Tengah Cuaca Ekstrem?
-
Kaesang Masuk 'Kandang Banteng' di 2029: Siapa Lebih Kuat, Figur Jokowi atau Mesin PDIP?
-
Sebanyak 69,5 Persen UMKM Kesulitan Akses Pembiyaan Perbankan, Ini Faktornya
-
Ulasan Film Smile 2: Sekuel Paling Mencekam dengan Nuansa Horor yang Pekat!
-
Fakta Baru di Sidang Pencemaran Nama Baik Heni Sagara: Pabrik Pernah Disegel dan Izin Kedaluwarsa